Pertama baca ada lomba di situs Property Online ini, aku ingin ikut, tapi prioritas pekerjaan tak memungkinkanku menulis. Barulah setelah tahu waktunya diperpanjang, kutulis ini. Aku teliti tautan ke Property Online, aku sangat tertarik karena urusan properti tepatnya mempelajari arsitektur adalah salah satu obsesiku yang tidak kesampaian.
Panjang perjalanan hidup kami (aku dan suami) membangun rumah impian. Mulai dari mencoba membeli rumah kreditan, rencana tinggal di pondok cinta di pantai, dsb. Dulu karena hidup kami yang “nomaden”, rumah kreditan terpaksa dijual karena tidak akan ditempati. Kami berpindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Barat, lalu Jakarta, Aceh, dan Medan. Terakhir harapan memiliki rumah sebelum tsunami adalah dengan merenovasi pondok kecil di Alue Naga di Banda Aceh, berharap kalau sudah punya uang dan layak huni, kami akan pindah ke sana. Nyatanya takdir menentukan lain. Pada Desember 2004, pondok dan rumah kontrakan kami yang dekat ke laut lebur bersama gelombang tsunami.
Usai tsunami awal 2005 sampai sekarang, dengan kasihNya kami “diberi” rumah sewaan yang besar dan berhalaman luas di tengah-tengah Kota Medan yang berpolusi. Sebuah rahmat yang berlimpah, sebab kami hanya diminta 1/3 harga sewa aslinya oleh pemilik yang baik hati. Alhamdulilah rumah ini, walaupun sudah agak tua kondisinya masih baik, dan sangat nyaman. Kami memiliki usaha kecil-kecilan tanaman hias, sekaligus untuk penyejuk jiwa dan raga. Halaman yang luas kami manfaatkan. Setiap hari anak-anak gang sebelah yang tidak punya lahan bermain, biasanya bermain di halaman. Dulu mereka bisa bersepak bola, tapi sekarang karena halaman berkurang untuk bisnis, mereka masih bisa sekedar main futsal-futsalan atau kejar-kejaran. Tak heran kalau sore emak-emak mencari “anaknya yang hilang” ke rumah. Selain itu rumah kami dipinjamkan buat les anak-anak SD yang tidak sanggup membayar kursus yang mahal (berhenti setamat anakku SD), untuk Pos YANDU bulanan, dan terakhir kemarin sebagai TPS pemilihan Presiden.
Rumah Jiwa, Rumah Cinta
Namun kami tetap mempunyai impian suatu hari memiliki rumah milik sendiri yang dilatarbelakangi keindahan masa lalu dan sekarang.
Tanpa memejamkan mata aku sering sampai ke visi masa dulu; pagi berembun, dingin kabut yang pelan-pelan menghangat bersama sinar mentari. Aku membuka jendela kamar di lantai atas, memandangi kali kecil jernih dibawah dengan bunga-bunga liar warna-warni bersemi diseberangnya. Kesukaanku adalah bunga kecubung putih yang menari gemulai dihembus angin. Di kejauhan Gunung Merapi dan Singgalang berdiri gagah, menaungi sebuah Kota Kecil indah bernama Padang Panjang, di negeri sealun dendang—Ranah Minangkabau—negeri yang konon, diciptakan Tuhan saat tersenyum. Itulah Rumah Cintaku yang pertama dan paling mengesankan. Rumah orangtuaku. Walau kemudian rumah ini dijual dan kami pindah ke Kota Padang dekat laut, namun kenangannya abadi sepanjang masa. Aku juga menyukai laut, tapi sedikit lebih suka gunung, aku suka udara yang dingin.
Dulu, sebelum ke sekolah, aku bertugas merapikan rumahku termasuk menghiasinya dengan rangkaian bunga dari kebun kami, mawar, dahlia, bunga lili, dsb. Aku selalu menyukai “ritual” ini, sebab biasanya dari taman aku bisa menikmati pemandangan lepas ke arah Tri Arga—Tiga Gunung: Merapi, Singgalang, Tandikat.
Di rumah ini, beberapa kali seminggu, teman-teman Ibu dan Papaku berkunjung, kadang-kadang mereka latihan musik karawitan dan menari Minang. Kadang Ibu mengajari muridnya atau tetangga berbagai keterampilan dan memasak. Aku sendiri punya teater ala anak SMA, dan latihan di rumah. Rumah kami berfungsi ganda, pribadi dan sosial.
