Feeds:
Tulisan
Komentar

The Hidden Paradise

Sohibku Meiliza tersaysay nanya soal Tangkahan, jadi pengen upload videonya yang sudah dimasukkan ke You tube oleh teman (aku gak kenal yg upload, si Bos sih yg bilang).

Tapi yg di film tentunya kenal semua, kan Timku Conservation Response Unit, yang mau kenalan silakan bayar pajak ke Meiy, hubungi aku…

(jadi Meiy dimana yah….) *Kalau aku yg masuk filmnya jadi kabur!*

Video dibuat oleh tim dari Melbourne Zoo (Zoos Victoria) yang merupakan partner sekaligus supporter FFI-SECP (Fauna & Flora International-Sumatran Elephant Conservation Programme).

Enjoy the video!

Oktober cinta…

berempatkeindahan adalah bening matamu nak,

gelak tawa memenuhi udara rumah kita

mencipta cinta menikmati rahmatNya

apalagi yang lebih indah dari permata hati

dan belahan jiwa bersama berbagi kasih

kedamaian adalah senyum kekasih,

tak banyak berkata berlaku cinta

ada

untuk kita

berbagi mimpi, berbagi nyeri

berbagi damai cinta sejati

bersama mencari ridhaNya

semoga selamat semua menuju abadi, suatu hari…

Selamat ulang tahun untuk kekasih-kekasih tercinta:

*Muhammad Furqan-Uqan, 17 Oktober (8 tahun)

* Naysa Qathrunnada-Chica, Nay, 21 Oktober (3 tahun)

*Abang–Mustafa Ramly,   27 Oktober (berapa ya umurmu say, 21 kali yah hehe…:)my lovesuqan-naysa

Atas: Lapangan Imam Bonjol Padang, Ramadhan (Papa & anak2)

Bawah: Uqan & Naysa

Mesjid Muhammadiyah, Hari Raya,

Naysa dapat jilbab dari Tante Iid diganti langsung jilbabnya,

walau nggak matching :)

Di luar lingkaran

berdiri di luar  lingkaran

kusaksikan panggung sandiwara

tersenyum, terdiam, kadang tertawa

kadang kubiar sabak mata

menertawakan kisah

yang diperankan manusia

ada fakta, ada dusta, ada doa dan airmata

kejujuran, kebohongan, kepalsuan bertopeng keindahan

kusaksikan

dusta yang nyata di depan mata

dan mereka tertawa puas berhasil membungkus dosa

berjuta kisah

menggurat sejarah

di bumi fana

aku juga bukan siapa-siapa, hamba dan fana

khilaf dan lupa

diam-diam hanya kulantunkan doa

agar cahaya sejati selalu menuntunku

ke telaga murni

membasuh hati, atas namaMu Maha Kudus

jernih agar terbasuh cinta yang pernah menghitam jelaga

RB, 15 Oct 2009

Terkoyak

Aku tersentak

terdiam

Mendengar ranah terkoyak

bumi Minang retak

Hatiku teriris

seperti ribuan saudara yang terluka, menangis

menderita dan trauma

Berdetak jantung

limbung

Tapi diam tak mampu berkata

serupa setiap musibah melanda

Tepekur

tafakur

Menghentikan isak segera

sebab lebih berguna jika berupaya dan berdoa

Ya Rahim, kasihi saudara ku yang tersiksa, yang terluka dan belum diselamatkan

terima mereka yang telah pergi dalam kasihMu

***Aku selalu tak mampu menulis spontan ketika musibah melanda, juga dulu ketika mengalami tsunami, baru setelah pulih aku bisa menuliskan kisah…

disini:

Gelombang yang menerjang

Beku

Berprasangkalah baik pada Sang Cinta atas bencana yang terjadi.

Sebagai hamba, aku, kita hanya bisa mohon ampun kesalahan, dosa…

dan berharap Rahman & RahimNYA…

Di pucuk gelombang

Disini

pernah tergurat kisah

indah ada

lara ada

kusyukuri semua di dominasi bahagia

Disini

pernah kutulis sajak hati

riak kalbu bergejolak serupa ombak

yang mencumbu bibir pantai

menghempas seirama nyiur

menarikan gelora

hati kita.

