Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…


Tinggalkan komentar

Pelukan

Pelukan.
Ini tulisan yang lama ada di benak baru sempat ditulis. Yang membuat risau setiap berjauhan dengan kekasih-kekasih tercinta, merindu pelukan mereka, terutama si kecil yang tak disadari sudah besar sekarang. Namun masih saja kalau jauh rasanya ada yang hilang setiap mau tidur tidak memeluk gadis kecilku.

Pelukan juga yang membuat aku gamang gak berani mengajukan beasiswa dulu untuk melanjutkan kuliah. Nggak sanggup ninggalin anak tertuaku yang waktu itu masih balita. Apalagi sampai jauh keluar negeri, ih kejam banget rasanya.

Sehubungan anak, aku Ibu yang cengeng yang nggak sanggup berpisah lama-lama dengan anak. Pertama nyoba ninggalan anak waktu kerja Banda-Aceh Medan, malam mewek diam-diam sendiri di kantor.. hehe…Kemudian waktu pekerjaan mengharuskan aku ke lapangan bisa sampai 2 minggu, aku bawa si bungsuku yang waktu itu masih sekitar 5 bulan, sekalian sama Kakak yang mengasuhnya, alhamdulillah istri teman yang baik hati belum punya momongan waktu itu…Indah juga kenangannya ada drama-dramanya waktu my baby digigit pacet dan agas di camp tercinta di pinggir Taman Nasional Gunung Leuser…cemen bener memang aku sebagai Ibu, nangis lagi diam-diam, padahal ya biasa saja, kalau ngaku pencinta alam ya digigit pacet hal kecil hehe… Temanku malah bawa bayinya 5 bulan masuk hutan. Si kecil mah happy banget bisa mandi-mandi dan main dengan gajah di Hidden Paradise, Tangkahan.

Bagaimanapun, hidup adalah pilihan-pilihan kita, ada Ibu yang sukses dengan karirnya tapi tetap sukses menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, istri yang baik bagi suaminya. Ada yang memilih jadi full time mother, juga ok ok saja, asal dilakukan dengan ikhlas, happy…tak ada yang lebih mulia, nilai kesuksesan disisi Allah hanya yang bertakwa, bukan seberapa tinggi jabatan kamu, seberapa hebat kamu di mata manusia. Aku sendiri dari kecil selalu memilih melakukan apa yang aku sukai saja, mengikuti kata hati, dan menyandarkan padaNya, Allah Maha Cinta, agar menuntunku. Tak peduli kalau orang lain menganggap pilihan-pilihanku tidak keren.

Jadi apa hubungan dengan pelukan? Ya itu…pilihlah apa yang hendak engkau peluk, jangan lepaskan dalam hati, sebab secara fisik kita bisa berjauhan, hati tak henti memeluk. Apakah itu kekasih-kekasih, mimpi-mimpi, cita-cita, dsb.

Bagilah pelukan dengan sesama manusia, makhluk Allah yang lainnya, menyayangi, memperhatikan, berempati, bersimpati. Jangan khawatir kalau masih sendiri, di sekeliling banyak anak-anak yatim, orang miskin, dll yang butuh pelukanmu… Bahkan kucing liar yang korengan kelaparan, burung-burung yang kehausan di musim kemarau, dsb.

Nah khusus bagi jomblo galau, banyak yang bisa di peluk di mana saja, bergeraklah…tangkap hehe…tangkap peluang gitu, yang bingung nggak tau mo ngapain duh bego amat siih, aku aja kepingin ini itu gak sempat-sempat, lakukanlah hobi, traveling asik tuh, motret kek, manjat-manjat dinding kek, bantu-bantu organisasi kemanusiaan, lingkungan…so much to do guys..aku aja gemes pengen ikut-ikut lagi di NGO sebagai relawan, namun belum bisa…ajak dong 😊

Peluklah cita-cita, raih dengan cinta. Ikuti kata hati, jiwa, ruh yang terhubung denganNya, bukan dengan syaiton hehe…

Peluklah pohon-pohon, bunga-bunga, sirami dengan cinta…boleh juga sambil nyanyi, nari kayak film India…haaa….
Memeluk, membahagiakanmu, asal….jangan memeluk pasangan orang lain, boleh si dicoba asal berani menanggung resikonya…

PondokCinta Darussalam, 20 Desember 2017
*Berakhir dengan beat “Kekasih yang tak dianggap” di lappie,…di luar gerimis mulai berhenti, aroma usai hujan yang kusukai…rindu aroma alam
Membiasakan lagi menulis, for love, for detox
12.20

 

 

 

 

 

Iklan


Tinggalkan komentar

Ia yang bertahta

Ia yang bertahta
: Pedro

Ia yang membawa senyum pada indah pucuk-pucuk cemara
yang semi bersama kilau daundaun tertimpa cahaya
Gairah bunga

Ia yang menari bersama kepak sayap-sayap bangau di atas kita
Menggapai asa
Ia yang lebih hangat dari lembut embun dipagut mentari
Pagi merekahkan wangi melati
Menggetarkan senarsenar nada di kalbu, di ruh, di jiwa, di tubuh, utuh seluruh

Ia yang bertahta
Tak hendak pergi

Lalu
Kalau nyata ia cinta
Mengapa mesti menyiksa?

