Kutulis ini sambil menyenandungkan “It’s my life”-nya Bon Jovi. Sekalian deh ku upload videonya disini.
Sengaja ku tulis catatan ini buat teman-teman, gank lamaku sejak SMP, HAMMY ANGELS yang baru ketemuan lagi di facebook; kunyux yang manis Meimei Fong dan Yensharti (sayang Henny belum bikin FB), fren + dunsanakku; dr. Eric aka Novrizal M.Noer, gank di Sastra Inggris Unand; Eva, Vera Setyanita, Vera Djambek, Yg non-gank; my buddy Anti, Anto, Ratna, Melati, dsb….(yg gak online gak aku sebut yah). Buat teman-teman dari kota tercinta Padang Panjang mulai dari SD-SMA Papa yang excellent (SMA kami insya Allah selalu yang terbaik di SumBar sejak doeloe), Arman, Adek Dasriel, Indra, Desi, Veto, Bear, Vivat, Dedi, dan semuanya deh. Especially juga pencinta hutan, Pak EWA, Yuree, Mozes, Uur, Lang, Wi3nd, rekan-rekan ex Dumez-Impregilo, mbakku yang manis mbak Christine Buchli, Dolly, dll, banyak banget kalau ditulis semua, maaf buat yang terlupa. Ini jawaban buat teman-teman yang bertanya apa sih sebenarnya pekerjaanku?

Ada yang mengira aku ini penjinak gajah, ada yang manggil Madam Elephant, ada yang menyangka sok aktivis hehe…ada yang menyangka orangutan (nah hampir benar!).
Sebenarnnya sih aku nggak kerja, hanya ecek-ecek jadi adventurer, memenuhi mimpi waktu kecil, suka jalan-jalan di alam. Cita-cita yang nggak kesampaian jadi Arkeolog agar bisa keliling dunia…Kalau di Timku sih, aku ini bukan siapa-siapa, apalagi kalau dihubungkan dengan aktivitas menjaga hutan (Tim Patroli) aku hanya anak bawang. Aku nggak pernah ikut patroli karena aku Tim Edwar. Siapa itu Edwar? Selingkuhankah? xixixi….:))
Nah jadi gini (kok susah ya…), aku bergabung di Fauna & Flora International sejak tahun 2000
(sila baca link FFI) di Aceh, bolak balik ke Medan, bekerja untuk Tim Gajah, Sumatran Elephant Conservation Programme alias Program Konservasi Gajah Sumatera (FFI-SECP), dengan gajah sebagai ‘bendera’, tujuannya adalah melindungi gajah Sumatera dan habitatnya. Salah satu project/program di FFI-SECP ini adalah Conservation Response Unit yang bekerja dengan 5 aktivitas utama; Capacity building, Forest patrol & monitoring, Community outreach, Human-elephant conflict mitigation, Ecotourism support…nggak usah di translate yah, dah pada tau kalee. Aku pernah di bagian Admin, 3 tahun belakangan bertanggung jawab pada Divisi Edwar alias Education & Awareness, yakni pelaksana poin Community Outreach, memberikan pendidikan dan penyadartahuan konservasi pada masyarakat.
Bertanggungjawab mendesain program, menyiapkan material seperti Panduan Pengajaran, Kurikulum lingkungan, implementasi, evaluasi dan pelaporan. Dan turun juga ke lapangan. Bersama Tim Gajah, kami ke lapangan melakukan/memberikan pendidikan lingkungan di desa-desa sekitar hutan areal kerja FFI-SECP, kadang-kadang jadi guru, jadi trainer, kadang-kadang jadi interpreter, dsb. Lokasi kerja Timku Aceh, Seblat dan Sumut. Sementara timku melakukan patroli hutan dengan memberdayakan 7 gajah jinak dan mahout dari BBKSDA NAD, di samping Tim Mobile yang tidak bergajah, tapi lebih merupakan Tim bergerak yang ‘siluman’ khusus menangani forest crimes (kejahatan terhadap hutan). Teman-teman dari Forum Mahout Sumatera sepakat memakai kata ‘mahout’ sebagai pengganti kata ‘pawang’ yang konotasinya lebih ke mistik, sementara mahout adalah perawat gajah yang keterampilannya diperoleh dari latihan dan belajar. Selain menjaga hutan, Timku juga menangani konflik manusia-gajah, yakni jika ada gajah yang masuk kebun (padahal sebenarnya manusia yang mengambil rumah gajah sih!), tim berusaha menghalau mereka kembali ke hutan, melakukan upaya pengurangan konflik, pencegahan dsb, kalau di detail bisa 1 buku! Selain itu gajah patroli kami bisa mendukung kegiatan Ekowisata, seperti di Tangkahan yang masyarakatnya sadar menjaga hutan dari semula illegal loggers, yang fantastik berubah jadi pencinta-pelaku konservasi.
