Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Renungan pagi; nikmat tersembunyi

2 Komentar

Jalan pagi, (sebenarnya agak kesiangan sih, ngurus keluarga dulu)–selalu membuatku banyak berpikir dan merenung, sambil manapaki jalan di seputaran kampus Unsyiah, Darussalam.

nyiur

Aku memang memaksa diri untuk olahraga, udah disuruh dokter sih. Tapi yang menyenangkan adalah waktu “me time” sambil menikmati segarnya udara di bawah naungan pohon-pohon trembesi, mahoni, cemara, kembang tanjung dsb. O, aku selalu cinta pohon! Bersyukur aku diberi kesempatan bisa tinggal di lingkungan yang nyaman dan menyenangkan seperti Darussalam ini. Aku selalu berpikir betapa beruntungnya mereka yang bisa tinggal di Kompleks asri yang kulewati, rumah yang nyaman dengan pohon-pohon, lingkungan yang baik, tetangga yang baik. Fasilitas yang lengkap. Mungkin banyak yang tidak menyadarinya. Sekarang saja, ketika asap meracuni saudara kita di beberapa provinsi, betapa mirisnya. Sampai juga sih asap ke sini, syukur nggak terlalu mengganggu dan masih ada hujan.

Nikmat Allah kadang terasa saat kita telah kehilangan. Baru sadar ternyata tak terhitung banyaknya nikmat itu. Yang sering terlupa seperti lingkungan rumah yang nyaman. Bagaimana kalau kita hidup di negeri dimana golongan minoritas dizalimi seperti Muslim di Myanmar? atau daerah konflik seperti Palestina, Suriah, Yaman dsb saat ini. Oh Tuhan, hatiku selalu pedih mengingat ngerinya hidup dibawah ancaman, desingan peluru, kezaliman…Jadi ingat waktu konflik Aceh yang mengerikan, tak terlupa dari ingatan. Dar der dor tembakan, gelegar bom, mayat-mayat…merasakan tiarap-tiarap karena di luar rumah ada kontak senjata. Rasanya tak tertahankan. Itupun masih jauh lebih ringan daripada penderitaan saudara kita di Palestina yang dizalimi Israel.

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk mereka saudara-saudaraku yang terzalimi di berbagai belahan dunia ini. Kadang miris hati bertanya; “Hari gini masih saja manusia menjajah?” Seperti Israel menjajah Palestina dan China yang masih belum membebaskan Tibet.

Syukur itu datang saat kita bisa bersimpati, berempati, membandingkan keadaan orang-orang yang terzalimi dengan kita di Indonesia ini. Jauh masih lebih baik, walau carut-marut disana sini, tapi aku selalu yakin masih banyak orang baik di negeri tercinta ini. Alangkah sedih-pedihnya kalau kita tidak bisa beribadah dengan bebas misalnya, nggak bisa mendengar sahut-bersahut azan dari Subuh ke Subuh. aku selalu takjub mendengarnya, terutama di waktu subuh yang sepi.

Sungguh tak terhitung nikmat karuniaMu ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, berkahi kami dengannya, selamatkan negeri tercinta dari pemegang amanah yang khianat…

PondokCinta Darussalam, 11 Oktober 2015, 00.03

Iklan

2 thoughts on “Renungan pagi; nikmat tersembunyi

  1. Ambo anak kampuang, juo suko jo pohon pohon. 🙂

  2. beruntung yo alris kito jadi anak kampuang, pueh main di alam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s