Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Ditertawai Nurani (2)

2 Komentar

Rasa seiya sekata, sejiwa, bisa membuat buta akan kebenaran yang dibisikkan nurani. Dengan alasan pertemanan, solidaritas tanpa logika dan hati nurani, tanpa pikir panjang, orang-orang bisa tawuran, antar sekolah, antar kampung, antar komunitas…Kadang-kadang ketika dirunut-runut, tak ada yang tahu persis apa permasalahannya.

Demi kesetiakawanan tak berdasar, kita butakan matahati ketika melihat orang dekat kita melakukan kesalahan. Kita bisa hujat orang lain, tapi untuk teman, kita cukup mengatakan, ”dia khilaf”. Kalau teman yang korupsi, kita diam-diam aja, *kebagian siih…;)*

Pernah aku mengamati kelompok yang berseteru, aku tersenyum-senyum melihat orang-orang yang membela mati-matian temannya yang menurut penilaianku (dan orang-orang yang diluar lingkaran), nyata-nyata salah. Ada juga yang membela temannya yang serong, seolah-olah perzinaan itu adalah cinta suci bin sejati. Sangat jelas beda antara benar dan salah! Yang suci dan beraroma dosa.

Sebut saja satu alkisah lagi, dari perjalanan hidupku, aku mengenal seorang manusia dari negeri khayal-mengalahkan-akal. Manusia yang merasa dirinya Sang Kebenaran. Dengan kata-katanya yang bak mantra dia mengikat rasa orang-orang mendekat padanya…salut, hormat, percaya….Apalagi wanita, takluk hatinya! Namun kemudian ada kejadian yang memutar balikkan semua itu…Manusia ini yang dimata orang lain setara ustadz/ustadzah, bahkan kiyai, nyatanya hanyalah pembohong lihai dan hobi mendekati zina (zina beneran tentunya hanya ybs dan Tuhan yang tahu, dan orang2 dekat yang dibisiki pasangannya yang hobi mengumbar aib sendiri kesana kemari).

Berharap aku salah, nyatanya tak ada fakta yang mampu memutar balikkan semua dusta yang pernah dilakukannya padaku. Orang yang begitu kuhormati, bahkan menjadi panutan kami, aku dan suamiku, bahkan anak-anakku. Malah di dunia yang cukup aneh dan penuh misteri ini, dibalik aliran takdir yang kita lakoni, kadang-kadang suatu rahasia datang dan terungkap tanpa kita ingini, tanpa diminta, tanpa dicari-cari, datang sendiri. Aku semakin tersenyum pahit melihat apa-apa yang sudah dilakukannya. Ketika seseorang tega mengkhianati dan berulang-ulang membohongi belahan jiwanya, jujurkah itu? Manusia serupa ini, sangat lihai menyiasati setiap tindakannya agar terlihat suci.

Ada lagi seseorang yang rumah tangganya hancur karena perserongan pasangannya, eh sekarang dia sendiri mengulangi, entahlah karena dendam atau apa. Menurutnya sih, kalau pasangannya itu dulu selingkuh karena nafsu, dia sendiri selingkuh karena cinta sejati. Bah! Cinta sejati dengan zina, dengan pasangan syah orang lain? Otak aja yang udah pindah ke….(isi sendiri). Demikianlah untuk kesalahan sendiri kita begitu pintar mencari pembenaran.

Bisakah kita melepaskan diri dari solidaritas buta, dan melihat kebenaran dengan nyata, walau harus mengatakan yang salah ya tetaplah salah, bahkan ketika harus menghukum orang yang kita sayangi misalnya anak yang melakukan kesalahan? Mendampingi dengan cinta tentu syah-syah saja, tapi berlaku adil bisakah?

Demikianlah kita selalu mencari-cari pembenaran perbuatan kita yang sebenarnya di protes nurani. ”Ah diam sajalah kau! Tahu apa kau!” kata hati besar, nafsu, syahwat, bisikan maksiat. Kita? Yang kumaksud kita adalah siapa yang melakukannya, mudah-mudahan nggak ada di antara pembaca ya…;)

Setiap manusia punya nuraninya masing-masing, kebenarannya masing-masing, sembahan sendiri-sendiri. Tapi jika percaya bahwa nurani yang bertahta di jiwa, ruh yang ditiup kan Sang Maha Cinta adalah sumber kebenaran sejati, kita pasti akan mengakui, yang Maha Benar Hanya Satu, Al-Haqq. Bisikan nurani diberiNya kepada setiap manusia, saat ruh ditiupkan ke jasad fana, sebagai fitrah suci al-insan, makhluk yang khilaf. Ditiupkannya Asmaul Husna sesuai kadar manusia (merujuk tulisan-tulisan Pak Ewa dan beberapa buku Islam yang kubaca). Fitrah itulah yang kemudian kita warnai, coret-coret sesuka kita, awalnya tentunya oleh orangtua yang membesarkankan. Jika goresannya indah, merujuk ayat-ayat bening Sang Cinta, maka indahlah kita, walau mungkin ada beberapa sketsa yang harus di hapus dengan tobat, karena manusia khilaf, merapikan kembali gambaran sejarah fana, tiap kita.

Kita yang membutakan nurani, menulikan telinga jiwa. Tuhan akan benar-benar menutup matahati mereka yang menutupnya…

Begitulah nurani selalu menujuk-nujuk mukaku, menghujam kalbuku setiap kali aku tersenyum-senyum pahit mengamati ’panggung sandiwara’ di dunia sekelilingku, menujuk pada pelakon yang lucu, yang dusta, yang aneh, jahat, kejam, dsb yang nyata-nyata-nyata! Namun nurani kembali menertawakanku, ”emangnya kamu bersih suci? Nurani balik menunjukku.”Kemudian aku memilih menertawakan diri dalam sunyi. Soliloqui ini. Mungkin dalam sunyi bisa kutertawakan kebodohan diri dan berharap tak menjadi buta hati.

Notes: nama-nama disamarkan.

Iklan

2 thoughts on “Ditertawai Nurani (2)

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    setuju banget dengan yang ini;
    Tuhan akan benar-benar menutup matahati mereka yang menutupnya…”

    begitulah mas, aku tak ingin matahatiku tertutup

  2. bah..mana ada selin9kuh karena cinta sejati 👿 !

    selin9kuh ya karena nafsu *esmosi
    [maaf uni,pernah diselin9kuhi jd tidak ada kata maaf untuk perselin9kuh!]
    Ya Rabb,..
    jan9an tutup mata hati kami,
    izinkan kami untuk terus memperbaiki diri
    dan ja9alah hati kami dari itu semua,amien..
    topen9 yah uni,mreka?
    amiin, berharap matahati kita diterangiNYa ya dek…manusia itu paling pintar mencari pembenaran sikapnya. selingkuh adalah luka tak terlupa sepanjang usia, apalagi bagi yg sudah berkomitmen suci…berlindung sajalah padaNya dari itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s