Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Doa saja tak cukup…

9 Komentar

Aku benci. benci. Selalu kuhindari berita-berita mengerikan apalagi foto-foto Palestina. Tapi bisakah hati didustai? Email-email dari teman, saudara, berita yang walau tak ingin pasti kudengar juga, akhirnya…membuatku menulis ini.

Kenapa? Mungkin puisi ini jawabnya.

PUISI PAGI DI TANAH KONFLIK

Puisi pagi adalah salak senjata
jerit anak-anak dan wanita

Puisi pagi adalah elegi dan darah dan darah…
panas dan gerah
ketika kasih tak lagi punya makna

Puisi pagi adalah nyeri hati
dan diriku yang bisu, beku, kaku
sebab tak mampu melakukan apa

Tuhan, aku kehilangan kata
Tuhan aku kehabisan doa.

BNA-Kontak senjata, 4 July 2003


Kutulis waktu konflik Aceh yang berdarah-darah, dibuat lagu oleh sohibku MT — penulis dan seniman yang peduli soal-soal kemanusiaan. Sejujurnya, sisa trauma Aceh masih melekat di benak & hatiku. Makanya aku benci suara petasan yang di Medan sangat trend pada perayaan-perayaan tertentu. Mercon , mengingatkanku pada kontak senjata dan bom. Persis sama. Ketakutan dan penderitaan, mungkin sama, tapi Aceh alhamdulillah sudah damai, tapi saudara kita di Palestina masih mengalami kebiadaban yang nyata.

Aku benci karena aku cinta. Benci mendengar kekejaman & kebiadaban penjajahan Zionist Israel yang tak berakhir di Palestina, sdr tercinta.

Anehnya ada juga sesama saudara yang mengejek perjuangan rakyat Palestina, mengatakan mereka bodoh. Masya Allah. Seorang teman kemarin, bersitegang dengan seseorang–sebut saja orang hebat–yang mengatai rakyat Palestina itu bodoh karena melawan peluru dengan batu. Baru sekali itu kulihat temanku yang sangat santun & alim itu emosi, walau masih tetap dalam etika yang mantap. Perang Palestina bukan masalah agama tapi penindasan terhadap hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina, yang dijajah Israel. Masyarakat Yahudipun banyak yang anti kepada paham Zionist Israel. Mereka malah bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Yahudi sendiri. Bacalah link ini agar kau tahu sejarahnya. Harun Yahya adalah ilmuwan terpercaya.

Mungkin aku sedikit sok tahu, tapi teman, kamu tidak akan pernah benar-benar mengerti apa yang dirasakan orang yang menderita terutama karena perang dan kebiadaban penjajahan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan kalau kamu tidak di sana. Kamu hanya bisa bersimpati, berempati, tapi tidak akan pernah sama jika kamu mengalami sendiri, jadi sebaiknya jangan mencela, hatiku luka. Bukalah hati nurani.

Kamu tak akan tahu rasanya ketakutan, kelaparan, teror, dsb… jika tak pernah merasakan bagaimana rasanya harus lari, mengungsi, kelaparan, kedinginan, sakit, menyaksikan anak-anak, wanita, lelaki, siapa saja mati karena kebiadaban. Aku pernah merasakan sebagiannya.

Mungkin penderitaanku dulu waktu konflik Aceh tidak sebanding dengan apa yang dialami saudaraku di Palestina, tapi aku tahu bagaimana rasanya lari ditengah terjangan peluru. Harus tiarap ketika ada kontak senjata, pergi ke pantai dambaanmu, dan bertemu mayat. Atau tiba-tiba terbangun Subuh, di depan rumahmu orang membuang tubuh-tubuh tak dikenal, yang hancur, remuk. Dan melihat saudara dan temanmu sendiri di hajar orang-orang tak berperikemanusiaan. Itu baru sedikit. Belum lagi penindasaan, pemerkosaan, harta, tanah yang dijarah. Apa kau pernah mengalami itu? Dan tsunami misalnya, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya ‘dihajar’ tsunami kalau tak ada disitu. Jadi jangan mencela, mendingan diam kalau tak peduli! Hatiku sakit.

