Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Perjalanan Dhaka-Chittagong

1 Komentar

Catatan Perjalanan Bangladesh 2dhaka university

Satu sudut University of Dhaka

Catatan Perjalanan ke-1

Minggu 21 Juni 2009, kami berangkat ke Chittagong dengan 2 minibus, sedikit terlambat dari jadwal, karena’Ayah’ minta waktu rehat sebab beliau sudah dua hari tidak tidur. Tim terdiri dari 15 orang, 3 dari India, 2 Indonesia, 1 US dan lainnya Bangladesh.

Baru bisa kusaksikan Kampus Universitas  Dhaka pagi itu, terkejut mengetahui bahwa suara-suara ribut di luar jendela subuh itu adalah bunyi burung gagak, yang ramai beterbangan di mana saja. Aku hanya tidur 1 jam, itupun tidur-tidur bangun. Aku mencoba capture Sang gagak, tapi nggak dapat shoot yang pas. Kata teman-teman, burung gagak lazim ada di pemukiman, layaknya burung gereja bagi kita, banyak sekali, ribut tapi eksotis. Kami berhenti sarapan pagi di asrama mahasiswa, sebenarnya khusus mahasiswa saja, jadi kami para cewe adalah pendatang ilegal hehe. Makan Parata yang kalau di Medan disebut roti cane, dengan dal, sejenis kacang-kacangan bewarna kuning. Enak, lumayan, tak asing di lidah. Lalu pisang, makan sehat coy!

Selesai sarapan, tak jauh dari asrama, kami kembali berhenti buat minum Cai, teh yang diminum dengan susu, seperti teh tariklah kira-kira. Aku memesan black tea saja, mereka memberi sedikit jahe, nikmat. Asri sekali suasana kampus-kampus di Universitas Dhaka ini, sebuah kompleks yang sangat luas, banyak pohon, burung-burung, juga kolam. Oya aku sedikit fly kurang tidur dan tak bisa mendapatkan kopi, aku kecanduan kafein, ternyata disini kopi tak populer! Juga nantinya tak mudah mendapatkan kopi.

Perjalanan dilanjutkan membelah kota Dhaka yang besar dan padat, Mega City bok! sangat ramai. Aku takjub, rasanya lebih ramai dari Jakarta. Kata teman sih penduduknya 15 juta, aku cek Paman Google = 6.7 juta di pusat Dhaka (sepertinya yang terdaftar), 12.3 juta termasuk areal luar Dhaka yang sudah bersatu dengan Ibukota (kira-kira seperti Jabodetabek kali ye!).

Link terkait:

http://en.wikipedia.org/wiki/Dhakahttp://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/SOUTHASIAEXT/0,,contentMDK:21393869~pagePK:146736~piPK:146830~theSitePK:223547,00.html

Road for every creature

kerbau dijalanan dhaka

Kerbau di jalanan mega-city Dhaka

Aku membatin; besar banget ya Kota Dhaka. Pemandangan awal adalah kepadatan kota, gedung-gedung, flat-flat yang rapat dan jalanan yang penuh oleh berbagai kendaraan; mobil, bus, bajaj, riksha’ atau rickshaw dalam Bahasa Inggris (semacam becak), manusia, gerobak, semua berlomba, berseliweran sesukanya. Aku sempat bercanda dengan Heidi,

“The road is so crowded, it seems that people here have the same right to use it, egalitarian?” , gitu deh kira-kira Bahasa ‘Linggis’nya aku dan Heidi.

“Yes, this is the road for everybody,” kata Heidi. Tapi tiba-tiba aku melihat barisan kerbau dituntun di tengah-tengah jalanan Ibukota itu.

“Wow!” kataku kaget, “this is not only road for everybody Heidi, this is for every creature, they got the same right.” Hehehe…lalu kami ketawa bareng, ketawa yang lebih sering daripada diam sepanjang jalan. Aku berpikir senang karena walaupun terlihat kacau, masyarakat mendapatkan hak yang sama untuk menggunakan jalan, entahlah kalau di negeriku mana mungkin kerbau bisa lewat di Jl. Sudirman Jakarta, misalnya…Hehe pemikiran yang ngaco nih, kalau dibaca negarawan gimana ya?