Pernah juga kulukis kisah

keluasan samudera

misteri dalamnya lautan

kembara jiwa melintas batas cakrawala

Kadang bercengkrama tentang

putih camar menarikan harmoni

bersama putih awan

Kadang kusaksikan kisah

anak nelayan

berlengan legam terbakar surya

dan senyum ronanya ketika menghela pukat ke darat

atau menarik perahu pulang

dari bagan yang berayun di pucuk ombak

Kini aku kembali

bersama kekasih hati

mengukir lazuardi biru dengan mimpi-mimpi kami

menikmati canda anak-anak

tergelak bersama kepiting dan umang-umang

istana pasir yang memperkaya angan

menikmati perjalanan rahmatNYa

semoga disampaikanNYA

cita-cita cinta

dalam hangat dekapanNYA selalu.

Pasia Kandang, 16 September 2009

***AKU MOHON MAAF LAHIR BATHIN PADA TEMAN-TEMAN YANG MAMPIR MAUPUN YANG BACA. SELAMAT IDUL FITRI 1430 H, SEMOGA KEMENANGAN UNTUK KITA– SEMOGA USAI RAMADHAN TAK USAI HIDAYAH ALLAH…

Aku mohon maaf juga belum sempat membalas komen atau berkunjung balik, sedang susah akses internet, sedang menikmati indah negeri sealun dendang, hidup tanpa teknologi :)

Kesejatian

embun

Kau tak bisa mematikan gairahku pada kehidupan

Sebab kasih Tuhan berlimpahan

pada udara yang kuhirup

semesta raya

menjanjikan semangat hidup

Kau takkan bisa mengurangi geloraku pada kembara

Selama wangi bunga memenuhi udara

riuh rimba menghimbau pukau

memenuhi cinta mengisi jiwa

Kau takkan bisa

Sebab kini kutemukan keindahan

dalam kelana usai siksa

Menemu kesejatian.

Rumah cinta, rumah jiwa

Pertama baca ada lomba di situs Property Online ini, aku ingin ikut, tapi prioritas pekerjaan tak memungkinkanku menulis. Barulah setelah tahu waktunya diperpanjang, kutulis ini. Aku teliti tautan ke Property Online, aku sangat tertarik karena urusan properti tepatnya mempelajari arsitektur adalah salah satu obsesiku yang tidak kesampaian.

Panjang perjalanan hidup kami (aku dan suami) membangun rumah impian. Mulai dari mencoba membeli rumah kreditan,  rencana tinggal di pondok cinta di pantai, dsb. Dulu karena hidup kami yang “nomaden”, rumah kreditan terpaksa dijual karena tidak akan ditempati. Kami berpindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Barat, lalu Jakarta, Aceh, dan Medan. Terakhir harapan memiliki rumah sebelum tsunami adalah dengan merenovasi pondok kecil di Alue Naga di Banda Aceh, berharap kalau sudah punya uang dan layak huni, kami akan pindah ke sana. Nyatanya takdir menentukan lain. Pada Desember 2004, pondok dan rumah kontrakan kami yang dekat ke laut lebur bersama gelombang tsunami.

Usai tsunami  awal 2005 sampai sekarang, dengan  kasihNya kami “diberi” rumah sewaan yang besar dan berhalaman luas di tengah-tengah Kota Medan yang berpolusi. Sebuah rahmat yang berlimpah, sebab kami hanya diminta 1/3 harga sewa aslinya oleh pemilik yang baik hati. Alhamdulilah rumah ini, walaupun sudah agak tua kondisinya masih baik, dan sangat nyaman. Kami memiliki usaha kecil-kecilan tanaman hias, sekaligus untuk penyejuk jiwa dan raga. Halaman yang luas kami manfaatkan. Setiap hari anak-anak gang sebelah yang tidak punya lahan bermain, biasanya bermain di halaman. Dulu mereka bisa bersepak bola, tapi sekarang karena halaman berkurang untuk bisnis, mereka masih bisa sekedar main futsal-futsalan atau kejar-kejaran. Tak heran kalau sore emak-emak mencari “anaknya yang hilang” ke rumah. Selain itu rumah kami dipinjamkan buat les anak-anak SD yang tidak sanggup membayar kursus yang mahal (berhenti setamat anakku SD), untuk Pos YANDU bulanan, dan terakhir kemarin sebagai TPS pemilihan Presiden.