Waktu kutulis puisi ini:

Baru kumengerti

Baru kumengerti apa arti kebebasan, Tuhan
saat temui sepi pantai dambaku
tanpa badan-badan tak bertuan
sekarang kubisa berjalan, lepas berangan

Pasir tenang seolah lupa bahwa disini pernah dicampakkan
tubuh-tubuh tanpa tetanda
mereka menyebutnya OTK
gelombang telah menyapu bersih sisa darah, bahkan sisa benak
akankah ombak menghapus juga luka didada yang mendamba damai
dan tak hanya ada di negeri andai?

September 28, 2003

Temanku Titon Rahmawan yang membuat apresiasinya mengatakan bahwa itu kutulis terinspirasi dari berita Media. “Tidak Mas Titon,” kataku padanya di email, “Itu aku alami sendiri, di Aceh.”

Doa dan cinta buat Palestina. Semoga Allah memberi kita kekuatan lebih, mungkin tenaga, waktu, pikiran, harta untuk saudara…Mari kita bantu saudara meski harus “merangkul’ setan Israel…(eits baca dulu linknya!). Bagi yang demo, demolah dengan cara-cara damai, jangan anarkis, sebab Islam itu rahmatalilalamin-rahmat untuk semesta alam. Tulisan Edward ini sangat menyentuh…

RB, 14 Januari 2009

Tambahan: dan aku senang pemerintah ikut mendukung Palestina, RI berhutang pd mereka, sebab Palestina dan Mesir yg pertama-tama mengakui & mendukung kemerdekaan Indonesia.

Iklan

9 thoughts on “Doa saja tak cukup…

  1. tercenung aku baca postingan ini
    luar biasa….
    (ah, kehabisan kata aku untuk menggambarkannya)

  2. Uni, Ed tak pernah berada di kondisi perang. Tak pernah terbayangkan, uni. Jangankan melihat mayat manusia, melihat kucing patah kaki terlindas mobil saja sudah cukup untuk membangkit rasa hiba.

    Dan betul uni … Do’a pun tak cukup. Bikin malu hati, kala orang meregang nyawa sedang kita …

    Ah … Serasa jadi orang munafik. Naudzubillah, semoga Allah melindungi kita dari keburukan ini …

  3. doa aja gak cukup, makanya meiy nambah dg puisi hehhee

    meski mereka gak mengakui kemerdekaan indo waktu itu, kita juga harusnya membantu sih. bukan karena beban hutang budi.

  4. sepanjang perang di Gaza… akupun sering mendengarkan kembali lagu “puisi pagi” ini… liriknya masih selalu up to date bila kesekarakahan masih menjadi penguasa bumi ini

  5. aku gak bisa bayangin gimana kalutnya persaan mereka.
    tapi aku sering lemes denger suara petasan, mungkin lebih lemes lagi kalo dilanda perang yach Uni..

    Duh.. damai dong damai..
    Negara lain bantu donk, PBB mana? gak berani sama AS?
    hiks… sedih..

  6. …aku sampe demam bacanya.

    kapan ya dunia bisa bener2 damai?

  7. Ya Allah, jazakallah atas postingannya.

    untuk saat ini mungkin obat2an,makanan,dana,pakaian sangat bermanfaat buat saudara2 kita d palestina, meskipun kita tau benar itu gak ada apa apanya karena itu bisa hilang dengan sekali tembakan rudal yahudi ke mereka.

    musuh kita bukan saudara2 seiman di sekeliling kita (walaupun mereka2 seringkali menyakiti kita dan berkata2 seenak hati mereka), musuh kita sangat jelas di depan mata….

  8. Ping-balik: Palestina–Bumi Cinta « Alam Takambang Jadi Guru

  9. Ping-balik: Cinta itu Peduli | Alam Takambang Jadi Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s