Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Sastra yang melembutkan hati, keseimbangan jiwa dan Andrea Hirata.

Kuberitahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dari perjalanan menggapainya

(Andrea Hirata–Maryamah Karpov)

Minggu lalu nonton ulang Film Laskar Pelangi di TV, jadi rindu baca novel. Lamaaa banget aku gak baca-baca novel lagi. Kalau baca macam-macam sih harus setiap hari, membaca bagiku adalah kebutuhan dan relaksasi.

Sejak kecil aku kegilaan membaca novel, mungkin sudah ratusan novel dalam dan luar negeri yang aku baca. Baca novel, khususnya sastra, sesuatu banget bagiku. Kalau kata temanku sastra itu melembutkan hati. Jadilah aku baca ulang lagi novel Laskar Pelangi, baru Buku ke-1 sih ya, dan nggak seperti dulu aku bisa menamatkan satu novel setebal 500 halaman lebih hanya satu hari…sekarang belum separuh sejak beberapa hari lalu, waktunya sempit, mataku juga nggak tahan lagi lama-lama memelototi huruf.

Kalau baca tulisannya Andrea Hirata, rasanya tak mau melewatkan satu hurufpun, menurutku, dia satu-satunya penulis Indonesia yang paling ajaib cara menulisnya, bisa bikin ketawa sendiri, haru-biru, puitis, romantis, kadang diam-diam sabak mataku. Setiap kata adalah makna yang berharga…wuih segitunyaaa. Memang aku ngefans berat pada caranya menulis, kelihatan kalau penulis ini cerdas dan punya pengetahuan yang luas plus rasa sastra yang tinggi. Walaupun pada keterangan di novelnya disebut dengan “Cultural Literary Non-fiction”, entahlah kenapa disebut begitu.

Aku sering mengingatkan anak-anakku agar mau membaca novel dan/atau karya sastra yang bermutu, ketiga anakku malas membaca novel, sukanya baca komik, nge-game dan nonton film. Walaupun mereka baca novel klasik (pengertiannya yang dicetak, bukan e-book), nggak tamat-tamat tuh bacanya. Kalau kata si Sulung zamannya sudah beda, anak-anak sekarang bukunya e-book, electronic book. Baca-bacanya di gadget. “Lha mama juga tau kaleee,” kataku. Walaupun kalian berasal dari Generasi Z dan mama dari Generasi X, gak ketinggalanlah. Malah kami lebih beruntung dapat menikmati sekaligus perkembangan teknologi mulai dari TV hitam putih, kamera yang pakai film, mesin ketik yang kalian tidak mengenalnya, dsb yang kuno-kuno. Sedangkan kami beruntung juga bisa menikmati era digital, cyber, internet sekarang ini. Baca karya fiksi itu nak, kataku, mengembangkan imajinasi lebih daripada nonton, beda dengan nonton film, ada efek “buzz” ke adrenalin dan hormon endorfin, serotoninmu,dsb.

Kalau dari novel-novelnya Andrea Hirata, aku merasakan sekali indahnya petualangan di alam, ini yang sering aku “hasut-hasutkan” kepada anak-anakku, hiduplah dengan seimbang nak, antara dunia digital dan alam sekitar yang indah, menenangkan batin. Aku mau mereka mencintai alam, seperti ortu-nya ini yang betah sekali di hutan rimba ataupun kampung-kampung yang sepi. Mengingatkan akan yang empunya alam, Allah Sang Maha Indah.

Intinya, hidup itu harus seimbang, jangan tenggelam dengan teknologi digital saja, bacalah juga karya-karya sastra bermutu, yang belum ada e-booknya di perpustakaan konvensional, atau darimanalah. Walaupun buku memerlukan pohon untuk membuatnya, buku-buku bermutu menyumbang banyak untuk perbaikan generasi. Ilmu coy, ilmu! Bukankah ilmu menggairahkan? Buku juga memperkaya jiwa. Jadi nggak sia-sia pohon mengorbankan dirinya.

Untuk anak-anak Mama tercinta;
Bang Ufi, Bang Uqan, Adek Naysa serta Pencinta Sastra & Alam.

PondokCinta Darussalam, 21 September 2016
Tulisan lamaku tentang Andrea:
https://putirenobaiak.wordpress.com/2008/12/10/cinta-gila-dan-mimpi/
http://putirenobaiak.blogspot.co.id/2008/09/andrea.html


Tinggalkan komentar

Yuyun, hatiku luluh lantak.

Hukum mati. Hanya itu yang pantas menurutku untuk pelaku kejahatan seksual dan pembunuhan terhadap anak dan ataupun bukan anak. Duh, Ya Allah, Ya Malik, hanya nama Tuhan yang mampu disebut, entah apa kata-kata yang tepat untuk pelaku kejahatan semacam ini, setan?! Bukan orang kayaknya mereka. Nauzubillahiminzalik…

Sejak kemarin setiap buka channel TV, pas lagi penayangan kejahatan seksual yang menggila di negeri ini, mulai dari investigasi di Metro TV, Curhatan Perempuan di TransTV tadi pagi (tentang Yuyun–semoga kamu sudah bahagia di sana nak). Dan sekarang lagi nulis ini (18 Mei) di Mata Najwa.