Rumah Jiwa, Rumah Cinta

Namun kami tetap mempunyai impian suatu hari memiliki rumah milik sendiri yang dilatarbelakangi keindahan masa lalu dan sekarang.

Tanpa memejamkan mata aku sering sampai ke visi masa dulu; pagi berembun, dingin kabut yang pelan-pelan menghangat bersama sinar mentari. Aku membuka jendela kamar di lantai atas, memandangi kali kecil jernih dibawah dengan bunga-bunga liar warna-warni bersemi diseberangnya. Kesukaanku adalah bunga kecubung putih yang menari gemulai dihembus angin. Di kejauhan Gunung Merapi dan Singgalang berdiri gagah, menaungi sebuah Kota Kecil indah bernama Padang Panjang, di negeri sealun dendang—Ranah Minangkabau—negeri yang konon, diciptakan Tuhan saat tersenyum. Itulah Rumah Cintaku yang pertama dan paling mengesankan. Rumah orangtuaku. Walau kemudian rumah ini dijual dan kami pindah ke Kota Padang dekat laut, namun kenangannya abadi sepanjang masa. Aku juga menyukai laut, tapi sedikit lebih suka gunung, aku suka udara yang dingin.

Dulu, sebelum ke sekolah, aku bertugas merapikan rumahku termasuk menghiasinya dengan rangkaian bunga dari kebun kami, mawar, dahlia, bunga lili, dsb. Aku selalu menyukai “ritual” ini, sebab biasanya dari taman aku bisa menikmati pemandangan lepas ke arah Tri Arga—Tiga Gunung: Merapi, Singgalang, Tandikat.

Di rumah ini, beberapa kali seminggu, teman-teman Ibu dan Papaku berkunjung, kadang-kadang mereka latihan musik karawitan dan menari Minang. Kadang Ibu mengajari muridnya atau tetangga berbagai keterampilan dan memasak. Aku sendiri punya teater ala anak SMA, dan latihan di rumah. Rumah kami berfungsi ganda, pribadi dan sosial.

Kalau malam, bukan hanya di rumah, di rumah tetangga sering ada musik dan nyanyian yang dimainkan oleh mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI), yang kost di rumahku dan tetangga. Indah sekali.

Rupa Rumah Impian

”Ruh” rumah orangtua plus rumah cintaku saat ini membentuk  rupa rumah impianku, dengan improvisasi bentuk fisik, tentunya. Suatu saat aku ingin kembali ke Kota ini, bersama keluarga, saat anak-anak mungkin sudah agak dewasa. Kami bahkan sudah berencana seperti apa rumah kami nantinya dan di mana. Aku sudah diskusi dengan suami. Suamiku sendiri tamatan Teknik Sipil yang suka arsitektur. Kami  memilih desa kecil di luar kota Padang Panjang mungkin  di Gunuang atau Paninjauan dimana udara masih bersih, ada sawah, di depan rumah bisa memandang Danau Singkarak di Kejauhan. Di belakang rumah berlatar Gunung Merapi nan anggun. Di depan rumah juga mengalir banda-banda (alur air) kecil yang jernih.rumah-adat-500x362-dari edward

Bentuk fisik rumah pujaanku sepanjang masa hanya satu: Rumah Gadang! Dalam pandanganku tak ada yang lebih eksotis dari rumah gadang. Tentunya tak usah segadang (sebesar) Rumah Gadang Pagaruyuang yang sudah terbakar, aku ingin yang seukuran Ustano si Linduang Bulan saja, kira-kira 28 x 8 meter, lengkap dengan 2 rangkiang yang 1 berfungsi menyimpan hasil panen, yang satunya dimodifikasi sebagai gazebo. Tak lupa juga ada tabek (kolam), surau (mushala), pemandian dengan pancuran kecil dan tentunya taman,  kebun sayur, ternak, serta sawah-sawah di sekelilingnya. Bahan-bahannya tentunya bukan hasil eksploitasi alam, dari kayu kelapa, bambu, atau pohon hutan rakyat yang legal. Walaupun saat ini aku belum menemukan lokasi yang dicari di Property Online , aku yakin nanti informasinya akan semakin lengkap sejalan perkembangan situs ini.

