Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


2 Komentar

Yang tak mampu kunyatakan

ia, rasa
yang tak mampu kunyatakan
dalam segala bentuk
kerinduan, kepedihan, penyesalan, sebab belum bisa bahagiakanmu
tak mampu kusketsakan perihnya damba
bahkan dalam bayanganpun tiada wujudnya
kecuali doa-doa yang kupohonkan kepada
Maha Cinta
agar senantiasa datang menemuimu di sana
karena cinta sesungguhnya tak pernah berpisah
semoga perkenanNya
memberi rahmat, kasihsayang, kelapangan, cahaya, keindahan, wewangian
di rumahmu di barzakh, Ibu.

 

PondokCinta, Darussalam, 10 April 2015


2 Komentar

Elang

aku ingin laksana elang
sabar menerima semua takdir
tabah menunggu waktu menyembuh semua luka
ikhlas menerima duka
sebagai suratan tangan yang telah Kau rancang indah untuk hambaMu

menikmati setiap kesakitan yang mesti ada

agar menjadi kuat lagi

tawakal mengumpul semua energi

tuk tumbuhkan gairah baru

menggapai lagi mimpi-mimpi
semangat untuk tetap melangkah

dalam syukur yang indah

 

*Ketika masih saja ada kesedihan setiap mengenang Ibuku yang telah dipanggil ke haribaanNya.

 

TENTANG ELANG:

DARI SITUS: http://lulukeko.blogspot.com/2011/10/perjuangan-hidup-sang-elang.html

…….

Ada sesuatu yang spesial dari siklus hidup burung elang. Elang memiliki umur paling panjang diantara burung – burung lainnya. Umur elang bisa mencapai 70 tahun untuk satu masa siklus hidupnya. Namun, untuk mencapai umur itu, elang membutuhkan perjuangan yang sangat berat di umur 40 tahun.

Di usianya yang ke – 40, situasi ini sangat berat bagi sang elang, dia hanya memiliki dua pilihan, MATI atau BERTAHAN menghadapi penderitaan untuk menjalani proses perubahan selama hampir 150 hari.  Saat itu, cakarnya yang tajam berubah menjadi keras dan kaku. Hal ini tentu menyulitkan sang elang saat dia memegang mangsa yang hendak dimakan. Dia sudah tidak bisa lagi mencari mangsa dengan optimal. Padahal selama ini, dia tidak pernah mengalami kendala berat untuk memegang mangsanya.

Paruhnya yang kuat dan tajam berubah menjadi panjang dan bengkok hingga menyentuh dada. Tidak hanya itu, kedua sayap yang selama ini dia gunakan untuk terbang, kini mulai menua. Dia tidak bisa terbang dengan baik karena bulunya memanjang dan menebal sehingga menjadi beban berat sang elang untuk terbang.

Proses ini mengharuskan elang untuk terbang ke puncak gunung, hanya duduk di bebatuan di tebing yang curam. Dia memukul – mukul paruhnya pada batu, berusaha sekuat mungkin agar paruh lamanya segera terlepas. Setelah paruhnya terlepas, sang elang harus menunggu paruhnya yang baru tumbuh.

Tak cukup disini, setelah paruhnya kembali dia menggunakan paruhnya untuk mecopoti kukunya satu persatu. Ketika kukunya sudah terlepas dan menunggu kuku yang baru tumbuh, dia harus segera merontokkan bulu – bulu sayapnya. Dia mencabut satu persatu bulunya lalu menunggu bulunya tumbuh kembali. Akhirnya, setelah lima bulan dia terlahir kembali sebagai sang elang dengan kemampuan terbang dan hidup barunya seperti sedia kala untuk hidupnya selama 30 tahun ke depan.

Sungguh berat perjuangan sang elang jika dia menginginkan hidupnya berlanjut. Hal ini patut dijadikan motivasi untuk hidup. Hidup perlu perjuangan, jika kamu tidak berjuang maka kamu tidak akan bisa melanjutkan hidup. Ada yang bilang, hidup itu pilihan. Kadangkala kita dihadapkan pada pilihan – pilihan yang sulit. Namun, diantara pilihan itu, kita harus menentukan satu pilihan untuk hidup kita, meskipun kita akan melewati masa – masa berat karena pilihan tersebut. Jangan pernah sekalipun berhenti berjuang. Karena dibalik perjuangan berat, kita akan menemukan suatu hal yang luar biasa. Setitik perjuangan akan tetap memberikan manfaat pada setiap yang berjuang.

link yg lain (bagus): http://www.slideshare.net/lilikhidayatsetyawan/transformasi-diri-elang-lilik-hidayat-s


Meninggalkan komentar

Hikmah, hakikat dan syukur

Alhamdulillah, kembali bisa menelusuri  jalanan sepi pagi di sekitar kampus Unsyiah. Berjalan lagi di bawah naungan popon-pohon cemara, mahoni dll, sambil menghirup aroma daun dan wangi kembang tanjung. Tanah menguning oleh guguran daun-daun trembesi, aroma kemarau mulai terasa. Pagi begini, masih sejuk, tapi siang nanti mungkin akan sangat panas.

Aku mendisiplin diri (memaksa) diri untuk rutin olahraga belakangan ini, sudah ada warning untuk kesehatan. Dan menikmati udara yang  masih bersih, tempat kesukaanku adalah seputaran perumahan dosen yang asri, bersih dan banyak pohon-pohonnya. Kalau keluar agak siang sebab kesibukan mengurus RT, aku memilih berjalan ke arah sawah-sawah sedikit ke luar kampus, kalau di kampus jam 07.30 pagi pasti sudah ramai.

Berjalan sendirian sambil bertemu banyak hal, membuatku berpikir dan selalu mengingatkan diri untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmatNya. Ketika sehat kita lupa bahwa kita bisa sakit, ketika berada, lupa ada saat tidak ada, dsb. Aku sering bertemu seorang Ibu yang berjuang untuk berjalan kaki dengan tongkat, sepertinya latihan setelah mengalami stroke. Melihat begitu, baru ingat betapa besar nikmat Allah masih memberi kaki yang kuat untuk berjalan. Kalau mau merenung banyak hikmah yang Tuhan tunjukkan dimana saja, namun aku, kita, sering lupa.

Tuhan memberi karunia dan nikmatnya dalam setiap nafas, udara yang gratis, triliunan sel yang sehat, seluruh jiwa raga yang sehat, dsb,…Bagaimana kalau tiba-tiba beberapa sel berubah sifat jadi ganas? Kaki keram nggak bisa jalan? Pernah Tuhan menegurku dengan sakit yang tiba-tiba dulu, waktu merasa sehat sekali, sampai aku bilang; “heran kok aku nggak pernah flu ya?”  Aku salah makan sedikit, diare, dalam waktu singkat dehidrasi dan masuk UGD jadinya :(…Tuhan tentu tak suka ada kesombongan pada hamba seperti aku. Ampuni Ya Ghafur.. Ingatkanlah senantiasa Ya Rabb, agar selalu bersyukur padaMu, begitu banyak pelajaran hidup yang Kau berikan padaku, semoga terbuka nurani untuk menyerapnya.

Catatan pagi, PondokCinta, Darussalam–23 Maret 2015

Lagi mood dan kangen menulis…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.