Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Ia yang bertahta

Ia yang bertahta
: Pedro

Ia yang membawa senyum pada indah pucuk-pucuk cemara
yang semi bersama kilau daundaun tertimpa cahaya
Gairah bunga

Ia yang menari bersama kepak sayap-sayap bangau di atas kita
Menggapai asa
Ia yang lebih hangat dari lembut embun dipagut mentari
Pagi merekahkan wangi melati
Menggetarkan senarsenar nada di kalbu, di ruh, di jiwa, di tubuh, utuh seluruh

Ia yang bertahta
Tak hendak pergi

Lalu
Kalau nyata ia cinta
Mengapa mesti menyiksa?

Hutan Kota Banda Aceh, 1 Januari 2017


Tinggalkan komentar

Cinta itu Peduli

CINTA ITU PEDULI

“Dear world, there’s intense bombing right now. Why are you silent? Why? Why? Why? Fear is killing me & my kids. – Fatemah #Aleppo

https://twitter.com/hashtag/aleppo

Terbangun sebelum Subuh dengan Aleppo di kepalaku, di hatiku membayang. Begitu juga Rohingnya, Palestine, segenap negeri-negeri Muslim yang dizolimi, serta negeriku yang mulai gonjang ganjing, fitnah bertebaran merisaukan kalbu…Bahkan juga serupa Tibet yang masih saja dijajah. Dan tak banyak yang Peduli. Ya Rabb Segala Maha, tempat bergantung segenap makhluk, tuntun jiwa pada kejernihan, bening di dalam terpalung batinku…hanya berisi cahayaMu, tak meragu sedikitpun. Semoga engkau berikan kekuatan untuk berbuat lebih tak hanya doa.

Aku bisa saja pura-pura tak mau tahu, tak peduli dengan keriuhan di jagad maya tentang kekejian luarbiasa yang sudah terjadi di sana, di negeri-negeri cinta seharusnya bertahta. Namun batin tak bisa diam, bergejolak di dalam…aku bisa saja pura-pura ‘cool’ tak menyentuh-nyentuh masalah kejadian ini pada status-status di medsos…namun nurani berteriak walau suara tercekat di tenggorokan….

Kupertanyakan kenapa semua bisa terjadi, dengan kebodohan menyalah-nyalahkan Engkau…Alhamdulillah, insya Allah Kau tuntun hati untuk senantiasa berprasangka baik kepadaMu. Dari sisi kami, mungkin semua terjadi agar kami lebih peduli, menolong saudara-saudara kami yang dizalimi….lebih menghidupkan hidup dengan keluar dari kenyamanan diri untuk lebih berbuat apa yang kami mampu, serta memanjatkan doa-doa ke langitMu, izinkan Engkau ijabah Ya Rahman, Ya Rahim…Juga sebagai cobaan ketika kami ingin dimasukkan ke dalam golongan beriman. Semoga Engkau kuatkan kami, Ya Allah Rabb kami, Ya Aziz…Tentunya hanya engkau yang Maha Haqq atas segala ketetapan kejadian di dunia ini.

Dan tak lupa rasa syukur aku terbangun di tanah yang azan masih berkumandang  dengan bebas dan indah…burung-burung masih berkicau menemani pagi, udara murni masih kami miliki. Dan sungguh memalukan diri ini ketika masih mengeluhkan hal-hal kecil, sementara di sana di negeri-negeri yang dizalimi, saudara-saudara kita berjuang demi nyawa, wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang dianiaya, dan segala yang tak sanggup kutanggungkan bahkan melihat foto-fotonya saja, tubuh melunglai, ruh berasa terbang tak berdaya…

PondokCinta, Darussalam 16 Desember 2016

*******

*Selalu teringat sajakku ini yang kutulis saat terjadinya Konflik Aceh 2003, dan kutulis lagi untuk Palestina di blogku : Putirenobaiak

https://putirenobaiak.wordpress.com/2009/01/14/doa-saja-tak-cukup/

PUISI PAGI DI TANAH KONFLIK

Puisi pagi adalah salak senjata
jerit anak-anak dan wanita

Puisi pagi adalah elegi dan darah dan darah…
panas dan gerah
ketika kasih tak lagi punya makna

Puisi pagi adalah nyeri hati
dan diriku yang bisu, beku, kaku
sebab tak mampu melakukan apa

Tuhan, aku kehilangan kata
Tuhan aku kehabisan doa.

BNA-Kontak senjata, 4 July 2003

.