Rumah hijau lestari (let’s go green!)

Karena namanya impian, aku tak mau tanggung-tanggung, kami juga akan memiliki kolam renang yang airnya dari gunung. Tentunya sebagai pencinta lingkungan (aktivis) yang sering “meneriakkan” gaya hidup ramah lingkungan, rumah ini akan di kelola dengan gaya lestari. Kalau bisa menghasilkan energi listrik sendiri, mungkin dari air yang mengalir dari gunung, dari kompos, dsb. Kami akan menjadi petani kebun organik, sekaligus aktivis hijau, karena memang hobiku dan suami adalah berkebun, sedang usaha suami juga agribisnis. Pendaur-ulangan sampah dan air akan dilakukan dengan cara alami misal dengan penyaringan menggunakan sistem biofiltrasi dengan tanaman dan mikroorganisme. Teknisnya nanti akan kupelajari lebih dalam dari teman-temanku pencinta lingkungan.

Aku selalu membayangkan rumah yang multi-fungsi serupa ini, milik sendiri suatu hari, seperti rumah orangtuaku dulu. Insya Allah kalau rumah itu berupa Rumah Gadang, bagian bawahnya akan dipakai untuk kegiatan sosial, mungkin mengajar anak-anak menari, musik, keterampilan, dsb. Sesekali menjamu anak yatim dan orang miskin makan. Malah aku juga membayangkan fungsi sebagai rumah singgah. Semoga Sang Rahman memperkenankan.

RuangBiru,  18 Agustus 2009

Photo credit:

* Ustano Basa Pagaruyuang, Edskywalker

**Info terkait rumah gadang:

Foto-foto eksotis rumah gadang

Rumah adat Batu Sangkar (kampungku)

Sejarah Ustano Si Linduang Bulan

NOTES: Aku gak tahu apa sukses ya daftar ke Property Online? Soalnya gagal kirim berkali-kali dan juga banner gak mau keluar, *sigh* :( pasrah deh, senyum lagi :)

Serunai buat Melati

: Pipit Padi

Serunai cinta itu dik, mendayu-dayu di hatiku

Serasa tlah hadir

Dibawa angin semilir dari ranah kita

Menyejukkan hati mesti baru desaunya

Sajak itu dik,

Menyentak-nyentak batinku

Serupa menarikan rantak dihari lalu

Menghentak rasa terindah

Mewujud renjana

Cita-cita terlupa

Mari rengkuh

Irama irama

Bersama aliran kata

Yang keluar dari jiwa

RuangBiru, 28 Agustus 2009

Damba

Dahaga aku ya Rahim

dalam kembara

mendamba telaga

penyejuk  jiwa


Semakin mendekat

rindu bertambah  lekat

Hausku ya ‘Aliim

akan segala ingin tahu

Belum terpuaskan

Mungkin takkan berakhir

kelana

mencari cahaya

sampai waktunya


Dekaplah seluruhku

ruh jiwa

raga logika

nafsu menderu.

RuangBiru, 1 September 2009

Ramadhan jangan pergi

Ramadhan sebenarnya ulang tahunku menurut kalender Hijriah, tapi aku tak pernah diberitahu tanggalnya, hanya tanggal masehi. Barusan aku tanya Tante Google, ketemu situs  Islam ini, dapat deh, ternyata tanggal lahirku 11 Ramadhan. Alhamdulillah, aku dilahirkan  pada bulan yang indah dan suci ini.

mawar putihRamadhan memang selalu membawa nuansa tersendiri di hatiku. Sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata, yang jelas selalu ada perasaan tak ingin Ramadhan cepat berlalu.

Terinspirasi tulisan Mas PS tentang Ramadhan di masa kecil, jadi pengen nulis juga, sekalian ngilangin males update blog :D

Sebagai anak-anak dulu, yang paling berkesan di bulan Ramadhan adalah bisa bermain bebas malam hari, bukan shalat tarawihnya hehe…. Hari lain mana boleh! Usai shalat, yang lokasinya di dekat rumah sepupuku di pusat kota, kami bergabung dengan anak-anak pasar yang “bandel” menurut orang tua. Entah mengapa mereka yang tinggal di pasar dan asrama di anggap anak nakal. Padahal asyik banget main dengan mereka, soalnya mainannya kalo nggak petasan ya kejar-kejaran sepanjang jalan kota yang masih sepi kendaraan. Plus bisa puas jajan bermacam peganan yang membuat ngiler di seputar Mesjid Raya Jihad Padang Panjang, Sumatera Barat. Kalau dipikir-pikir sekarang, saat aku selalu cemas anak-anak nggak mau dilarang main mercon, aku senyum-senyum sendiri, ingat betapa bandelnya aku dulu, ngerjain orang dengan berbagai petasan…Akhirnya aku nasehati saja jangan dekat-dekat orang bakar petasan.

