Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Usia

17 Komentar

keluarga-sungayang-rev

Aku boleh tergeer-geer ketika ditanya seorang Ibu-ibu baru-baru ini: “Mau kemana dik? mau camping ya? kuliah dimana?” waktu melihat aku bawa ransel, nunggu teman mau bareng ke lapangan di terminal Pinang Baris.

Hihi aku senyum- senyum aja, kegeeran dikira masih kuliah, soalnya sudah jarang yang menyangka begitu, kalau disangka belum menikah cukup sering sih. Mungkin dia pikir perawan tuwir nih orang. Waktu di Aceh sebelum tsunami cukup sering kalau naik Bus Kampus ditanyain kuliah dimana?

Juga pengalaman yang bikin termehek-mehek (ikutan tipi), ditaksir, eh ditanya-tanyain apa bisa pdkt ke temanku waktu ke lapangan. 3 orang lagi. Ya ampyuun….Apa gak liat ukuranku aja udah menyaingi piaraan.

Aku bisa saja jadi gede rasa, tapi suer, akhir-akhir ini malah sering ingat bahwa aku itu sudah tuwex emak-emak, anak 3, satu sudah remaja malah, harus tahu diri, berubah menjadi bijaksana. *Ah, mungkinkah?* Yah walaupun, gak mau ngaku tua sih, seringnya merasa masih 20-an gitu loh Ih gak teu diri bangets yah.

Kata sohibku usia hanyalah angka, namun seiring berjalannya waktu sungguh usia membuatku berpikir akan banyak hal, terutama sekarang ketika si anak bujang sudah menjulang tinggi jauh melebihiku (ssst…sebenarnya karena mamanya pendek sih). Ada banyak pertanyaan muncul, misal:

Masihkah pantas aku menjawab, “ah…aku gak tahu banyak soal Islam”, atau tentang adat Minang Kabau tercinta, misalnya, jika ditanya. Berapa waktu yang telah lewat yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat belajar, agamamu sendiri, adat negeri leluhurmu sendiri?

Apakah yang kulakukan selama ini sudah bermanfaat, apakah aku sudah bisa membuat orang-orang yang aku cintai bahagia, atau hanya aku saja yang dibahagiakan mereka?

Sejuta pertanyaan melekat di benakku. Belum lagi kegilaan untuk belajar banyak hal begitu menggebu saat ini. Rasanya ingin belajar semua yang menarik minatku (bahkan yg sebelumnya tak menarik seperti masak!), sementara kesibukan membuatku gak mungkin melakukan semuanya. Jadi ingat kayanya Dian pernah juga menulis tentang hal ini. Semakin tua semakin jadi minat belajarnya. Dan my love juga begitu, tambah tua tambah ingin belajar banyak hal, yang membuat kita kadang hanyut pada diskusi yang berapi-api, bersemangat maksudnya. Soalnya aku, semakin belajar semakin merasa bodoh!?

Ada satu hal yang aku ingat tentang umur ini. Sewaktu mau ikut rafting di Sungai Alas dulu (masih punya anak 1), temanku sempat menggoda: “Napa Kak? Kok ragu, gak berani ya?”

“Kalau ikut kata hati saja, berani aja sih friend, kataku. Cuma sejak punya anak, jujur aku jadi pengecut. Kamu tahu, aku bukan lagi remaja yang hanya mengikuti gejolak darahmuda, atau yang masih mencari jati diri, sekarang aku emak-emak, yang kalau mau melakukan sesuatu harus mikir panjang dulu. Aku tak perlu membuktikan apapun dengan sok-sokan berarung jeram di arus deras, lalu mati. ”

Namun akhirnya aku ikut juga sih, tak bisa menolak godaan adrenalin hehe. Yang penting tidak takabur.

Sewaktu remaja, jangankan takut, terpikirpun tidak pada bahaya. Dulu aku sering berperahu ke tengah danau, atau laut, padahal gak bisa berenang. Atau ikut teman-teman kebut-kebutan, tak pernah terpikir bahayanya. Mungkin begitu juga yang dialami remajaku ya, si Ofai itu. Sekarang kena “karma” nya deh 😀 Sering cemas mikirin dia.

Dan kini aku terpaku pada satu hal: seharusnya semakin tua kita semakin bijak. Mudah-mudahan aku bisa ya…walau perlahan.