Dengan fasilitas yang terbatas, kami melakukan program semaksimal mungkin. Teman-teman mahout inilah yang sering mendampingiku ke sekolah. Seperti kemarin, aku dan Cece naik sepeda motor, melalui jalanan desa yang berbatu, tanah, panas berdebu hingga aku harus menutupkan jilbab ke mulut seperti cadar menghalangi debu yang tebal beterbangan. Di musim hujan jalanan ini becek dan licin, kadang malah banjir sampai 2 meter, apalagi kalau melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah terpencil, medannya lebih sulit lagi, naik turun bukit, berbatu, licin,terjal, menyeberang sungai dengan rakit, dsb. Walaupun senang di lapangan, aku juga harus membagi waktu untuk di kantor memelototi monitor, berkutat dengan huruf-huruf dan angka, karena tanggung jawab sebagai penanggungjawab program. Aku tetaplah seorang Ibu yang mempunyai dilema, tak bisa meninggalkan keluarga lama-lama. Padahal ‘gatal kaki’, ingin banget ikut patroli, dan sulit bagiku waktunya, karena itu bisa berhari-hari. Kadang aku di lapangan sampai lebih 2 minggu, namun punya tugas lain ke desa-desa. Rekan-rekan yang macho itu biasanya memberikan kemudahan padaku agar tak usah ikut jalur yang berat-berat amat, akupun sadar bukan saatnya sok-sokan, dah tuek! lagian mereka mau dilawan? Orang utan! Bos-e gajah semua hehe…:D
Bonus atau hadiah dari aktivitasku adalah sesekali masuk ke dalam hutan kalau ada kegiatan dengan dengan masyarakat, anak-anak, dsb untuk trekking, reboisasi di areal yang kritis, atau sekedar mendampingi tamu yang ingin menikmati The Hidden Paradise. Menikmati indah hutan hujan, bagaimana paru-paru dunia ini menghasilkan udara buat bumi! Mengagumi kanopi, pohon-pohon besar kecil yang berebutan menjulang mencari sinar matahari….terpesona melihat ribuan jenis flora, liana yang membelit dengan indah, jamur, bahkan ribuan pacet yang melentik di kaki yang terbenam di empuk lantai hutan yang terbuat dari dedaunan, terasa indah! Hal menyenangkan lainnya adalah menikmati sungai yang jernih, main-main dan mandi dengan *7 gajah jinak baik hati di CRU, tapi tugas utamaku adalah memberikan Pendidikan dan Penyadartahuan Konservasi di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan.
Kemarin sempat membelai-belai perut Olive, gajah kecil yang kemungkinan besar sedang hamil (lha kecil2 kok hamil?!), belum pasti karena kami tak punya alat USG gajah yang mahal amat, hanya dari ciri-ciri fisiknya kelihatan….kata teman-teman dah diperiksa Pak Chris, veterinarian dari Vesswick. Hehe lucu banget teman-teman mahout bercanda; “Bu Mer Olive Hamil tuh, yang susahnya nggak tahu siapa Bapaknya?! Hehe…”, sambil menyebutkan nama-nama anggota tim yang semuanya cowo! Xixixi
. Ada Theo sih, satu-satunya pejantan tangguh, tapi Syaddat, tusker giant dari Aceh pernah juga sih berkunjung beberapa bulan lalu, nah lho!
So that’s my life friends! Let’s go green, give loves to our beloved mother earth, save this planet for next generation future! Hutan dan bumi milik anak-anak masa depan. Mari bergaya hidup cinta lingkungan, ah kau pasti tahulah macam mana itu!
NOTES:
*7 gajah jinak CRU (Conservation Response Unit) Tangkahan:. Eva, 2. Ardana, 3. Agustine, 4. Yuni, 5. Sari, 6. Olive, 7. Theo. CRU juga ada di Seblat, Bengkulu, dan Aceh di Mane, Ajay, dsb….
**Males nge-link site teman2, sori ya, cape koneksi tulalit.
Picassa rada error kalau upload dr kompie suka double malah multiple yah
, jadi belum selesai upload foto-fotonya.
****related link kerjaanku dg mitra
RumahCinta, Ayahanda Medan, 6 February 2010



