Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Perjalanan Chittagong-Dhaka-Sherpur, 25-29 Juni 2009

2 Komentar

Catatan Perjalanan Bangladesh 5

berhenti ngeteh

Beginilah suasananya kalau kami berhenti minum teh,

ditonton penduduk desa

(kiri-kanan: Gawsia, Wawa, Samia, Marimuthu)

Catatan perjalanan ke-4

Usai Workshop pertama yang mengesankan, sesegera mungkin kami kembali ke hotel, bersiap-siap untuk kembali ke Dhaka dan menuju lokasi ke dua: Sherpur. Mampir dulu untuk nge-Cai, aku rindu kopi, oh tetap tak ada walau di restoran besar. My God, kasian ya aku :D. Kami makan semacam martabak telor (gak tau Bahasa Bangla-nya), enak banget.

Keluar restoran, aku sangat bersemangat mau jepret-jepret walau malam, ada deretan toko yang menarik menjual pakaian anak-anak yang meriah euy! Dominasi warna merah! Ternyata apa yang terjadi? Kami segera dikelilingi banyak orang, astagaaa. Kenapa ya? Mereka menonton kami, terutama, Heidi yang bule, aku dan Wawa. Mereka merasa kami makhluk aneh kali yaaa…Ini selalu terjadi setiap kali kami berhenti untuk minum teh pada perjalanan berikutnya, di daerah pedesaan, terutama di pasar. Bahkan ketika Heidi ‘bule’ sudah pulang duluan karena ada pertemuan lain di China, aku dan Wawa masih tetap menjadi tontonan, dan sebagian besar penduduk yang keluar adalah lelaki, sebab perempuan Muslim Bangladesh terutama di desa, jarang keluar rumah. Yang belanja ke pasar adalah lelaki. Temanku bahkan kadang gak mau turun dari mobil, aku sendiri merasa rugi kalau gak sempat jepret-jepret, takut-takut juga sih. Nggak berani turun kalau tak ada anggota tim yang cowo, menemani. Ini kesulitanku untuk menjepret di desa.

pasar ikan

“Padahal perasaan muka kita gak beda jauh ya dengan mereka, kata Wawa.’

“Iya idung juga gak beda jauh, beda panjangnya aja hahaha.” Kataku.

Memang kejutan sih, kami dikerubuti orang macem seleb aja xixixi 😛 Teman-teman juga mengingatkan jangan berpisah dari rombongan, sebab berbahaya, tingkat kriminal cukup tinggi, katanya.

Perjalanan malam itu cukup mendebarkan, sebab sopir serasa terbang menjalankan kendaraan,  salib kanan kiri, sementara jalanan ramai sekali oleh truk dan kargo-kargo raksasa menuju pelabuhan di Chittagong, belum lagi bus-bus antarkota yang super ngebut minta jalan, wuih saat itulah aku mulai membuang jaim dan bicara agar hati-hati pada sopir, tapi biasalah, si doi semail-semail saja, gak ngerti bahasa linggis, eh Inggris, apalagi Minangkabau hehe. Temanku tetep menjerit-jerit kecil, aku berusaha tidur daripada tak ada pilihan, ya doa saja. Tips untuk menghemat tenaga pada perjalanan panjang adalah berusaha tidur, dan aku tidur-bangun, tidur-bangun sesuai irama kendaraan, mau melihat juga tak ada pemandangan-gelap.

Hampir sembilan jam kami bermobil dengan beberapa kali berhenti ngeteh, mengisi CNG dan makan malam, sampailah di Dhaka kembali, aku lupa, sekitar dini hari kayanya.

Paginya langsung bersiap menuju perjalanan panjang berikutnya, mampir dulu di Cosmos Centre, headquarter-nya WTB mengambil materi workshop. Aku sempat jepret-jeptret pemandangan sekitar kota, gak terlalu eksotis sih, kecuali gadis penjual bunga ini.

DSCF0265

Sherpur-1

Mencapai Sherpur malam sekitar pukul 10, kami makan malam sekitar pukul 11-12 dan mandi malam sangatlah nikmat sebab udara yang panas. Selama workshop ini aku tidur sangat sedikit, entah kenapa menderita sindrom fatima (fayah tidur malam) minjem istilah Bang Toga. Kadang hanya tidur 1-3 jam, bagus kalau bisa lebih.

Tersukses

Karena semua catatan ini aku tulis usai perjalanan, jadi aku bisa melihat secara keseluruhan dan kami menyimpulkan Sherpur adalah Workshop yang paling berhasil dan kami paling bisa melakukan banyak hal disini. Mulai dari jalan-jalan ke hutan, workshop yang asyik, ikut menjadi edukator, mengunjungi kuil dll. Mungkin karena disini waktu lebih banyak, ada satu hari ekstra untuk persiapan, tempat yang mencukupi, jumlah peserta yang pas, dsb.

Ke hutan

Kami mengunjugi hutan lindung Gazni, Jhinaigati pada 26 Juni 2009. Terletak di perbatasan dengan India, kami bisa melihat keluasan dataran rendah dan bukit-bukit. Melihat tapal batas yang hanya berupa patok tembok kecil. Sapi-sapi entah berkebangsaan apa, melintas seenaknya. Tentunya gak punya passport ya! Begitu juga gajah, kata orang Sherpur, gajah yang datang merusak itu datang dari India, demikian juga banjir hehe…Kata Ayah, sayang mereka gak ngerti soal passport sih ya! Di menara kami berfoto ria, sayang aku kehabisan baterai waktu di atas, baru waktu turun aku minta baterai cadangan Samiul. Jadi gak ada foto jepreten sendiri pemandangan hutan Gazni dan perbatasan Bangladesh-India.

group discussion

Diskusi kelompok

educator teamn

(Educator Team, Kiri-kanan: Rezvin, Samia, Meiy, Marimuthu,

Mr. Anwar (Ayah), Mayeen, Wawa, Heidi, Gawsia, Sunny)

Credit: foto yg ada aku by Kaniwa Berliani, foto tim by Samiul

RumahCinta, 7th June 2009

Iklan

2 thoughts on “Perjalanan Chittagong-Dhaka-Sherpur, 25-29 Juni 2009

  1. hayahhhhhh bangganyo… lagi cerita jalan2 ke negeri jaoh pun diriku kena taut.

    *membusungkan perut, eh dada*

  2. Wah seru juga cerita perjalanannya Uni ya…….Pengen juga rasanya mengembara di pedalaman yang so pasti mengasyikkan…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s