Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Jalan Cinta

Telah
kupilih jalan ini
berliku dan mendaki
terjal dan curam
duri dan sepi
lengang menyelubung
sekeliling

sendiri
menggapai inti sunyi
di diri
menjangkau
pukau ku kan
Kau
cahaya Maha cahaya
bimbinglah jiwa dan ruhku
menuju
jalan Satu
CintaMu

Pondok Cinta–Darussalam, 9 Desember 2014
inspired by Surah Al-balad


3 Komentar

Romantika ayam dan bebek (unggas)

Dari status FB kemarin:

Gila ye, aku di suruh abang nangkap ayam pake karung hehe, blm pernah melihara ayam sendiri. kalo ortu yg pelihara dulu waktu kecil, aku kan liat2 aja…tadi panik sms doi, ayamnya berantem sm ayam tetangga, udah aku usir2 gak mau pisah, aku tinggal deh, sambil bilang: “Ya udah, berlaga sono sampe mati!” -kejem dot.com-..barusan tak cari2 ketemu sih ayam jago bbrp ekor, tp gaktau yg mana punya kita…hahaha…*cerita romantisme ayam*

Sebenarnya “romantika ayam’ masih berlanjut, Naysa bilang: “Ma ayam jantan orang itu jahat kali, tadiĀ  injak-injak ayam betina kita!”

Datang abangnya Uqan: “Ma rupanya ayam jantan itu kawin dengan ayam kita!”

Ya ampyuun, tau aja Uqan kawin (dalam hati)…

“Trus sekarang dimana ayam itu?”

“Udah kami usir!’ jawab mereka serentak.

Anak-anakĀ  kemudian gak berhenti jagain agar ayam tetangga yang berlaga dengan ayam kami, nggak masuk ke halaman lagi. Dari pagi tuh jago sok-sokan ngajak ayam kami berantem lagi, ribut sendiri dibawah kandang (si jago kami dikurung untuk memulihkan kesehatannya setelah berlaga kemarin dengan jago tetangga).

Emang ya, dasar ayam, jantannya dikurung, betinanya yang dua pacaran sama ayam tetangga wkwkwkw…Nah jangan tiru ayam ya, nggak setia.

Tirulah angsa, yang sangat sangat setia. Aku juga baru tahu setelah beberapa bulan terakhir ini memelihara angsa di rumah. Angsa jantan selalu menemani betinanya kemana pergi, kalau makan yang jantan belakangan, dia akan nungguin ‘istri’ nya duluan makan. Sekarang mereka punya 4 ekor anak angsa. ‘Ibu dan Ayahnya’ menunggui anak-anak mereka makan lebih dahulu, baru mereka makan. Dan sang ayah rela berhujan-hujan, menjaga anak istrinya berteduh di sarang yang udah nggak muat buat mereka berenam.

Menurut referensi yang pernah kubaca, angsa memang setia dan monogami. Kalau pasangannya mati, mereka jarang mencari gantinya lagi. Beda kan dengan kucing garong, yang pas pemakaman istrinya saja, sudah larakl-irik lagi perempuan lain.

*Ketawa sedikit menjelang malam*

RumahCinta, Klieng Cot Aron–15 Januari 2013


2 Komentar

Nyak Tua

**Hanya re-post tulisan lama dari Facebook

menjunjung dagangan di kepala

dalam hujan

berpanas hari

kaki tua melangkah pelan

menyusuri jalan desa

dari rumah ke rumah

menjual sayuran

Nyak tua senantiasa tersenyum

pipi melepuh, pijar matahari meninggalkan noda

hitam di muka, legam kulitnya

tak hilangkan seri wajahnya, meski tak berpupur tebal

tak kenal bedak pemutih ala perempuan kota

tulus mengukir senyum

walau tanpa gincu tebal di bibir

sebab keindahannya

adalah aura perempuan empu

yang mencahaya dari kalbu

karunia Sang Cinta

Nyak tua terus melangkah

meski terengah

menyongsong harapan

penuh keikhlasan.

RumahCinta, Cot Paya, 20 Desember 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.