Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Rayuan Lambai

8 Komentar

Ritual senja yang biasa aku lakukan adalah duduk atau tiduran di balai-balai halaman belakang, meluruskan punggung yang pegal seharian duduk di depan monitor. Menikmati senja yang jingga, berbagi segelas besar kopi dengan cinta. Kadang-kadang anak-anak menemani. Senja itu langit biru jernih, sesuatu yang mahal untuk Kota Medan yang berpolusi.

Sejak dari jalan sepulang kantor, aku dan Nay sudah memperhatikan layang-layang yang cukup banyak di langit, satu indah sekali bak burung elang. Aku teruskan menikmati langit biru, secercah awan putih di sana sini, dan layang-layang yang melenggok indah. Tiba-tiba, satu melayang mengarah mau jatuh ke arah kebun kami.

“Woi lambai, lambai!” anak-anak berteriak. Oya anak-anak Medan menyebut layangan yang putus layang lambai.

Spontan aku dan abangpun ikutan mengejarnya. Benangnya nyangkut di pohon seri, tapi layangannya di luar pagar kami, di jambu tetangga. Yaaah akhirnya keburu diputus anak-anak…hehe…kami kalah! “Lumayanlah dapat benangnya, “ kata si abang. Aku baru tahu asyiknya mengejar layangan, serunya itu loh, padahal mengejarnya cuma di dalam pagar doang (kebun kami). Selanjutnya kami tunggu-tunggu lagi lambai baru, sambil menonton layangan di langit.

“Sayang di sini layangannya begitu-begitu aja ya Pa? Kurang indah,” kataku.

“Iya kan itu layangan aduan, buat di adu!” jawab suamiku.

“Lha diadu toh, dasar orang Medan, semua mau diadu!” “Judi nggak?” tanya ku lagi.

“Kayanya nggak sih, saling adu aja, biar lawannya jatuh.”

“Coba kayak layangan di Bali ya,” kataku. Adikku yang tinggal di Bali pernah bercerita soal pesta layangan. Aku juga melihatnya di TV.

“Dan di Jepang,” kataku lagi. “Layang-layangnya dahsyat.”

Aku jadi teringat layangan semasa aku kecil dulu, di kotaku teman-teman layangannya pada bagus-bagus, dengan ekor yang panjang banget menurutku waktu itu. Aku sendiri nggak sempat main layangan waktu kecil, mungkin karena kelas 1 s/d 6 SD rumahku di daerah pasar (preman pasar ternyata), barulah setelah SMP dekat lapangan besar dan halaman cukup luas. Waktu itu sih mainannya bukan lagi layangan.

Kebun kami entah mengapa sering menampung layang-layang yang jatuh. Anakku Uqan sudah mengumpulkan banyak lambai, dia sengaja mengganjal pintu pagar agar anak-anak lain gak bisa masuk ke dalam buat mengambil. Suatu kali dengan bangga dia bilang dia sudah jual lambainya ke Bang Rubi anak tetangga 6 buah! Hehe…lucu juga dia. Kalau aku sih khawatirnya mereka merusak tanaman. Aku pernah bertanya  berapa sih harganya satu layangan kecil segi empat itu? Ternyata hanya Rp 500!

“Ya ampun nak, layangannya cuma gopek, kalo ketabrak udah bahaya, kena berapa duit lagi?” Juga kalau anak-anak menginjak tanaman Papa, mana ada yang harganya gopek!” Aku selalu cemas kalau anak-anak ikutan mengejar layangan, masalahnya mereka mengejarnya di jalanan, banyak kendaraan, walaupun jalanan kompleks.

Begitulah di kota, anak-anak banyak yang kehilangan lahan bermain. Tak ada yang menyediakannya, kecuali di kompleks mewah. Di jalanan depan rumahku, anak-anak, bahkan bapak-bapak muda sering bermain sepak bola, mengalih-fungsikan jalanan sebagai lapangan.

