Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Doa dan sahabat

6 Komentar

Siapa yang tak butuh doa? Yang percaya pada Tuhan pasti butuh doa bukan? Oh aku sangat sangat butuh doa, aku hamba yang lemah, bodoh dan sok tau, disisiNYA. Ya aku tentu butuh doa dari keluarga, sahabat, bahkan seluruh manusia kalau mungkin.

Jungkir balik, jatuh bangun dalam proses kehidupan, ah semestinya biasa. Itulah yg kualami belakangan ini. Berusaha untuk healing. Tapi apa yang dibutuhkan seseorang yang sedang jatuh? Bagiku sederhana, uluran tangan orang terdekat, menarikku agar tak lebih parah terpuruk, atau memberi obat luka kalau perlu, atau apalah….

Atau ketika kau haus, kamu butuh air atau doa sih?

Lalu kalau seorang sahabat yang diharapkan, yang kita anggap best friend, hanya lewat sambil berdoa, tanpa menoleh, dan berkata dalam hatinya: “semoga kamu lekas sembuh ya!” Atau bahkan cuek saja…..just passed you bye….aneh nggak? Adakalanya kita butuh doa, adakalanya tindakan nyata lebih dibutuhkan bukan?

Itu aneh dari sudut pandangku, mengecewakan, menyakitkan. Namun, selalu ada hal yang tak terlihat oleh keterbatasan kemanusiaan kita bukan? Sayang aku tak bisa mengelakkan ketika kecewa itu datang, aku bukan manusia hebat, yang bisa mengerti. Aku teramat biasa, sahabat yang tidak bisa memenuhi kriteria menjadi orang hebat agar bisa menjadi sahabatmu, kriteria orang yang mengerti ‘risiko’ berteman dengan seseorang sepertimu…Anehnya ketika kau butuh aku gampang ya mencariku? Aku tak ikhlas ya? Terserahlah, aku bukan orang suci. Aku hanya tahu persahabatan itu timbal-balik, kalau kau tak diingini, dianggap tak ada, apa pilihanmu? Bagiku ya pergi…

Kapan sebuah hubungan (persahabatan, percintaan) diuji? Yaitu saat-saat tersulit ketika sesuatu yang buruk terjadi! Saat-saat indah bisa dilalui semua orang, bukan? Dan sahabat yang pergi ketika muak dengan tingkahmu, ya biarlah saja….

Sulit kucari alasan ketakpedulianmu, sahabat (?) sekarang tak perlu lagi. Mungkin hanya soal mengubah sudut pandang, bagiku dia best friend, bagi dia aku apa? Belum tentu kan? Kita, eh aku,  kadang dibodohi oleh pandangan-pandangan sendiri, harapan-harapan sendiri. Dan sahabat, semua keburukkan memang milikku, kamu orang baik. Aku orang aneh yang tak mudah mengerti dan dimengerti.

Kini, lebih baik aku fokus pada nikmat tak terkira yang diberi Allah padaku, seorang kekasih yang baik hati, alhamdulillah, anak-anak amanah yang diberi Allah, Ubek jariah palarai damam kata orang Minang, keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus yang bisa membuat hidup lebih optimis dan penuh senyuman. Banyak keajaiban di dunia ini, aku bersyukur diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang yang ‘ajaib’ itu, relawan-relawan yang rela mengabdikan kehidupannya untuk kemanusiaan, penyelamatan bumi yang untuk manusia juga. Seperti minggu lalu seorang sahabat Ben, meneleponku dari Aussie, bertanya; “Merry, I will be in Indonesia this month, could I do something to help you with the elephants or the guys there in the forest?” Indah bukan? Dan ada banyak sahabat baik serupa itu…lumayan sering aku ditawarkan keindahan persahabatan. Smile ah…:)

Yang sejati tertinggal, yang ‘imitasi’ pergilah……

*Ubek jariah palarai damam: Obat jerih pelerai demam; obat saat kamu lelah, dan sakit.

RuangBiru, 11 May 2009

Iklan

6 thoughts on “Doa dan sahabat

  1. kalau orang ngga butuh doa di cap sombong jeung. saya dulu pernah berfikir misalnya. ini misalnya. kalau semua doa kita dijawab sama Tuhan. apa jadinya ?

    • mata: wah lama ga mampir ya ta, apa kabar, aku juga jrg BW.

      iya ta, makanya aku bilang semua orang butuh doa, tp adakalanya tindakan nyata lebih dibutuhkan sebelum doa. post ini hanya ungkapan kekecewaan biasa dlm hidup ta. seperti misalnya korban tsunami dulu, mrk butuh di bantu nyata dan doa, thanks ya…

  2. Suatu pencerahan dari Uni,…….. Memang segala apa yang telah dimiliki saat ini adalah suatu anugrah yang harus disyukuri

  3. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)(QS 25: 28)

  4. minum saja air yang diberikan-Nya, tanpa meminta air yang kita inginkan. kitalah yang selalu dahaga, sedang IA selalu memberi sesuai dengan keinginan-Nya, bukan keinginan kita…

    Sikap seseorang dibentuk oleh definisinya terhadap dirinya sendiri. Hanyut dalam arus dan pusaran yang berpusat pada dirinya sendiri.

    Tak akan ada teman yang berani mengulurkan tangan, jika yang hanyut amat menikmati gelombang yang menggulung jiwanya. Jika yang bersedih masih dirasuki kebencian. Jika yang menangis enggan membebaskan diri dari penjara dendam.

    Kesejatian bukan seperti yang kita impikan. Kesejatian tak bernama. Kesejatian adalah kuasa-Nya. Kesejatian terasa ketika mata terpaut pada gerimis, pada hijaunya bumi, pada serabutan awan, pada kerlipan bintang, pada kepasrahan semesta raya, dan menjadi titik terkecil dalam harmoni kesemestaan.

    peace!

  5. Avar: uni juga belajar avar…maaf ya belum sempat mampir2.

    Kelana; makasih bgt Mas pencerahannya, makasih juga masih inget kesini 🙂 lama ya kita gak ‘jumpa’

    MT: makasih komennya Ustadz MT, alhamdulillah Tuhan masih memberiku teman2 orang biasa yg kalau ditanya kabar masih bisa menjawab, masih bisa bereaksi normal jika aku butuh bantuan…dan hanya Tuhan yg tahu apa yg kulakukan dengan hatiku…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s