Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Nekad nekad ke kuburan!

5 Komentar

DSCF0033Netrokona-Catatan Perjalanan 7

Catatan perjalanan ke-6

Secara lokasi, Netrokona adalah tempat yang paling sempurna untuk pelatihan. Penginapan dan ruang pelatihan terletak di satu gedung yang nyaman dan asri, milik Young Women’s Christian Association of Birisiri (YWCA-B). Udara sejuk, malah dingin, musim hujan sudah mulai. Makanannya enak, kamarnya nyaman dan bersih. Halaman penuh bunga-bunga. Satu saja kendala, hujan lebat menyebabkan sungai meluap di sekitar desa, peserta kesulitan datang, jadi datang agak siang. Walau tak seluruh program bisa diberikan, peserta tetap antusias, dan bersemangat.  Mungkin sudah jadi ciri Bangladeshi, mereka rajin dan sungguh-sungguh.

drama classKali ini aku kebagian kelas mengajar topik human-elephant conflict and human-elephant coexistence (konflik manusia-gajah, hidup harmonis bersama gajah) lewat drama, asyik deh, belajar lewat pementasan, jadi tidak membosankan.

Suku Garo

garo womanSecara fisik aku memang melihat perbedaan antara wanita Bangladesh pada umumnya yang mirip orang India, putih, coklat atau hitam (dulunya memang India) dengan suku yang tinggal di Distrik Netrokona ini. Pada malam Cultural Performance, aku dengar sekilas bahwa nenek moyang mereka berasal dari Tibet…”Ooo pantas, mata mereka rada sipit walau kulitnya gak terlalu putih seperti China,” dalam hati saja. Mereka cantik-cantik menurutku.

Mereka adalah Garo Tribe alias Suku Garo. Aku dan wawa merasa mereka mirip banget dengan suku Gayo di Takengon aceh Tengah, ada hubungan gak ya?

DSCF0025Aku sempat ngobrol  dengan mantan Sekretaris YWCA Ibu Pratima Daring ini. Beliau perempuan tua yang mengagumkan, Bahasa Inggrisnya asyik mudah dimengerti, wawasannya luas. Salah satu yang dikeluhkannya adalah bahwa wanita di daerah ini (khusunya Netrokona) sangat terkungkung, dibatasi oleh hukum Islam yang keras sehingga tidak bisa maju. Masih banyak yang tidak boleh keluar untuk bekerja. Aku mendengarkan dulu, kemudian ketika ada kesempatan aku bilang padanya, Islam sendiri tidak pernah mengikat wanita dan merendahkan kedudukannya, kalau ada penerapan yang salah, itu adalah salah manusianya. Aku ceritakan juga sedikit tentang Islam itu sebenarnya rahmatalilallamin. Ngerti gak ngerti terserah deh. Aku bilang juga di Indonesia wanita bebas mendapatkan haknya untuk pendidikan maupun bekerja di luar rumah, apakah dia Islam, Kristen, Hindu, dsb. Dan kami damai-damai saja. (Ya Allah, mudah-mudahan benar adanya Indonesia selalu damai).

Nekad nekad nekad…ke kuburan!

garo danceInilah aksi ternekad yang berani aku lakukan selama workshop. “Wawaaaa! Dikau harus bertanggungjawab Cik Gu!” Iya nih gara-gara Wawa, Cik Gu yang cantik dan pede itu memaksaku ikutan menari, katanya sih dipaksa Ayah…Katanya kami harus mengisi acara Cultural Performance malam kedua di Netrokona. Masa orang Indonesia gak bisa nari? Masa malu-maluin bangsa dan negara? Nah kalau udah bawa-bawa bangsa, susah kan menolaknya? Menari? Ah gampanglah, tiap hari aku menari di kamar tidur, di kamar mandi, di dapur, dengan Nay, dengan abang, tapi di depan publik? Duh sudah pensiun sejak SMA jadul!

Jadilah malam itu kami menari. Latihan dulu 10 menit sebelum performance, tari apa yah? Manortor aja…Lagu apa? Duh yang ada hanya lagu Kuburan di hape Wawa! Di hape-ku cuma ‘Knocking upon heavens door’, gak cocok banget!Yes kuburan cocok tuh buat manortor! Ya ampyuun untung gak ketahuan orang Batak….Bang Toga, jangan marahin kami ya! Lagi panik nih. Ya udah deal lagu kuburan, tari ciptaan Wawa, ada manortornya dikit, salam-salam dikit kiri kanan, goyang-goyang, mayanlah keknya…

Tapi apa yang terjadi? Kami mengajak Marimuthu ikutan. Lalu…terjadilah kerusuhan itu! Semua gerakan yang udah dihafal hilang, Marimuthu menari sesukanya dengan gaya sebebasnya, berdiri antara aku dan Wawa. Gak masalah sih, asaaaalll….perutnya dan fantat-nya gak nutupi Wawa dari pandanganku!  Begitu juga sebaliknya…kan tarian kita join. Daripada gak nyambung akhirnya aku nari sesukaku juga…Wawa gaya sendiri, Muthu sendiri. Penonton heboh ketawa jungkir balik (lebay!), Marimuthu sangat lucu gayanya. Tarian kacau tapi itulah fun-nya, akhir tarian waktu lagu Kuburan ada bercakap-cakap itu, kami pura-pura bertengkar, nonjok-nonjok, Wawa ninju Marimuthu beneran sambil ketawa-ketawa.Ya ampyuun…ampun deh, tarian usai penonton minta more! mDSCF0884ore! Dua gadis Bangla temanku Samia dan Sunny yang manis, yang tadinya malu-malu jadi  terinfeksi melihat kami berani nari. “C’mon once more Merry, once more Wawa!” Nari lagi…nari lagi…Maaak…!

Aku wanti-wanti jangan sampai di upload tuh video sama Mayeen atau Samiul. Untunglah mereka gak sempat ambil video, tapi hampir semua penonton merekam di hapenya! My God! Sampai saat ini aku dan Wawa gak punya dokumentasinya *takut-takut ada yang upload* Malam itu, gadis-gadis Bangladesh satu timku, cantiiik sekali, mereka dandan beda, ada yang pakai sari, hari biasa tidak.

Syukurlah gak ada aku di foto ini 😉

(kiri kanan tmn2 educator:  Mayeen, Samia, Peserta, Sunny n Marimuthu)

RumahCinta, 7 Juni 2009

Iklan

5 thoughts on “Nekad nekad ke kuburan!

  1. Jangan2, tulisan inipun dibuat sambil menari 😀

  2. hehe tau aja Mas, nari2 palanya doang, lagi dengerin “smoke on the water’ Deep Purple, jadul bgts ya :d

  3. Ada foto Uni yang lagi pake sari ga? hehe… 🙂

  4. Ping-balik: Tim kami « Alam Takambang Jadi Guru

  5. populasi gajah dan manusia butuh wilayah untuk kehidupan, manusia lah yang wajib mengatur kerena diberi akal yang lebih dari mahluk lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s