Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Dangdut berenergi–Sherpur 2

4 Komentar

Catatan perjalanan Bangladesh 6

Catatan perjalanan ke-5

Pada worskhop inilah aku dan Cik Gu Wawa, ‘dipaksa’ menjadi trainer. Bisa gak bisa, jangan malu-maluin bangsa dan negara dong ah…(Halah gayanya…!) Yah gitu deh, kalau ngobrol berdua, kami selalu sok bawa-bawa bangsa dan negara, biar berani gitu loh!

Anak2 ngintip workshop di jendela

ngintipNekad dibisa-bisain, aku dan Wawa bagi tugas, Wawa selalu milih jadi paper women and model, aku jadi presenter, eh Guru bok, nerang-nerangin, cakap-cakap, cas cis cus-nya. Untunglah Daniel, sang ketua panitia, nggak maksa kita mesti bawa kelas apa, diskusikan dulu, mau ambil yang mana. Akhirnya aku pilih kelas yang paling sedikit teorinya banyak main-mainnya hehe..Ya  iyalah ajaablah, aku belum sempat baca materi, gimana mau ngajarin yang banyak teori. Jadi aku pilih Kelas sejarah gajah melalui menggambar. Allhamdulillah sukses, kata teman-teman sih.  Padahal tadinya takut juga demam panggung, masalahnya rada susah mengajar dengan bahasa Inggris, trus dengan hati-hati sekali mendengarkan dialek English dengan Bangla, Hindi, Tamil dan US…belom lagi dialek lokal.

Dangdut berenergi!

Energizer adalah puncak ‘karir’ kami di pelatihan ini. Xixixi, sungguh! Penonton, eh peserta jadi ketagihan dan berenergi. Jadi begini ceritanya. Selain membawakan satu kelas/pelajaran kami juga diminta membawakan energizer kalau bisa malah menciptakan satu yang baru. Aku dan Wawa berdiskusi, mengolah bahan-bahan yang didapat secara imajinasi dan dari Marimuhtu Sang Guru, jadilah satu energizer “Dangdut cek-kecrek” yang lagunya dari Bu Guru Wawa, tariannya ciptaan bersama, yakni gajah yang menari dengan belalai dan ekor. Posisi tangan kanan sebagai belalai di depan, tangan kiri  sebagai ekor di belakang, lalu menari sambil menyanyi “dangdut cek-kecrek….” sambil berjalan membentuk lingkaran, lalu berganti arah. Aku memberi komando, Wawa sebagai model, klop deh, peserta histeris, eh lebay, senang pokoknya, ngantuk ilang. Kami lakukan di luar ruangan. Saat peserta letih kami mengajarkan hati amar sati

“Hathi amar sati = gajah adalah temanku, kata anak2 ini

yg tadinya ngintip di suruh masuk Ayah…”

enegizer pijitan gajah yang amboi, lumayanlah bikin peserta bilang: “We want more, we want more, Indonesian girls yes yes!“ (Ini sih bisa-bisanya aku saja, soalnya mereka kan bicara bahasa Bangla) ;). Sayang gak ada foto karena kami lagi in action, pastinya ada di camera teman-teman lain. *Mengharap dikirimi* Oya mereka mengganti ‘cek-kecrek’ dengan ‘chachacha’, sulit bagi lidah Bangla melafazkan yang pertama.

Oya apaan sih energizer? Energizer atau pemberi energi biasa dilakukan dalam acara/pelajaran yang melelahkan, membosankan atau peserta mulai mengantuk. Bagi Guru atau pendidik di NGO boleh deh menghubungi kami, kita punya beberapa yang bikin spiritful.

Peserta spesial

Kata siapa orang yang bisa tulis baca itu lebih hebat dari orang yang sekolah dan bisa berbagai bahasa? Di Sherpur kami membuktikannya.