OMG! Ngerinya negeri ini, duhai pengemban amanah negeri ini, bangunlah, bangunlah! Apa yang terjadi dengan negeri tercinta ini? Anak-anak dibawah umur, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, lalu memperkosa dan membunuh. Alangkah rusaknya masa depan Anak Bangsa. Di acara investigasi kemarin aku lihat warung tuak yang menjual tuak ke pemerkosa Yuyun sudah tutup, eh malah yang lainnya masih buka, dan ada anak ABG yang beli (ditayangkan seperti itu). Rasanya mau menjerit ngeliatnya, kemanaaa kaliaan, kenapa aparat desa nggak nutup saja sih warung-warung itu? Biasa saja ya kejadian itu?

“Luluh lantak hati, melihat kasus perkosaan terhadap Yuyun,“ kata psikolog yang jadi Narasumber acara Curhatan Hati Perempuan di Trans TV pagi tadi. Kalau hati orang-orang yang melihat berita ini saja bisa luluh lantak, bagaimana ya hati orangtua Yuyun, keluarganya? Aku sendiri juga berlinang-linang waktu dengar cerita Ibunya Yuyun. Begitu juga hati keluarga korban lainnya. Rasanya pengen meledak dengan kasus-kasus lainnya di Manado, Kediri, Bogor, dll. Bisanya manusia memperkosa bayi! Masih juga terbayang kejadian di sekolah International beberapa waktu lalu. Semua biadab!

Presiden bilang ini Kejahatan luar biasa. Kemudian berjanji akan membuat segera Perppu tambahan seperti kemungkinan kebiri kimia, pemasangan chip, tambahan hukuman, rehabilitasi, psikososial terapi, dsb. Semoga benar-benar dilakukan. Bagi aku sebagai orang tua, Ibu, ini bukan lagi darurat, sekarat sudah korban-korban yang masih hidup, raganya-jiwanya hancur, dan akan korban bagaimana nanti? Aku harap kejahatan ini benar-benar serius diatasi dan berhenti. Ada pembinaan untuk anak-anak yang sudah terlanjur menjadi “monster”.  Kata aktivis anak, yang paling mencemaskan adalah kurangnya pembinaan terhadap anak-anak itu nanti di Lembaga Pemasyarakatan (namanya sekarang dah berubah ya?). Alih-alih jadi baik, malah keluar nanti jadi semakin brutal.

Banyak pro-kontra tentang pilihan-pilihan hukum itu, aku sendiri orang awam hukum, hanya sebagai Muslim aku yakin hanya hukum Allah yang bisa adil untuk pelaku. Qishash, nyawa untuk nyawa, dsb. Bagaimana hukuman 10 tahun, 20 tahun saja? Dari Media aku baca/lihat, banyak yang mengatakan hukum pelaku seberat-beratnya. Sebenarnya sih hukum itu harus adil, tapi kalau hukum yang ada masih ringan, bagaimana masyarakat nggak bilang pelaku harus dihukum seberat-beratnya?

Akhirnya, sebagai Ibu, orangtua, aku hanya bisa berikhtiar dan berdoa untuk anak-anakku dan anak-anak Bangsa ini. Lalu mentawakalkan padaNya. Sambil sering-sering mengajak anak berkomunikasi, berdiskusi dan menginformasikan tentang hal ini kepada mereka. Juga mencegah mereka agar tak terlibat pornografi, kekerasan, narkoba dsb., tsb. Aku sejujurnya jadi sangat parno (paranoid), katanya sih mereka para pemangsa anak-anak (laki-laki, perempuan) bukan disana di tempat yang jauh, tapi ada di sekitar kita, bisa siapa saja. Ya Allah, Ya Salam, semoga Engkau selamatkan kami anak-anak kami, masa depan Bangsa ini…

PondokCinta Darussalam, 18-19 Mei 2016

*tadi malam lagi nulis mati listrik, sambung siang ini.

 


1 Komentar

Cerita senja, meski itu-itu saja, adalah cinta

Aku yang tak bosan dengan senja memerah
memandangimu dan langit menjingga

senyum semringah

mengagumi kilau sayap bangau yang melintas indah di atas kita
sedari dulu

“Formasi mereka dikacaukan angin, ” katamu.

kemudian mereka bersatu kembali
menuju satu tuju: pulang
ke arah mentari tenggelam
dimana malam merenda mimpi buat esok hari
memulihkan energi
di mana cinta berdiam

Catatan senja, Krueng Cut, 17 Januari 2015