Aku sering prihatin akan hal ini, kota sebesar Medan saja sangat kekurangan ruang publik gratis untuk masyarakat.  Dibanding jumlah penduduknya, sangat sangat kurang fasilitas bermain-belajar di alam. Aku salut pada mereka yang mau meminjamkan lahan tidurnya untuk dimanfaatkan seperti dulu di dekat kantorku. Dari situ kami terinspirasi, sering mengizinkan anak-anak main di halaman depan, walau tak sebegitu luas lagi sebab halaman samping dan belakang sudah dipenuhi tanaman. Rumahpun kami pinjamkan buat Posyandu dan kegiatan-kegiatan seperti pilkada dll. Siapa ya yang mau memikirkan lahan bermain anak-anak?

Minjam gambar orang disini (photo’s link )

RumahCinta—Ayahanda Medan, 16 Februari 2010

Iklan

8 thoughts on “Rayuan Lambai

  1. walaupun cuman gopek, tapi kenangan-nya mahal buat Uqan kelak 🙂

    betul bundo, gakbisa dibeli ya

  2. jangan di hargai dengan gopek nya tapi coba lihat kebanggana kalo sudah dapat layangan nya 😆 tapi kalo mengandung bahaya bukan bagi si pengejar layangan aja jadi berpikir ulang untuk selembar kerta yang ada arku nya.
    salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    iya aku ngeri bahaya ngejar di jalanan sih mas…salam kenal ya, makasih sudah ke sini

  3. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Teringat waktu saya kecil paling suka ngejar layangan putus sampai kejebur sawah. Padahal ketika sudah ketemu malah saling rebut dan jadi rusak…

    tp jadi kenangan indah ya mas..anak2 kota sayang ngejarnya di jalanan ngeri

  4. layang-layang selalu menghadirkan kenangan-kenangan tersendiri, entah yang indah entah pula yang pahit

    ada yg pahit mas? putus ya talinya 🙂

  5. huh… jaman sekarang. jangankan untuk bermain, untuk mencuci saja susah.

    tapi anak2 bisa bermain dimana saja, di lapangan, di sawah, di rumah, bahkan di rumah sakit. 😀

    saya acungi jempol untuk kepedulian anda.

    salam kenal. 😀

    iya si mas, tp alangkah baiknya kalo di tempat yg aman dan nyaman ya

  6. unie..
    aku pernah maen layan9an loch
    hi hi..
    dan seru ban9ed klu n9ejar layan9an putus itu unie.. 🙂

    baca adu layan9an ajdi in9et ” the Kite Runner “unie…

    asik ya wi3nd, uni aja sebentar ngejarnya krmn 😀

  7. aku juga senang sekali melihat layang2 beraneka rupa.

    duluuu di masa kecil, ayahku selalu mengajakku melihat lomba layang2 yang diadakan setahun sekali di kota tempat tinggal kami, dan… saat aku masih kecil sekali itulah (aku lupa, tk atau sudah sd-kah waktu itu ya?) pernah sekali waktu karena tak berhati- hati bergerak, kakiku tersangkut layang2 yang hendak dilombakan itu dan… layangannya sobek di sudutnya!

    waduh.

    rumah kami dekat dan ayahku segera mencari kertas dan lem untuk menambal layangan tersebut dan tentu saja meminta maaf pada sang pemilik layangan yang untungnya tidak marah pada gadis kecil lasak yang menyebabkan layang2nya robek itu… 🙂

    d.~

    dimana tuh dee, di sini layangnya kurang keren, aku pengen liat yg cantik2 kek di bali ato jepang itu

  8. hahahha waktu kecilll..saya juga sering main layang2 tapi main pertak umpet ama mam karena klo ketahuan pasti dimarahin dan disuruh dirumah gak boleh huftt

    blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    maksih
    😀
    makasih bro…insya Allah ya tar, senang dah dikomen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s