Kalau malam, bukan hanya di rumah, di rumah tetangga sering ada musik dan nyanyian yang dimainkan oleh mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI), yang kost di rumahku dan tetangga. Indah sekali.
Rupa Rumah Impian
”Ruh” rumah orangtua plus rumah cintaku saat ini membentuk rupa rumah impianku, dengan improvisasi bentuk fisik, tentunya. Suatu saat aku ingin kembali ke Kota ini, bersama keluarga, saat anak-anak mungkin sudah agak dewasa. Kami bahkan sudah berencana seperti apa rumah kami nantinya dan di mana. Aku sudah diskusi dengan suami. Suamiku sendiri tamatan Teknik Sipil yang suka arsitektur. Kami memilih desa kecil di luar kota Padang Panjang mungkin di Gunuang atau Paninjauan dimana udara masih bersih, ada sawah, di depan rumah bisa memandang Danau Singkarak di Kejauhan. Di belakang rumah berlatar Gunung Merapi nan anggun. Di depan rumah juga mengalir banda-banda (alur air) kecil yang jernih.
Bentuk fisik rumah pujaanku sepanjang masa hanya satu: Rumah Gadang! Dalam pandanganku tak ada yang lebih eksotis dari rumah gadang. Tentunya tak usah segadang (sebesar) Rumah Gadang Pagaruyuang yang sudah terbakar, aku ingin yang seukuran Ustano si Linduang Bulan saja, kira-kira 28 x 8 meter, lengkap dengan 2 rangkiang yang 1 berfungsi menyimpan hasil panen, yang satunya dimodifikasi sebagai gazebo. Tak lupa juga ada tabek (kolam), surau (mushala), pemandian dengan pancuran kecil dan tentunya taman, kebun sayur, ternak, serta sawah-sawah di sekelilingnya. Bahan-bahannya tentunya bukan hasil eksploitasi alam, dari kayu kelapa, bambu, atau pohon hutan rakyat yang legal. Walaupun saat ini aku belum menemukan lokasi yang dicari di Property Online , aku yakin nanti informasinya akan semakin lengkap sejalan perkembangan situs ini.
Rumah hijau lestari (let’s go green!)
Karena namanya impian, aku tak mau tanggung-tanggung, kami juga akan memiliki kolam renang yang airnya dari gunung. Tentunya sebagai pencinta lingkungan (aktivis) yang sering “meneriakkan” gaya hidup ramah lingkungan, rumah ini akan di kelola dengan gaya lestari. Kalau bisa menghasilkan energi listrik sendiri, mungkin dari air yang mengalir dari gunung, dari kompos, dsb. Kami akan menjadi petani kebun organik, sekaligus aktivis hijau, karena memang hobiku dan suami adalah berkebun, sedang usaha suami juga agribisnis. Pendaur-ulangan sampah dan air akan dilakukan dengan cara alami misal dengan penyaringan menggunakan sistem biofiltrasi dengan tanaman dan mikroorganisme. Teknisnya nanti akan kupelajari lebih dalam dari teman-temanku pencinta lingkungan.
Aku selalu membayangkan rumah yang multi-fungsi serupa ini, milik sendiri suatu hari, seperti rumah orangtuaku dulu. Insya Allah kalau rumah itu berupa Rumah Gadang, bagian bawahnya akan dipakai untuk kegiatan sosial, mungkin mengajar anak-anak menari, musik, keterampilan, dsb. Sesekali menjamu anak yatim dan orang miskin makan. Malah aku juga membayangkan fungsi sebagai rumah singgah. Semoga Sang Rahman memperkenankan.
RuangBiru, 18 Agustus 2009
Photo credit:
* Ustano Basa Pagaruyuang, Edskywalker
**Info terkait rumah gadang:
Foto-foto eksotis rumah gadang
Rumah adat Batu Sangkar (kampungku)
Sejarah Ustano Si Linduang Bulan
NOTES: Aku gak tahu apa sukses ya daftar ke Property Online? Soalnya gagal kirim berkali-kali dan juga banner gak mau keluar, *sigh*
pasrah deh, senyum lagi