Baca rumah Kayu jadi pengen nge-repost tulisanku ini, aku ganti judulnya. Pas juga aku lagi klik-klik blog lama, merujuk dari postinganku sebelumnya di facebook (Berbagi waktu, berbagi kasih.)
Kemarin aku ‘terdampar’ tak sengaja di blog lama, karena ada yang mengklik blog ebloggyku itu. Jadi terharu mendarat di blog Almarhum Bunda Inong yang baik hati. Semoga kamu telah damai bersama Allah di sana Dek Nong…Alfatihah untuk Bunda.
Untuk yang sibuk dan nggak suka di dapur
http://www.ebloggy.com/blog.php?username=Putirenobaiak&id=1&start=130
Mampir di blognya Bunda Zidan-Syifa http://zidansyifa.blogspot.com/, membuatku ingin menulis ini. Abis sering ada masakan yang aduhai yummy yummy! and cerita anak-anak yang lucu.
Dari kecil aku termasuk orang yang paling nggak suka dengan pekerjaan memasak (kalau makan enak mauuuu dunk!), aku selalu punya alasan untuk tidak ikutan membantu Ibu di dapur. Mendingan aku bersih-bersih rumah atawa mengubek-ubek tanah menanam bunga, merangkai, mendekor rumah atau sekalian manjat atap deh (ngapain ya?). Dan Ibuku pun mengerti anaknya yang kata orang neh–tomboi–nggak suka di dapur. Tapi bukan berarti aku nggak kebagian tugas rumah tangga. Resminya aku bertugas sebagai cleaning service sejak kecil sampai menikah dan tidak lagi tinggal di rumah ortu.
Menurutku, memasak itu bukan pekerjaan perempuan saja, hanya budaya kita yang membuat perempuan jadi “tukang masak” (pen-gender-an pekerjaan lebih menurut budaya). Menurutku lagi neh, tugas rumah tangga itu adalah tanggung jawab semua anggota keluarga, dikerjakan bersama-sama sesuai kesempatan dan kemampuan masing-masing. Namun menurut Ibuku, perempuan itu harus bisa masak, menjahit, berbenah, walau sedikit. Jadi aku dipaksa belajar masak oleh Ibu pas aku baru tamat kuliah. Aku beruntung, hanya sebulan aku “kerja paksa” karena bulan kedua aku dapat kerja yang pulangnya jam 6 sore jadi nggak perlu bertugas memasak lagi. Hehe merdeka!.
Sebagai orang yang nggak hobi masak aku merasa beruntung sewaktu udah menikah masih tetap tak perlu memasak karena di mess tempat aku dan abang bekerja ada tukang masaknya, lalu sewaktu pindah ke Jakarta begitu juga, ada tanteku yang hobi sekali masak siap berbagi masakannya dengan ku. Juga sewaktu tinggal di Aceh, Ibu mertuaku yang baik hati selalu menyediakan “rantangan” untuk di bawa pulang. Katanya sih biar praktis karena anak-anak kutitip di rumah mertu dan my husband bikin usaha juga di sana dari pagi sampai malam.
Lalu apakah selamanya aku tak perlu memasak? Tentu tidak ,ada saat-saat kita tinggal sendiri dan tidak ada yang membantu seperti sekarang ini. Dan ada juga saat-saat anak-anak hanya mau makanan yang di masak mamanya.
Lama juga sih aku belajar agar bisa menyukai pekerjaan memasak dan nggak sebel kalau harus membersihkan ikan, ayam atau bumbu-bumbu yg menurutku bau, belum lagi panas keringetan, bikin nggak nyaman .
Caranya? Just do it with love!
Dengan cinta apapun bisa kita hadapi. Dengan membayangkan senyum anak-anak n suami yang senang dimasakin, rasa sebel pasti akan hilang, apalagi kalau dapat pujian, enak ato enggak pasti di bilang enak (hehe, iya mana berani mereka protes takut dibelalakin! ).
Selain itu Ibu dan tante-tenteku yang kebanyakan adalah wanita karir plus Ibu RT, mengajarkan tips-tips memasak praktis padaku:
1. Ke pasar cukup sekali seminggu, pagi sekali di hari libur, hingga siang atau sorenya bisa nyantai. Bagi yang sibuk bisa belanja malam hari di supermarket. Makanan yang dari pasar di cuci semua, sayuran dan telur dikeringkan dulu di baskom berlobang, baru disimpan di kulkas dengan bungkus plastik atau kertas koran. Bagi yang nggak punya kulkas, sayuran masih tetap bisa disimpan, dengan membungkusnya dengan kertas koran basah, atau seperti bawang prei bisa ditanam di pot dulu. Bumbu-bumbu bisa dihaluskan dan ditumis agar tahan lama. Juga lauk pauk bias di ungkep, rebus atau keringkan.
2. Daging, ikan, atau ayam di bumbui dulu, di ungkep, dinginkan, simpan di kulkas.
3. Siapkan bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan misal bumbu dasar putih, kuning, bumbu nasi goreng dsb. (bisa nyontek dari Rudi Choiruddin, dsb). Kalau mau tahan lama bisa di tumis dulu.
4. Bagi yang suka santan, bisa menyiapkan santan di kulkas, di didihkan dulu, dinginkan, simpan di kulkas.
5. Setelah itu proses memasak jadi praktis karena tinggal celap-celup, nggak perlu waktu lama. Bagi Ibu yang bekerja, sebelum ke kantor juga masih sempat menyiapkan sarapan atau memasak untuk makan siang. Atau kalau nggak sempat sesekali, suami dan anak-anak bisa diajarkan mandiri dengan makanan yang siap masak di kulkas. Nggak perlu membersihkan atau membumbui lagi.
6. Nggak ada alasan untuk nggak bisa masak, banyak buku contekan di jual di toko, ada juga acara tv, radio, internet, dsb.
Lalu apakah aku jadi hobi masak? Ah nggak juga…tapi tak lagi membenci pekerjaan itu, tak lagi merasa itu beban, ‘coz I do it with love honey
RB, 29 Mei 2006