Kutipan dari tulisan lalu;

“…Mungkin penderitaanku dulu waktu konflik Aceh tidak sebanding dengan apa yang dialami saudaraku di Palestina, tapi aku tahu bagaimana rasanya lari ditengah terjangan peluru. Harus tiarap ketika ada kontak senjata, pergi ke pantai dambaanmu, dan bertemu mayat. Atau tiba-tiba terbangun Subuh, di depan rumahmu orang membuang tubuh-tubuh tak dikenal, yang hancur, remuk. Dan melihat saudara dan temanmu sendiri di hajar orang-orang tak berperikemanusiaan. Itu baru sedikit. Belum lagi penindasaan, pemerkosaan, harta, tanah yang dijarah. Apa kau pernah mengalami itu? Dan tsunami misalnya, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya ‘dihajar’ tsunami kalau tak ada disitu. Jadi jangan mencela, mendingan diam kalau tak peduli! Hatiku sakit…”

 


Tinggalkan komentar

Sastra yang melembutkan hati, keseimbangan jiwa dan Andrea Hirata.

Kuberitahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dari perjalanan menggapainya

(Andrea Hirata–Maryamah Karpov)

Minggu lalu nonton ulang Film Laskar Pelangi di TV, jadi rindu baca novel. Lamaaa banget aku gak baca-baca novel lagi. Kalau baca macam-macam sih harus setiap hari, membaca bagiku adalah kebutuhan dan relaksasi.

Sejak kecil aku kegilaan membaca novel, mungkin sudah ratusan novel dalam dan luar negeri yang aku baca. Baca novel, khususnya sastra, sesuatu banget bagiku. Kalau kata temanku sastra itu melembutkan hati. Jadilah aku baca ulang lagi novel Laskar Pelangi, baru Buku ke-1 sih ya, dan nggak seperti dulu aku bisa menamatkan satu novel setebal 500 halaman lebih hanya satu hari…sekarang belum separuh sejak beberapa hari lalu, waktunya sempit, mataku juga nggak tahan lagi lama-lama memelototi huruf.

Kalau baca tulisannya Andrea Hirata, rasanya tak mau melewatkan satu hurufpun, menurutku, dia satu-satunya penulis Indonesia yang paling ajaib cara menulisnya, bisa bikin ketawa sendiri, haru-biru, puitis, romantis, kadang diam-diam sabak mataku. Setiap kata adalah makna yang berharga…wuih segitunyaaa. Memang aku ngefans berat pada caranya menulis, kelihatan kalau penulis ini cerdas dan punya pengetahuan yang luas plus rasa sastra yang tinggi. Walaupun pada keterangan di novelnya disebut dengan “Cultural Literary Non-fiction”, entahlah kenapa disebut begitu.

Aku sering mengingatkan anak-anakku agar mau membaca novel dan/atau karya sastra yang bermutu, ketiga anakku malas membaca novel, sukanya baca komik, nge-game dan nonton film. Walaupun mereka baca novel klasik (pengertiannya yang dicetak, bukan e-book), nggak tamat-tamat tuh bacanya. Kalau kata si Sulung zamannya sudah beda, anak-anak sekarang bukunya e-book, electronic book. Baca-bacanya di gadget. “Lha mama juga tau kaleee,” kataku. Walaupun kalian berasal dari Generasi Z dan mama dari Generasi X, gak ketinggalanlah. Malah kami lebih beruntung dapat menikmati sekaligus perkembangan teknologi mulai dari TV hitam putih, kamera yang pakai film, mesin ketik yang kalian tidak mengenalnya, dsb yang kuno-kuno. Sedangkan kami beruntung juga bisa menikmati era digital, cyber, internet sekarang ini. Baca karya fiksi itu nak, kataku, mengembangkan imajinasi lebih daripada nonton, beda dengan nonton film, ada efek “buzz” ke adrenalin dan hormon endorfin, serotoninmu,dsb.

Kalau dari novel-novelnya Andrea Hirata, aku merasakan sekali indahnya petualangan di alam, ini yang sering aku “hasut-hasutkan” kepada anak-anakku, hiduplah dengan seimbang nak, antara dunia digital dan alam sekitar yang indah, menenangkan batin. Aku mau mereka mencintai alam, seperti ortu-nya ini yang betah sekali di hutan rimba ataupun kampung-kampung yang sepi. Mengingatkan akan yang empunya alam, Allah Sang Maha Indah.

Intinya, hidup itu harus seimbang, jangan tenggelam dengan teknologi digital saja, bacalah juga karya-karya sastra bermutu, yang belum ada e-booknya di perpustakaan konvensional, atau darimanalah. Walaupun buku memerlukan pohon untuk membuatnya, buku-buku bermutu menyumbang banyak untuk perbaikan generasi. Ilmu coy, ilmu! Bukankah ilmu menggairahkan? Buku juga memperkaya jiwa. Jadi nggak sia-sia pohon mengorbankan dirinya.

Untuk anak-anak Mama tercinta;
Bang Ufi, Bang Uqan, Adek Naysa serta Pencinta Sastra & Alam.

PondokCinta Darussalam, 21 September 2016
Tulisan lamaku tentang Andrea:
https://putirenobaiak.wordpress.com/2008/12/10/cinta-gila-dan-mimpi/
http://putirenobaiak.blogspot.co.id/2008/09/andrea.html