Menginjak remaja *malu-malu dikit nih ceritainnya* tak lagi main kejar-kejaran, bersama teman-teman aku berpindah tarawih dari satu mesjid ke mesjid lainnya di kota kecil kami. Asyiknya luar biasa karena lebih banyak becandanya daripada mendengar ustadz ceramah hehe…Parahnya lagi, menginjak SMA ketika mulai first love, motivasi utama rajin tarawih adalah karena mesjidnya dekat rumah si Koko (demenan waktu itu ;) , dari mesjid kelihatan loh jendela kamarnya hahaha…Dasar abg yang baru jatuh cintrong ngeliat atap rumahnya aja senangnya bukan main. Sayangnya waktu itu, ‘doi’ belum Muslim, jadi gak bisa shalat sama-sama. Kemudian doi jadi mualaf lho!

Siang Ramadhan biasanya kami disuruh ortu mengerjakan pekerjaan yang kreatif. Hampir di setiap Ramadhan dulu sekolah libur. Ibu mengajari kami (aku dan adik perempuanku Dewi) bermacam keterampilan, memasak, menjahit, dsb…favoritnya sih menjahit strimin (bener gak ya itu namanya?)–yang paling membuatku sebeeel…. Adikku berhasil menjahit dan memasak dengan baik. Aku males dua-duanya…Banyak hasil karya Ewi dipajang di rumah, aku hanya punya satu jahitan bunga matahari agak kecil, yang dibuat terpaksa hehe. Aku sering jelous sama adik lelakiku yang dibebaskan ngelayap kemana aja…

Tapi biasanya aku senang kalau disuruh merapikan rumah saja, mendesain, berasa obsesi jadi interior desainer terpuaskan. Daripada bantu masak dan jahit-jahit, aku lebih suka disuruh mencat pagar, atau manjat-manjat apa kek gitu. Satu-satunya ‘pekerjaan  perempuan’ yang aku suka hanyalah merangkai bunga pagi-pagi…Soalnya…si doi suka lewat bawa herdernya di depan kebun hueheuehue…Dan bunga, siapa yang tak suka melati yang wangi dan mawar yang cerah ceria?

Kadang aku melukis ikut-ikutan Papa. Kalau teman-temanku datang, gangku tersayang HAMMY ANGELS  (HAMMY  = Henny+HArmita, or Meiy+Meme+Yens), kami pasti nyanyi bareng, Henny dan Meme suaranya bagus, Yens jago gitar dan biola, aku jago mengatur mereka! (berasa Manager). Sore biasanya kami jalan-jalan ke pasar lihat-lihat aneka jajanan yang membuat liur menetes.

Kalau puasa Ibuku biasanya menyiapkan menu istimewa kesukaan anggota keluarga, yaitu gulai tambunsu (usus sapi) pakai telor, gulai ikan gurami, dan selada ala Uwoku (nenek) nan lamak bana.*

Kini, ketika jatah usia terus berkurang dan tak tahu kapan akhirnya, aku begitu haus akan banyak ilmu spiritual yang mungkin selama ini tak maksimal aku pelajari. Harapanku menjalani Ramadhan tahun ini, selain diampuni dosa-dosaku sejak akil balig hanya agar usai Ramadhan bisa berakhlak lebih baik dihadapanNya & sesama manusia. Soal iman, taqwa aku tak tahu, mungkin  masih jauh, hanya DIA yang tahu, aku berupaya saja.

