Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Senyap

Senyap

Masih sesak rasa, pekat damba
kubawa ke gelap, senyap
di jalan ini lindap, redup

Merambat kelam
biarlah tenggelam
dalam sepi tersunyi
kudus, suci

Kubiarkan nada-nadamu di kepala, menjalari sukma
nikmati perihnya renjana
dideramu, rindu

Bukankah telah kupilih
jalan cahaya
meski luka-luka di batin, sesak jiwa
meredam inginku
asal Engkau ridha, kugapai inginMu
meraba-raba arahMu
jalan cintaMu, jalan cintaMu…Maha Kasih

Terangi kelam jalan yang
terhijab dosa-dosa
hasrat menyesat
rasa menggelora
padamlah
oleh cahaya

PondokCinta Darussalam, 14 Maret 2017

Iklan


Tinggalkan komentar

Padang perjalanan…

Usai subuh menapakkan kaki, kucoba mengusir resah gelisah sepi tersepi. Memandang langit yang perlahan memburatkan jingga, indah sesungguhnya, tapi masih saja sulit untuk tersenyum. Kehilangan terbesar dalam hidupku, mungkin ini benar sebenar rasa, sakit tak berupa tak bersuara.

Bangau-bangau terbang di atasku, dengan formasi segitiga, sama seperti langit pagi di rumah cinta di Aceh, namun masih saja, hati tak mencerah. Siluet bukit barisan berlapis, hijau sawah-sawah, indah sesungguhnya…namun….

Demikian, pagi demi pagi kuhabiskan mencoba melupakan luka duka, tapi bibir tak sengaja melantunkan lagu Ibu (Iwan Fals), padahal kau  tak lagi berjalan, telah berhenti, pada perhentian terakhir dunia, menuju Sang Maha cinta. Menanti seruan abadi nanti, di sana, di barzakh.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…
Ibu
Ibu
Huwaaaa huwaaa huwaaaa

Dan malam adalah yang terberat, ketika berdua saja di rumah dengan papaku yang kehilangan Ibuku, kelam terkelam, hanya lantunan doa-doa dan ayat-ayat cinta mengurangi sembilu di hati.

Mudah memberi saran orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri. Seperti yg pernah kukatakan pada sahabatku; “hanya waktu yang bisa mengurangi kesedihan akan kehilangan, ikhlas dan sabar menerima takdir, sebab takdir milikNya yang diputuskan dengan haqNya, dengan rahman dan rahim Sang Cinta…”

 

*Dari Padang ke Aceh, sebulan sudah kuhabiskan di kampung halaman usai pemakaman Ibu.

Medan, 20 Maret 2015

 

 


4 Komentar

Palestina–Bumi Cinta

sajak yang terhenti subuh tadi

sesak di hati

sabak di mata

kuteruskan siang ini

benak mendidih

jantung memerih

jiwaku pedih

mengapa kebiadaban tak mampu dihentikan?

padaMu Ya Rahman, Ya Rahiim

kami  panjatkan harap

cintaMu luas tak berbatas

*************

Menyabak mata, kudengarkan lirih lagu Michael Heart pagi ini…nggak sanggup meneruskan puisi yg kutulis subuh tadi.

Mari kirimkan doa dan alfatihah untuk Sdr kita di Palestina, dan aktivis yang berjihad…lakukan yg mampu dilakukan…(status FB ku).

Ya Ghaffar, ampuni aku berprasangka padaMu, karena belum membebaskan saudaraku di Palestina. Kebodohanku…KehendakMu tak mampu kubaca.

Jadi ingat Bumi Cinta-nya Kang Abik yang kuselesaikan beberapa waktu lalu, yang didalamnya ada kisah Linor, seorang pemain biola yang akhirnya diketahui sebagai agen rahasia Mossad  yang menjadi teman seapartemen Ayyas. Dari kisah hidup Linor, diketahui bahwa dia ternyata aslinya adalah bayi Palestina dari Ibunya yang syahid, seorang relawan dokter bernama Salma. Salma yang wafat pada peristiwa pembantaian Zionis terhadap muslim Palestina di Sabra dan Sathila. Hati memerih membayangkan biadabnya Zionist. Ya Aziz, izinkanlah agar paham zionist segera berakhir dari muka bumi ini…

Tulisan lamaku tentang Palestina.

Tulisan terbaru yang menyadarkan dari relawan yang ikut kafilah Freedom Flotilla.