Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Yuyun, hatiku luluh lantak.

Hukum mati. Hanya itu yang pantas menurutku untuk pelaku kejahatan seksual dan pembunuhan terhadap anak dan ataupun bukan anak. Duh, Ya Allah, Ya Malik, hanya nama Tuhan yang mampu disebut, entah apa kata-kata yang tepat untuk pelaku kejahatan semacam ini, setan?! Bukan orang kayaknya mereka. Nauzubillahiminzalik…

Sejak kemarin setiap buka channel TV, pas lagi penayangan kejahatan seksual yang menggila di negeri ini, mulai dari investigasi di Metro TV, Curhatan Perempuan di TransTV tadi pagi (tentang Yuyun–semoga kamu sudah bahagia di sana nak). Dan sekarang lagi nulis ini (18 Mei) di Mata Najwa.

OMG! Ngerinya negeri ini, duhai pengemban amanah negeri ini, bangunlah, bangunlah! Apa yang terjadi dengan negeri tercinta ini? Anak-anak dibawah umur, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, lalu memperkosa dan membunuh. Alangkah rusaknya masa depan Anak Bangsa. Di acara investigasi kemarin aku lihat warung tuak yang menjual tuak ke pemerkosa Yuyun sudah tutup, eh malah yang lainnya masih buka, dan ada anak ABG yang beli (ditayangkan seperti itu). Rasanya mau menjerit ngeliatnya, kemanaaa kaliaan, kenapa aparat desa nggak nutup saja sih warung-warung itu? Biasa saja ya kejadian itu?

“Luluh lantak hati, melihat kasus perkosaan terhadap Yuyun,“ kata psikolog yang jadi Narasumber acara Curhatan Hati Perempuan di Trans TV pagi tadi. Kalau hati orang-orang yang melihat berita ini saja bisa luluh lantak, bagaimana ya hati orangtua Yuyun, keluarganya? Aku sendiri juga berlinang-linang waktu dengar cerita Ibunya Yuyun. Begitu juga hati keluarga korban lainnya. Rasanya pengen meledak dengan kasus-kasus lainnya di Manado, Kediri, Bogor, dll. Bisanya manusia memperkosa bayi! Masih juga terbayang kejadian di sekolah International beberapa waktu lalu. Semua biadab!

Presiden bilang ini Kejahatan luar biasa. Kemudian berjanji akan membuat segera Perppu tambahan seperti kemungkinan kebiri kimia, pemasangan chip, tambahan hukuman, rehabilitasi, psikososial terapi, dsb. Semoga benar-benar dilakukan. Bagi aku sebagai orang tua, Ibu, ini bukan lagi darurat, sekarat sudah korban-korban yang masih hidup, raganya-jiwanya hancur, dan akan korban bagaimana nanti? Aku harap kejahatan ini benar-benar serius diatasi dan berhenti. Ada pembinaan untuk anak-anak yang sudah terlanjur menjadi “monster”.  Kata aktivis anak, yang paling mencemaskan adalah kurangnya pembinaan terhadap anak-anak itu nanti di Lembaga Pemasyarakatan (namanya sekarang dah berubah ya?). Alih-alih jadi baik, malah keluar nanti jadi semakin brutal.

Banyak pro-kontra tentang pilihan-pilihan hukum itu, aku sendiri orang awam hukum, hanya sebagai Muslim aku yakin hanya hukum Allah yang bisa adil untuk pelaku. Qishash, nyawa untuk nyawa, dsb. Bagaimana hukuman 10 tahun, 20 tahun saja? Dari Media aku baca/lihat, banyak yang mengatakan hukum pelaku seberat-beratnya. Sebenarnya sih hukum itu harus adil, tapi kalau hukum yang ada masih ringan, bagaimana masyarakat nggak bilang pelaku harus dihukum seberat-beratnya?

Akhirnya, sebagai Ibu, orangtua, aku hanya bisa berikhtiar dan berdoa untuk anak-anakku dan anak-anak Bangsa ini. Lalu mentawakalkan padaNya. Sambil sering-sering mengajak anak berkomunikasi, berdiskusi dan menginformasikan tentang hal ini kepada mereka. Juga mencegah mereka agar tak terlibat pornografi, kekerasan, narkoba dsb., tsb. Aku sejujurnya jadi sangat parno (paranoid), katanya sih mereka para pemangsa anak-anak (laki-laki, perempuan) bukan disana di tempat yang jauh, tapi ada di sekitar kita, bisa siapa saja. Ya Allah, Ya Salam, semoga Engkau selamatkan kami anak-anak kami, masa depan Bangsa ini…

PondokCinta Darussalam, 18-19 Mei 2016

*tadi malam lagi nulis mati listrik, sambung siang ini.

 


1 Komentar

Cerita senja, meski itu-itu saja, adalah cinta

Aku yang tak bosan dengan senja memerah
memandangimu dan langit menjingga

senyum semringah

mengagumi kilau sayap bangau yang melintas indah di atas kita
sedari dulu

“Formasi mereka dikacaukan angin, ” katamu.

kemudian mereka bersatu kembali
menuju satu tuju: pulang
ke arah mentari tenggelam
dimana malam merenda mimpi buat esok hari
memulihkan energi
di mana cinta berdiam

Catatan senja, Krueng Cut, 17 Januari 2015


Tinggalkan komentar

Satu

 

Kadang masih saja aku merasa asing di jalan ini Ya, Rabb

hingar bingar, riuh rendah, suarasuara

aku terdera

berdiam dalam sendiriku

tak ingin ada di antara mereka

salahkah jika ku merasa tak berada dalam frekwensi yang sama

arah berbeda

jalan serupa, tujuan yang entah

 

Kini inginku tuju satu

Kau saja

bebaskan aku dari dera, rasarasa merupa gundah,

resah gelisah

sesak segala risau

Sempit seluruh sempit

lapangkan, lepaskan, bebaskan…

agar ada, tiada, mereka bagiku sama saja

asal Kau senantiasa ridha atas cinta, segala cinta

Kuserahkan pada Engkau Maha Cahaya

 

PondokCinta, Darussalam—17 Desember 2015

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.