Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Catatan Perjalanan 1

5 Komentar

Batavia, waktu yang menderu

Kembali menjejak Jakarta 21 Mei lalu, terasa beda,  biasanya sekedar lewat karena mau bertugas ke daerah lain. Kali ini selain ada keperluan ‘bisnis’ dengan teman, ingin membayar ‘hutang’ rencana berkunjung yang tertunda Maret lalu.

Dijemput adikku Wenny, berpelukan…dan ya Tuhan, baru kusadari 13 tahun lebih aku tak bertemu fisik dengannya, dia masih tetap cantik dan tinggi seperti  Papanya yang Mamakku. Hanya sedikit berisi ya Non, tapi sexy kok.

Melepas taragak, berlomba bercerita menuntaskan kangen (walau kadang ngobrol di FB dan YM sih) naik Damri, tak terasa akhirnya tiba juga di rumah keluarga di Tanjung Duren, rumah Mamak (Paman). Sayang Mamakku & Amai malah sedang pulang ke Padang, di rumah Ibuku.  Di sebelah  ada rumah sepupuku Upik dan rumah Tanteku, Nte Cun tersayang. Dulu ada 4 rumah disini…3 milik almarhumah Makku (etek/bibi). Keluarga besar ku sudah ada disini mungkin sejak tahun 1960-an, Keluarga Besar Datuak Majo Indo, hanya Ibuku yang tinggal di kampung (Padang), lainnya mungkin ratusan orang ada di Betawi (penjajah oi hehe!)

Bertemu mereka, Ante, Mbah, Adiku Upik dan keluarganya…terharu, *sinetron dot com*. Lalu bercerita panjang tentang 14 tahun tak terasa. Gurat-gurat ketuaan di wajah Ante, ponakanku sudah besar-besar…Dan si Mbah yang sangat tua dan bungkuk, namun tetap sehat…Ya Tuhan, rasa bersalah menimpaku, mengapa baru sekarang mampir lagi ya? (Mbah adalah tetangga yang sudah dijadikan sdr).

Entahlah, dulu kutinggalkan Jakarta karena kami tak betah tinggal di kota besar yang sesak, macet, dan hidup seperti robot. Aku dan suami begitu sibuk hingga tak ada waktu bahkan buat bercinta bersantai. Ah ada banyak alasan lainnya sih.

Duh, waktu seperti berpacu…termangu, rasanya tak percaya sudah lebih 13 tahun kutinggalkan rumah ini, dulu kami tinggal disini saat si sulung Ufi masih bayi, Adikku Upik jadi ‘Mami’-nya Ufi, bersama tante dan Makku. Kami bekerja menjadi ‘kuli’ di Kuk Dong Engineering & Co., ikut menitikkan peluh membuat jalan-jalan layang dan beberapa apartemen mewah di Jakarta, yah walau hanya hitung-hitungan konstruksinya …Kadang-kadang ikut supervisi ke lapangan, pernah mobil terpeleset hampir nyebur Kali (aku lupa namanya, Angke mungkin). Makan siang suka ke Kali Jodo (dan ingat Ca Bau Kan). Pernah pulang kerja aku ditodong…alhamdulillah selamat…Oh kenangan…

Dan maafkan aku Mak, aku tak pernah bertemu Mak lagi sejak itu sampai beliau meninggal. Kondisi keuangan, kesempatan dsb tak memungkinkan aku ke Jakarta waktu Mak meninggal 2 tahun lalu. Dipaksakanpun tak mungkin juga terkejar ke pemakaman.

Bagiku Mak dan tante-tanteku sama seperti Ibu kedua, sebab dari kecil mereka ikut mendidik kami. Dulu aku hampir setiap liburan ke Jakarta, sejak aku masih usia 5-6 tahun, aku masih ingat daerah Citraland, Trisakti dan sekitarnya masih sepi. Kalau gak salah rawa-rawa gitu deh…Masih ingat tahun-tahun berlalu, dentuman-dentuman hammer mulai memukul-mukul tiang pancang ke bumi, membangun gedung-gedung tinggi di sekitar perumahan, sampai sekarang begitu penuh, padat.. Oh Jakarta!

Aku selalu diizinkan ke Jakarta sendirian sejak kelas 1 SMP, bangga nggak, naik Bus jadul lagi. Masih ingat jalan panjang yang harus dilalui dari kota kecilku Padang Panjang melewati lintas Sumatera, berhenti di sungai, mandi-mandi, makan di restoran Padang yang enak-enak, rasanya begitu asyik, perasaanku waktu itu seperti petualang cilik, kerena bebas sendirian.

Aku sempatkan ke makam Mak, mengharu biru rasa berdosa,aku gak sempat bertemu beliau waktu masih ada. Terpaku, betapa rapuhnya manusia, teringat betapa sebenarnya kematian begitu dekat…Betapa kubiarkan waktu berlalu tanpa berusaha menemuinya lagi, Ampuni aku Tuhan. Entahlah waktu, aku begitu sibuk dengan hidupku sendiri. Dari Jakarta tahun 1996, hidup nomaden Aceh-Padang, lalu menetap di Aceh mulai krisis moneter 1998, ‘perang Aceh’ (konflik) 1999-2003, pindah ke Medan 2001-2003, Aceh lagi…tsunami…Medan lagi…lalu tiba-tiba 14 tahun berlalu!

Bagaimanapun Mak ikut membesarkanku, membiayai kuliahku, terbayang ketika Mak sering mengajakku ikut shopping dengannya ke grosiran di Tanah Abang, Pasar Baru, Pasar Pagi, dsb, memborong lusinan pakaian buat dibagi-bagi untuk semua anak-anaknya dan saudara di kampung. Beliau tak punya anak kandung, dan dengan membelikan semua orang pakaian membuatnya senang. Mak gak tahu, aku gak suka shopping, aku diam saja, kasihan sesekali ke Jakarta masa nggak mau diajak? Dan kenakalan-kenakalan kecil, waktu menyuruh sopirnya Mak pulang saja ke rumahnya kalau mengantarku nyari buku buat skripsi ke Senayan, Bristish Council, UI, dsb. Aku lebih suka menikmati Jakarta sendirian, merasakan bagaimana rasanya naik kereta api bareng kambing ke UI, berdesakan, dan mensyukuri betapa beruntungnya aku menjadi orang kampung. Aku selalu bangga menjadi orang kampung.

Sempat tiba-tiba sakit pada hari ke 3, muntah-muntah dini hari kepala serasa mau pecah, akhirnya Subuh gak tahan ngadu sama Ante. Terasa indahnya punya orang tua, Nte dan adik-adik ngasih obat, the manis dan menyelimuti. Alhamdulillah bisa segar lagi dan bisa memenuhi janji dengan teman di Sudirman.

Duh waktu, takkan lagi kubiarkan sia-sia tanpa kasih sayang…

Bersambung….

Iklan

5 thoughts on “Catatan Perjalanan 1

  1. lho perasaan kapan hari blognya private deh 😀

    iya, aku juga gak betah di jkt.

    muntah2x kenapa ? diare ya ?

  2. iya sori di, waktu itu lg pengen sembunyi 😀

    sakit pala di, sakiiit bgt hehe, sebentar kok. tq ya dah mampir, aku lama gak BW>

  3. kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
    orang yang tak pernah menyatakan cinta
    kepadamu, karena takut kau berpaling dan
    memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akn
    menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
    sadari

  4. ternyata info yang saya cari-cari ada disini..

    thanx

  5. dina/nina (sama kan? IPnya sama :D): makasih ya komennya bagus, tp kok ngelink esek2 sih ya, sori aku delete 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s