Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Lebih indah berkelana

3 Komentar

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.
QS. al-Mulk (67) : 19

Ini posting memenuhi janjiku pada adikku Ricky, (masih ingat janji kan aku diak?). Janji burung hehe…eh janji nulis tentang burung. Beberapa waktu lalu aku komen pada profil FB Ricky yang berupa burung sangat cantik dari Irian, Cendrawasih.

Seperti pengakuannya, doi adalah pencinta burung. Kami di rumah juga pencinta burung-burung, tapi yang terbang bebas, lepas, bukan yang ditangkap, bukan yang disangkarkan. Tak banyak foto yang bisa di pamerkan, karena bak kata peribahasa; jinak-jinak merpati, –walau bukan merpati–burung-burung liar ini juga jinak-jinak liar, sulit sekedar untuk di jepret. Ketika aku duduk diam di kebun, mereka tidak tahu, tapi kalau tiba-tiba bergerak ingin menjepret, byaaar! Mereka langsung terbang menjauh. Gregetan pengen punya lensa zoom yang bisa nge-shoot jauh.

Tanggal 19 Juni lalu, Abang memanggilku ke kebun, suruh lihat ada sarang burung imut dipohon beringin setinggi kira-kira 50 cm dari tanah, dan ada anak burungnya! Bagi kami itu luar biasa, sebab burung jenis ini (kata Abangku jenis murai liar) biasanya membuat sarang dipohon tinggi. Kagum dan surprise aku melihatnya. Abang memberinya ceri dengan memencet ke paruhnya, spontan anak burung imut sekali yang belum tumbuh bulu itu, mengangakan paruhnya, melahap air ceri yang tumpah. Subhanallah, bagiku itulah pemandangan yang asik.

Rasanya seperti anak kecil kami tertawa bersama. Lupa, aku mau teriak memanggil anak-anak. Abang melarangku, katanya jangan, nanti kalau Uqan cerita ke teman-temannya pasti anak-anak itu langsung mau mengambil anak burung itu. Begitulah sebagian besar anak-anak kita dibesarkan, kalau melihat burung, yang ada dalam kepala mereka adalah tangkap! Tak tahu sama sekali bahwa makhluk hidup lain punya hak untuk hidup, bukan di tangkap untuk kesenangan bahkan keisengan manusia semata. Pelan-pelan sih anak-anak ini aku kasih pendidikan lingkungan juga kalau lagi main di rumah. Burung-burung misalnya, berperan besar dalam menjaga hutan, menyebarkan biji-bijian, menjaga keseimbangan alam dan tentunya memberi keindahan dengan warna dan bentuknya yang beragam, cantik.  Kenyataan di sekeliling, bahkan orang dewasapun tak banyak yang peduli pada burung-burung liar itu. Akhirnya hanya Naysa yang aku gendong melongok ke dalam sarang mungil itu. Itupun sebentar saja, karena Sang Induk datang, lagi-lagi menurut info Hubbie, dia mencoba memarahi kami dengan suaranya yang dibesarkan sebab telah mendekati anaknya! Naluri makhluk Allah melindungi bayinya!

Kini burung mungil ini sudah bisa terbang. Aku belum berhasil melihatnya dari dekat. Kemarin susah payah aku mengintipnya di atas pucuk-pucuk pohon Seri, ingin melihat, tapi sulit sekali karena induknya sangat hati-hati menjaga anaknya, mendekat sedikit, langsung terbang mereka.

Mereka sudah jadi sahabat kami sejak ada kebun di rumah. Semakin kebun ini tak terpelihara (karena si Abang yang biasa merawat sering bolak-balik ke Aceh dan aku sekedar menyiram), serta semakin mirip hutan, semakin banyak makhluk-makhluk Tuhan suka mampir, selain burung; kupu-kupu, kumbang, kalong, bahkan tikus pohon dan musang.

Awalnya sepasang balam ini suka main di kebun kalau kami lagi di dalam rumah, kemudian menjadi 3 ekor (mungkin anaknya). Kadang-kadang Abang menaruh biji-bijian di tanah dan mereka makan. Kami sih hanya bisa mengintip dari balik jendela.

Aku heran sekali kalau ada orang yang tidak suka alam, bagi kami memperhatikan burung-burung liar melompat dari dahan ke dahan saja, sangat indah! Percayalah, alam adalah sumber kebahagiaan, jagalah dengan membiarkan mereka hidup sesuai sunatullah. Kalau tak bisa melakukan upaya penyelamatan alam, seminimalnya, jangan menganggu apa yang sudah diciptakan Allah dengan harmoni di alam ini.

Dulu di Aceh aku kadang-kadang ikut teman Mengamati Burung, menyenangkan.

Foto: murai liar, balam, dijepret oleh my love: Mustafa Ramly 😀

RuangBiru, 8 Juli 2010—Sudah lama kutulis sejak Juni lalu, baru selesai hari ini 😀

Links: Birds flying

Iklan

3 thoughts on “Lebih indah berkelana

  1. undanglah mereka dengan menanam pohon di sekitar rumah … karena “Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah”

    • wah ada mas ben, makasih yah dah mampir, aku baru tau kalau mas punya blog…

      good idea, kapan2 aku ajak anak2 nanam2.

  2. woowwwww..bisa liat burung murai dans sangkarnya …

    cantik bener yaah..

    ngomong ngomong berkelana aku suka berkelana uni
    dan malah hobby kali ye 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s