Ingatkan aku jangan dusta

Merasa tersentak menonton acara Mama dan Aa tadi subuh, dengan narasumber seorang pemulung yang disebut ‘Manusia Gerobak’ (sayang aku nggak suka istilah ini). Entah kenapa rasanya kok terharu banget, padahal banyak kisah nyata lain di TV, tapi tak bisa membuatku terisak, atau mungkin karena melihatnya sekilas saja? Aku tak percaya dengan kebanyakan reality show, dan aku juaranya males-nonton-TV.

Bu Wati, nama perempuan itu, yang seharinya mencari nafkah dengan mengumpulkan barang-barang yang masih bisa dipakai dari sampah (ah pahlawan lingkungan dia!), katanya seharinya cuma dapat Rp 5.000-10,000.

Yang paling membuatku’tertampar’, betapa ikhlasnya dia menjalani kehidupan ini, anak dan suaminya tinggal di pinggir kali, dan dia sendiri hanya berumah di dalam gerobak sampahnya. Kalau sesekali mereka ingin berkumpul, katanya numpang di rumah besan. Walaupun begitu masih saja ada optimisme dalam suaranya & pandang matanya yang berseri-seri,  ketika menyampaikan cinta-citanya –harapan agar anaknya bisa melanjutkan  sekolah sampai SMU.  “Wajahnya cerah ya Ma,” kata suamiku. Di usia yang sudah 18 tahun, anaknya masih SMP sebab sering sekolah terputus karena ketiadaan biaya.

Adalah hidayah Allah dia bertemu seorang Ustadz bernama Pak Nas (Nasution) dan istri, yang membimbingnya untuk mendalami Islam. Subhanallah, sosok Ustadz ini juga membuatku begitu terharu, aksi yang begitu nyata, membimbing umat ke arah kemenangan walaupun hanya belajar dilapangan saja.

Kenyataan dia berumah di gerobak, sebuah ironi yang sering menganggu pikiranku, bahkan di lingkungan rumahku. Banyak rumah-rumah mewah-besar yang dihuni 1-2 orang, sementara saudara-saudara kita yang lain berdesakan di gang-gang, malah ada yang tinggal di rumah kardus pinggir kali. Masya Allah, Astagfirullah.

Selama ini aku tak berani menulis-nulis ayat dalam tulisan, merasa tidak qualified untuk itu, (kayanya belum pantes) namun entah mengapa ayat :

fa bi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadz-dzibaan” (Maka ….. nikmat Tuhanmu yang mana (lagi)kah yang (akan) kamu dustakan?

Ar Rahman (QS;55)

yang aku baca sebelum Ramadhan, teringat olehku. Aku sempat diskusi dengan Abang kenapa Allah mengulang-ulang ayat itu sedemikian sering (31 kali) di surat Ar-rahman?. Muslim semestinya tahu ayat yang sangat sering dikutip ini.

Sungguh aku merasa tak banyak bersyukur, segalanya…rumah sederhana yang nyaman dan luas, walau bukan milik sendiri, suami dan anak-anak rahmat Allah, keluarga besar &  teman-teman yang menyayangi, pekerjaan yang aku sukai dan cintai, dsb, dsb… Kadang-kadang masih mengeluh hanya karena kendala-kendala kecil saja dalam hidup.

Terbayang ruangan kerjaku yang sejuk, AC mati saja bisa mengeluh. Terbayang nikmat yang ada: ruang biru kecil dimana aku bisa bekerja tenang sendirian dengan fasilitas internet, telepon, dll lengkap, kalau capek atau mau sekedar refreshing bisa jalan-jalan ke kebun belakang-menikmati awan, pohon, kupu-kupu, bahkan kuini atau jambu kalau lagi berbuah….atau sekedar meluruskan punggung di karpet di ruanganku…kadang-kadang ke lapangan dan enjoy bekerja di alam, anak-anak, guru-guru, teman-teman mahout dan gajah-gajah di camp…

Belum lagi nikmat tak terhitung tentang kemudahan rezeki, kesehatan, keselamatan lahir bathin, kenyamanan, tawa anak-anak yang membuat bahagia, dsb..tak bakal terhitung nikmatNYA.

Ya Allah sungguh aku banyak berkeluh kesah, padahal rahmatMu tak terhitung. Jauhkan aku dari mendustakan NikmatMu…

Fabiayyi aalaai robbikumaa tukadzziba..

Maka nikmat mana lagi yang kan kau dustakan??

Tulisan Sebelumnya »