RuangBiru, 12 Februari 2009

Foto: keluargaku tercinta, jadul 🙂

Iklan

17 thoughts on “Usia

  1. ketika masih kanak, kita bangga jika dianggap sudah dewasa. eh, ketika udah dewasa beneran, malah seneng kalo dianggap masi orang muda.

    mau kita sebenernya apa sih? huehehehe…

    uni, as far as i “know”, udah arif bijak bestari. jadi kalo berharap makin bijak lagi… payah pun aku mbayangkannya.

    😀

    iya ito, napa ya takut dianggap tuwek hehe…walah jangan menganggap aku bijaksana lah, kalau ketahuan kenyataannya kaget entar :d, makanya mau usaha nih

  2. Dalam versi lain tadi saya posting tentang Waktu dan Usia

    iyo pak, keren, ambo alah baco, thx pak

  3. sudah ‘merasa’ tua ya meiy? padahal perasaan masih 20 tahunan. kan nikahnya dulu usia 15 (he he, bercanda)

    hehe kok takuik tuo yo pak? dasar padusi kali yo! 😀

  4. Jadi sebenarnya uni kelahiran tahun berapa? biar gak salah sangka lagi

    :mrgreen:

    hehe…masih mudo ko cat…baru jalan tujuah baleh hehe, mau tau, japri..japri…:D

  5. anak 3, satu sudah remaja? sulit dipercaya
    apa sih rahasianya awet muda?


    perasaanku aja kali pak…masih muda. biar semangat terus, penilaian orang sih beda2 😀

  6. haha… asik kan, ni. jadi pengen nyanyi…

    “mereka pun pernah muda…”

    *kabooorrr*

    iya iya, tau mus masih muda..yo nyanyi yo 😀

  7. It’s a nice blog. Salam kenal ya…

    senang dpt teman baru, thanks ya mbak dah kesini 🙂

  8. Arif dan bijaksana adalah pilihan…
    Bukan variabel dari pertambahan usia.
    Selamat memilih ya Kak… 🙂

    betul juga dek, tapi kalau orang masih muda tidak bijak bisa dimengerti, kalau usia berkurang (tua), mestinya lebih bijak

  9. Semoga pertambahan usia bisa semakin menambah semangat untuk menebar manfaat bagi bumi.

    Jadi pengen sarupo uni. Berkontribusi untuk alam … 🙂

    ondeh ed, upaya uni belum sebesar debu jika dibanding semesta ini

  10. banyak orang yang lupus (lupa usia). tapi itu bukan penyakit. yang penting adalah, tidak lupa bahwa usia kita menuju akhir…

    aku siap mati kapan saja kok. hehe walau berharap Tuhan ngasih umur buat mendampingi anak2 smp dewasa

  11. walah aku suka tuh ama photo …kerennnn buangeeettts
    pake gitar lagi..hehehe

    ini juga foto kesukaanku, bersama Ibu, Papa dan adik2, Papa dan Ibu seniman kampung loh, Papa suka musik, Ibu suka nyanyi dan malah cipta lagu/dendang.

  12. salam kenal mbak
    wah tulisane asyik2 banget
    sukses selalu bersama blog cantiknya

    tx

    senang dpt teman baru mbak/mas…
    tadi saya ke blognya fotonya cowo, yg ini ce cakep hehe

  13. biasanya makin tua akan makin bijak, kok meiy 😀

    ehem..jd sekarang sedang belajar masak neh ? 😛 aku belajarnya mla2x dari internet. tapi lama2x suka ngarang sendiri whehehe waktu nelpon nyokap, dia terkaget-kaget tau aku catering buat teman wehehehhe lha dulu masuk dapur aja benci. gak tahan bauk bawang

    mudah2an di…
    iya nih kok jadi pengen masak macem2 yah..dah mulai jadi emak2 aku, manusia berubah ya di…dulu aku sebel bgt kalau disuruh masak, paling benci bau ikan, bumbu dl. hehe…kalo masak kue mah mayan, gak bau 😀

  14. Ambo kadang malu sendiri, uni. Maliek anak, manga parangai apak-nyo masih sarupo urang mancari jatidiri =))
    Alah lamo indak main ka blog uni, baitupun uni alah lamo indak mancogok blog ambo. Ambo kini alah dapek status baru : fresh pengangguran. Krisis global sukses mem-phk ambo..hiks

  15. itu fotonya masih baby ya ni?

  16. mending dibilang awet muda bu (lho??) tinimbang dibilang awet tuanya. hehehe… (kabur ah). maaf bu maaf bu… silakan main-main ke blog saya.

  17. OOT: termehek-mehek itu artinya apa sih uni? penasaran, aku gak tau artinya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s