Peserta di Sherpur sangat spesial, sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris, bahkan tidak bisa baca-tulis dengan Bahasa Bangla. Tapi kami semua menyimpulkan ini workshop yang paling sempurna diantara ke tiganya, pesan sampai, mereka mengerti dan sangat antusias untuk meneruskan kepada kelompok sasaran. Saat pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris, teman-teman Bangladeshi menerjemahkan ke dalam Bangla, pelajaran kebanyakan berupa aktivitas, bagi yang tidak bisa menulis, mereka menggambarkan pikiran-pikirannya ke dalam kertas. Dan hasilnya fantastic! Pemikiran-pemikiran masyarakat desa tersebut brilian.. Mereka orang yang sehari-harinya memang menghadapi persoalan konflik gajah-manusia secara langsung, dan ilmunya jauh lebih banyak dari kami. Worskhop berjalan sangat menyenangkan. Aku sangat suka bagian ini: “Hathi amar sati”, Gajah adalah temanku.

La-illahailallah…

Seru sekaligus haru, itulah kesan yang kudapat selama menjadi intern* di Workshop Sherpur. Karena keterbatasan bahasa, bahasa tarzan, eh bahasa isyarat menjadi sangat utama. Komunikasi intinya adalah mengerti, soal bahasa, kedua bukan? Lihatlah percakapanku dengan Bapak-bapak ini:

“asfj@#$%&*%$#&*(_afn;dhj....” Nah anggap saja itu Bahasa mereka yang tidak aku mengerti.

Lalu…”you…christian??…face…face…” sambil menunjuk muka.

Aku langsung ngeh, teringat percakapan di Rangunia dengan seorang Bapak yang bermuka “Indonesia”, agak putih, agak sipit, tinggi sedang. Dia bilang muka serupa aku ini biasanya orang Kristen seperti dirinya yang keturunan Thailand, atau Vietnam.

“Oh no, I am Moslem, moslem.” Kataku. Aku faham, kalau di Bangladesh, kerudung tidak menggambarkan agama, yang Hindupun pakai kerudung.

Lalu si bapak ingin bicara banyak lagi, nanya-nanya…sayang aku tak mengerti…dia tak kehilangan akal.

“You ….kalimah syahadah, please kalimah syahadah!” katanya senyum-senyum, dan menambahkan beberapa kata Arab lainnya yang aku tak mengerti.

“Oh yes, yes I can say syahadah!” jawabku.

“You syahadah syahadah, say, say!”

“Ya Allah nih orang mo membaiat gue kalee,” kataku dalam hati. Lalu:

“Ashaduallah ilahailallah wa ashadu ana muhammadarasullulah. …” Aku sulit menahan tawa, karena dia memaksaku mengucapkan kalimat syahadah.

“Wow. Good, good you moslem..”

Lalu si bapak baca surat al ikhlas kalau gak salah sieeh…;)

Trus dia nunjuk temanku Wawa, “She….la-illahaillallah?”

“O yes she’s moslem, sir” kataku, haduh sambil susah nahan tawa. Wawa plarik plirik, heran. Setelah itu dia nanya, dan waktu kuceritakan ketawa ngakak gak abis-abis…

Ke kuil

ganesh

Pengennya jepret Ganesha doang (paling kiri bawah),

tp gak ada yg bagus

Ikutan Marimuthu dan Mamatha ke kuil, wah asyik. Aku dapat kesempatan melihat kuil dari dekat. Walaupun banyak kuil Hindu di Medan, aku belum pernah masuk. Fantastik!   Senang bisa melihat keragaman budaya dan agama di Bangladesh. Senang juga bertemu Pujari (pendeta) ganteng yang memberiku sweet, semacam kue sangat manis. Tapi sayang cakep-cakep kok jadi Pujari nih orang, kan gak bisa kawin! (dalam hati saja).pedesaan sherpur

Pedesaan di Sherpur

Intern: tenaga pelatih tambahan

RumahCinta, 7 Juni 2009

Iklan

4 thoughts on “Dangdut berenergi–Sherpur 2

  1. Sebuah perjalanan yang luar biasa. Tidak banyak orang yang mendapat kesempatan untuk itu… Semoga ada banyak pencerahan yang bisa dibawa… 🙂

  2. Oh ya, blog saya yang di blogdetik memang lebih terurus dan terupdate ketimbang yang di wordpress ini… 🙂

  3. Mas PS: Alhamdulillah mas, banyak belajar 🙂 makasih ya sudah komen di blog sepiku ini. aku jg jarang ngurus blog2ku, apalagi BW

  4. Ping-balik: Nekad nekad ke kuburan! « Alam Takambang Jadi Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s