Feed on
Tulisan
Komentar

Jika cinta telah berkata, hati tertaut dimana saja. Temanku Edy, manajer camp *CRU yang asli Aceh, menikah dengan kekasihnya gadis lokal dimana bening bertemu. Unik, aku sendiri belum pernah melihat pengantin pria yang diantar ke rumah ‘anak dara’ dengan gajah. Here the show goes:

Dari camp CRU

naik di punggung Theo

My CRU team/friends

Pestanya berlangsung dua hari dua malam dengan adat Karo yang eksotis. Aku sendiri sangat tertarik dengan upacara tradisional begini yang sudah sulit ditemui di kota-kota. Walau gak ngerti baik bahasa maupun maknanya (pr nih untuk nanya2 nanti!) aku enjoy banget melihat ada tari-tariannya. Sayang aku gak bisa mengikuti upacara sampai selesai. Lamaaaa kali upacaranya. Namanya juga emak-emak tiga anak, yang satu merengek minta mimik, yang dua lelaki sibuk menarik-narik tanganku ngajak berenang di sungai, bapak-e sibuk mau pigi-pigi cari tanaman aneh katanya..hehe…Demikianlah kerja en liburan sekalian, dari tangal 5-7 Mei kemarin, sambil pesta teman, sambilan ketemu sama kepala sekolah untuk program edukasi bulan ini.

MORE PHOTOS HERE.

*CRU = Conservation Response Unit,

bekerja untuk pelestarian gajah dan habitatnya di Sumatra; Sumut, Aceh, Bengkulu dengan memberdayakan gajah terlatih, mahouts, rangers & masyarakat lokal. CRU adalah bagian dari program FFI-SECP (Fauna & Flora International- Sumatran Elephant Conservation Programme) dengan me-link-kan konservasi ex-situ dengan in-situ.

Demikian

1. Luluh

masih beriak rasa

menyentak-nyentak jiwa

tak mau enyah

menarinari dalam nadi

berdenyardenyar mengisi arus darah

memenuhi ruh

pun tubuh

aku luluh

rasa ini membunuh!

2. Demikian

demikian menikam dia

ke jiwa

dalam, dalamku

kucoba bebaskan dendam

dalam siksa malam

tertawakan diri

yang mencari kesejatian pada cinta mayapada

kutau hanya satu

milikMu

demikian

bawa aku dalamMu

RB, 25 April 2008

Satu;

Hari ini

catatan cinta kueja tadi malam, bunda
ketika terdampar pada resah
tanahku
seolah jerit bumi berteriak
minta tolong pada penghuninya
yang tak peduli
tetap tergesa-gesa
kesana kemari memperkosa dirimu yang semakin tua
meratakan hutan jadi tanah kering
menuangkan banjir, menyisakan kerontang bergantian
asap kebakaran racun timbal tak cukup mencemari
bertambah intensitas hari ke hari
mereka menodai lautmu, sungaimu dengan racun kimia
membotaki gunung-gunung
melobangi tubuhmu seperti bopeng-bopeng bulan
mengerikan!

(sungguh aku tak ingin jadi mereka!)

mereka
memperebutkan apa saja dengan loba
tamak menginjak-injak yang kalah
si miskin, si melarat,
sengsara
mengais-ngais sisa remah
disudut-sudut kota yang sesak
berhimpitan berbagi ruang sempit
di desa petani-petani kehilangan sawah
menangis kalah

ada anak yang mati kelaparan, kata media
“hanya sebuah kabar, tak perlulah dibesar-besarkan,”
kata orang itu, entah siapa
datang dalam mimpiku menjijikkan
melubangi lumbung pertiwi tercabik-cabik menyeramkan

aku terpelanting
pada realita
pening
kuheningkan hati mencari jawab
belum bisa banyak berbuat
masih terbatas mencoba
berbagi yang tak berlimpah,
dan harapan, Tuhan pasti cukupkan untuk mereka
tak sanggup kusaksikan bening mata bocah menangis
berkaca-kaca menahan lapar.