Hutan Kota Banda Aceh, 1 Januari 2017


Tinggalkan komentar

Cinta itu Peduli

CINTA ITU PEDULI

“Dear world, there’s intense bombing right now. Why are you silent? Why? Why? Why? Fear is killing me & my kids. – Fatemah #Aleppo

https://twitter.com/hashtag/aleppo

Terbangun sebelum Subuh dengan Aleppo di kepalaku, di hatiku membayang. Begitu juga Rohingnya, Palestine, segenap negeri-negeri Muslim yang dizolimi, serta negeriku yang mulai gonjang ganjing, fitnah bertebaran merisaukan kalbu…Bahkan juga serupa Tibet yang masih saja dijajah. Dan tak banyak yang Peduli. Ya Rabb Segala Maha, tempat bergantung segenap makhluk, tuntun jiwa pada kejernihan, bening di dalam terpalung batinku…hanya berisi cahayaMu, tak meragu sedikitpun. Semoga engkau berikan kekuatan untuk berbuat lebih tak hanya doa.

Aku bisa saja pura-pura tak mau tahu, tak peduli dengan keriuhan di jagad maya tentang kekejian luarbiasa yang sudah terjadi di sana, di negeri-negeri cinta seharusnya bertahta. Namun batin tak bisa diam, bergejolak di dalam…aku bisa saja pura-pura ‘cool’ tak menyentuh-nyentuh masalah kejadian ini pada status-status di medsos…namun nurani berteriak walau suara tercekat di tenggorokan….

Kupertanyakan kenapa semua bisa terjadi, dengan kebodohan menyalah-nyalahkan Engkau…Alhamdulillah, insya Allah Kau tuntun hati untuk senantiasa berprasangka baik kepadaMu. Dari sisi kami, mungkin semua terjadi agar kami lebih peduli, menolong saudara-saudara kami yang dizalimi….lebih menghidupkan hidup dengan keluar dari kenyamanan diri untuk lebih berbuat apa yang kami mampu, serta memanjatkan doa-doa ke langitMu, izinkan Engkau ijabah Ya Rahman, Ya Rahim…Juga sebagai cobaan ketika kami ingin dimasukkan ke dalam golongan beriman. Semoga Engkau kuatkan kami, Ya Allah Rabb kami, Ya Aziz…Tentunya hanya engkau yang Maha Haqq atas segala ketetapan kejadian di dunia ini.

Dan tak lupa rasa syukur aku terbangun di tanah yang azan masih berkumandang  dengan bebas dan indah…burung-burung masih berkicau menemani pagi, udara murni masih kami miliki. Dan sungguh memalukan diri ini ketika masih mengeluhkan hal-hal kecil, sementara di sana di negeri-negeri yang dizalimi, saudara-saudara kita berjuang demi nyawa, wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang dianiaya, dan segala yang tak sanggup kutanggungkan bahkan melihat foto-fotonya saja, tubuh melunglai, ruh berasa terbang tak berdaya…

PondokCinta, Darussalam 16 Desember 2016

*******

*Selalu teringat sajakku ini yang kutulis saat terjadinya Konflik Aceh 2003, dan kutulis lagi untuk Palestina di blogku : Putirenobaiak

https://putirenobaiak.wordpress.com/2009/01/14/doa-saja-tak-cukup/

PUISI PAGI DI TANAH KONFLIK

Puisi pagi adalah salak senjata
jerit anak-anak dan wanita

Puisi pagi adalah elegi dan darah dan darah…
panas dan gerah
ketika kasih tak lagi punya makna

Puisi pagi adalah nyeri hati
dan diriku yang bisu, beku, kaku
sebab tak mampu melakukan apa

Tuhan, aku kehilangan kata
Tuhan aku kehabisan doa.

BNA-Kontak senjata, 4 July 2003

.

Kutipan dari tulisan lalu;

“…Mungkin penderitaanku dulu waktu konflik Aceh tidak sebanding dengan apa yang dialami saudaraku di Palestina, tapi aku tahu bagaimana rasanya lari ditengah terjangan peluru. Harus tiarap ketika ada kontak senjata, pergi ke pantai dambaanmu, dan bertemu mayat. Atau tiba-tiba terbangun Subuh, di depan rumahmu orang membuang tubuh-tubuh tak dikenal, yang hancur, remuk. Dan melihat saudara dan temanmu sendiri di hajar orang-orang tak berperikemanusiaan. Itu baru sedikit. Belum lagi penindasaan, pemerkosaan, harta, tanah yang dijarah. Apa kau pernah mengalami itu? Dan tsunami misalnya, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya ‘dihajar’ tsunami kalau tak ada disitu. Jadi jangan mencela, mendingan diam kalau tak peduli! Hatiku sakit…”