Sudah ‘ditakdirkan’, kami selalu semobil sampai akhir workshop. Aku, Wawa (Indonesia), Heidi (US), Daniel, Mamatha (India) dan 1 orang di depan yang bertukar antara Samiul atau Mayeen, dengan sopir Husein (Bangladeshi) dan mobil yang sama. Heidi ternyata punya sense of humour yang bagus, Mamatha suka bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Perjalanan yang menyenangkan. Lamaaa baru keluar dari kota.

Yang spesial

Kemudian pemandangan ‘road for every creature’ benar-benar terlihat sepanjang jalan, tak aneh lagi jika dijalanan berdesakan semua jenis makhluk. Dan…yang paling ‘spesial’  mengerikan adalah cara nyetir orang-orang di sini, tentunya termasuk sopir kami Bang Husein. Fuih! Bikin jantungan, temanku terjerit-jerit, aku cemas juga sih, tapi biasalah jaim…diam saja, tapi nantinya pernah juga protes sih setelah menyetirnya jadi gila-gilaan. Namun semua percuma, si Husein kagak ngarti Bahasa Inggris, disuruh bilangin sama teman Bangladesh dia senyum-senyum saja, katanya dia tahu apa yang dilakukannya, jangan takut! Begitulah yang sangat spesial di Bangladesh, cara nyetir yang seragam gila-gilaan, tapi tak ada klakson atau makian, hanya senyum! Hebat kan. Cobalah di Medan, jangan coba-coba, pasti kena maki hehe….

Kami melewati banyak pedesaan yang indah, dataran rendah dan banyak sawah-sawah, kolam-kolam ikan air tawar, kebun sayuran, dsb. Bangladesh adalah negara dengan kondisi geografis berupa delta yang subur (Delta Gangga-Brahmaputra).

pedesaan bangladesh

Pemandangan yg banyak ditemui di pedesaan Bangladesh, sapi dan sawah

(Banyak fotoku di-capture dalam kecepatan tinggi dr mobil, jd yah kurang bagus; krn gak prof, krn camera kurang canggih hehe :D)

Sesekali berhenti buat minum Cai atau mengisi bahan bakar yang berbeda dari negara kita yakni CNG atau Compressed Natural Gas. Setiap mau diisi, kami harus turun dari kendaraan, kata sopir sih bahaya, wuih takut-takut juga gimana kalau meledak? Tapi kata teman Bangladesh, keamanannya 200%. Kata Heidi hehehe “I am not sure, I think it is TNT.” Begitulah candaan kami setiap berhenti ngisi CNG, yang cukup sering, kami turun kendaraan, dan ingat TNT–bahan bom itu–meledak gak ya? Lebih murah sih katanya dibanding bensin, tapi mahal waktu sebab harus sering-sering mengisi ulang. Kelebihannya adalah nearly zero pollution!

Kota yang kami tuju adalah kota besar kedua di Bangladesh, Chittagong, terletak di pesisir dekat pantai (lihat peta). workshop venueSebuah Bandar yang sangat sibuk, kota yang besar dan padat. Jalanan ramai oleh truk, kargo dan bus antarakota. Tapi tempat workshop adalah desa kecil yang berbatasan dengan India, Rangunia. Perbatasan Myanmar juga dekat dari sini. Kami menginap di Chittagong dan bolak-balik ke desa yang berjarak kira-kira 1-1.5 jam bermobil dengan kecepatan normal. Bagi sopir kami sih, cuma 45 menit!

Disambut udara siang yang sangat sangat panas, kami menginjakkan kaki di Chittagong yang ramai siang itu, sekitar pukul 2. Ayah memimpin ke arah restoran yang sangat ramai, kami makan bersama anggota tim yang 15 orang. Makan siang yang lezat dengan pilihan masing-masing. Aku memilih bawal goreng dan acar, wuih sedaap bah! Eh Alhamdulillah mestinya ya 😀

Usia makan siang kami langsung ke lokasi workshop, menyiapkan segalanya buat acara besok dan sorenya kembali ke Chittagong buat menginap.

*Map credited to ZOO

RumahCinta, Jl. Sendok Medan–June 7, 2009

Iklan

One thought on “Perjalanan Dhaka-Chittagong

  1. Ping-balik: Hidup mesra bersama gajah–Getting Along with Elephants-HECx « Alam Takambang Jadi Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s