Dua;

Dulu

menelusuri jejak cinta padamu pertiwi
apakah cinta mesti menuangkan darahku dalam perang?
aku hanya punya perang melawan diri
sejak dini
walau hanya bertahan tak menyontek waktu ujian kala remaja
biarlah nilaiku jeblok
tapi aku tak goblok, bunda

kubaca jejakku pada cinta:

dimana cinta diuji?
ketika kau mampu menolak amplop tebal dihadapanmu
mencoba membeli kejujuran
padahal kebutuhanmu menderu-deru

kapan kesetiaan terbukti?
ketika nafsu memburu-buru
ingin memiliki yang bukan milikmu
kau memilih siksa.

ketika perawan rela menukar cinta demi sekedar bedak lipstik
menjual cinta pada bandot tua demi materi
kau memilih menderita.

kubaca lagi jejak dimana cinta pernah tertoreh
di Aceh, di Aceh!

kutahankan cinta di tengah ledakan bom, hujan peluru menderu-deru
ketakutan, darah dan trauma,
takkan kutinggalkan bunda pertiwi
mendesah di tiap doa, janganlah negeriku terpecah-pecah
damai-damailah, jangan hanya dalam mimpi
sampai aku lelah
kehilangan kata. doa terhenti
dalam hening mengeja cintaNya

lalu ombak yang menghempas, mencipta neraka di hadapanku
terpana membaca kehendakNya
kucoba lagi menghayati cinta
tetap kucinta kau
sebab kurasakan tangismu bunda
perih, perih menyayat hati
dikhianati anak-anak sendiri
kekasih jiwa.

Tiga;

Di hati, sekarang

meski terbatas di pikir dan zikir
kueja namamu dalam kasihNya
semoga tetap bertahan
dari perpecahan oleh tangan-tangan
gergasi, siluman, manusia
yang ingin membelah negeri
yang ingin kau tak ada lagi
menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
semoga kau bertahan
sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
meski pahit menggigit hati

Ruang Biru, 24 April 2008

Memang belum 22 April, tanggal hanya momen pengingat. Mari lakukan hari bumi setiap hari. Memulai adalah tindakan, berbuat, bukan hanya niat :) Aku yakin banyak orang sudah tahu tindakan apa yang bisa membuat bumi lebih hijau, bersih, segar, nyaman untuk dihuni….banyak sekali, mulai saja dari diri sendiri….saat ini juga!

Karena hari ini terakhir bisa online sebelum ke hutan, aku upload saja sekarang :D. Insya Allah tanggal 22 aku akan di hutan bersama anak-anak, guru, gajah dan teman-teman mahout, for earth day.

Obrolan rumahan

Keriting

“Pa kenapa ya anak kita rambutnya lurus semua, papa mama kan ikal,” kataku pada abang.

“Iyalah, kan mama keritingnya kesana, papa kesini (ke kanan-kiri), ketemu ditengah, tabrakan kan jadi lurus.”

“Hihi…iya juga yah, dasar lo asal.”

Goyang.

Kebiasaan aku telmi pada ucapan Nay yang masih cadel.

“Ma, yang, yang….” Naysa menarik-narik tanganku yang lagi asyik bersih-bersih meja rias.

Tanpa melihatnya, “Apa Nay? apanya yang hilang?”

“Mama, oyang…ayooo. oyang…” masih menarik-narik tanganku.

“Mainannya ilang Nay?” baru liat ke dia, hehe…rupanya Nay ngajak bergoyang, dia lagi asyik goyang-goyangin pinggulnya, ada house music di radio.

*Makanya, perhatiin anak dong ah…*

Ngaji

Nay lagi. Maghrib biasanya kami shalat jamaah. Nay ikutan ’shalat’, tapi sambil aksi macem-macem, kadang-kadang pengen senyum liat aksinya, suka ganggu abangnya, menarik-narik sarung, manjatin aku dan abang yang lagi sujud, nari-nari sendiri, dsb. Usai shalat kami ngaji, Nay juga buru-buru ambil Juz-amma, mulai ngaji…

” …..iyaaah, iiiim, ayaaam, Amiiiin….” dsb, belakangnya doang. Terus karena gak ngerti lagi mau ngucapin apa, ngomong gini:

“Ngaji, ngajiii, ngajiii, ngajiiiiiii, bacanya sambil berirama seperti orang baca Al-Quran beneran, yang dengar jadi terkikik sendiri. :D

Mimi’ nomor 4

Kalau lagi mimik ASI, Nay biasanya minta pindah ‘mimik’ , selalu bilang:

“Agi…agi (lagi), mimik apat (empat). “

“Ngitungnya dari mana Nay, kok empat?”

“Niih, atu, uwa,” menunjuk mimiknya (payudara) sendiri.

Xixixi….Nay plus Mama jadi empat toh. lol :))

Nay lagi. Baginya arti mimik ya payudara.