Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Mestikah show off?

18 Komentar

Senang sekali teriakan-teriakan tak enak waktu sahur hanya terjadi satu kali (pertama puasa) dari mushalla disebelah rumah. Aku tersenyum dan bilang pada hubby, mungkin sudah ada yang melarang karena mengganggu? Entahlah, waktu ngomong soal ini dulu dengan beberapa orang, sebagian orang setuju-setuju saja dengan teriakan-teriakan membangunkan sahur yang super heboh itu, katanya memperlihatkan kebesaran Islam. Benarkah? Oh my God! Aku bete berat dengan ritual itu, ada yang pake ritual keliling kampung bak buk bak buk, ada yang pukul-pukul tiang listrik. Bayangkan kalau rumah anda disebelah masjid atau mushalla dan corongnya langsung menghadap ke rumah! Ondeh mak ributnya! Pusiiing…Bagiku kalau suara azan selalu enak didengar, tapi suara cempreng orang tereak? Nanti dulu! Azan biasanya dilantunkan dengan indah, ada temanku yang masuk Islam karena mendengar indahnya azan. Lonceng gerejapun berbunyi dengan merdu, ritual agama yang pas/ tidak berlebihan adalah hal wajar dilakukan umat apapun.

Apakah tak setuju dengan ritual-ribut-sahur lantas tak beriman? Wallahu alam! Aku memang tak setuju dengan suara ribut-ribut membangunkan sahur, apalagi kalau kampungnya seperti tempat tinggalku yang multi etnis, beda agama, sangat beragam.

Hari pertama puasa, aku kaget berat waktu seseorang teriak-teriak: “Sahuuur….! sahuur!…!!! bangun Ibu-ibu bapak-bapak..sahuuur!!!. Naysaku langsung nangis, “Takut mesjid..takut mesjid….Ma…” sambil masih merem. Aku kesal sekali sebab baru tertidur, terkantuk-kantuk menemani Nay yang masih ‘sakau’ pisah ASI dan suka begadang malam-malam. Dan apa perlunya sih membangunkan orang secepat itu? (jam 3, sedangkan di Medan imsak sekitar pukul 5 kurang 5 menit). Emangnya umat nggak bisa bangun sendiri?

Dulu sekali waktu tinggal di camp konsenTERASI eh camp proyek pembangkit listrik di daerah terpencil di Lubung Alung Sumatera Barat, setiap puasa banyak bule yang komplen soal keributan Ramadhan ini. Temanku malah bertengkar dengan bosnya yang orang Inggris, menurutnya itu sudah sewajarnya, si bule yang harus mengerti. Si bos komplen nggak bisa tidur karena sepanjang malam orang tadarus dengan loudspeaker yang keras, dari banyak masjid di kampung.

llmuku memang tak dalam, tapi aku belum pernah membaca suruhan untuk show off dalam beribadah sampai mengganggu orang lain. Yang aku setuju adalah yang menyarankan memakai pengeras suara seperlunya, pada waktu yang terbatas, misal azan memakai loudspeaker luar dan lainnya bisa memakai loudspeaker dalam saja.

Aku tak akan mengutip hadis-hadis yang pernah aku baca atau sekedar pandangan ulama sebab aku merasa tak kompeten, namun beribadah dengan aman nyaman tetapi juga penuh toleransi terhadap orang lain yang berbeda apa salahnya? Islam sudah mengajarkan semua itu sebab Islam adalah agama rahmatallilalamin.

Iklan

18 thoughts on “Mestikah show off?

  1. Subhanallah, Ni… Subhanallah. Dikau menyuarakan kerisauan hatiku sejak lama.

    πŸ˜‰

    Nice… eh, great ding!

    bener2 bikin risau ini bang Toga

  2. hehehe… bener seharusnya saling memperhatikan satu sama lain.. mereka yang ga berpuasa juga butuh tidur dengan nyenyak…..

    jangankan mereka nang, aku yg muslim aja bete hehe

  3. Tul sekali Ni, agama kita sangat toleran, seperti kata Pak Anang mereka yg gak berpuasa jg butuh tidur nyenyak… membangunkan org sahur tujuannya sangat mulia, jangan sampai ternoda krn kita membuat org lain bersumpah serapah…alangkah sayangnya puasa kita…

    semoga byk orang bisa beribadah dg damai yo ded, damai utk diri, damai utk orang lain

  4. Yang puasa diuji lagi dengan show off … rupanya mereka juga butuh hiburan, tinggal pemimpin RT/RW atau lurah yang bisa menata lingkungan.

    bener mas, di tempatku keknya Pak Kepling sudah menegur yg ribut keterlaluan. aku baca di i-net ada kota yg mengatur mesjid2 agar berbuat yg ‘pas’ dalam beribadah…

  5. lho, sama meiy, disini juga imsyaknya jam 5 kurang 5 hehhehe and tiap hari makin maju.

    mendingan lho itu jam 3, di kampungku dulu, jam 2 !! aaarrrgggghhh

    tapi untungnya di batam gak ada tuh ritual gitu hihihihi

    eh itu bunganya cakep benger warnanya.

    jadi medan=amrik dunk hihi telmi.
    itu bunga aneh di, dpt di kampung pinggir hutan, kalau baru mekar warnanya putih, kalau siang jadi pink, kalo sore layu deh πŸ˜€ di kasih si abang buatku πŸ˜‰ *pamer*

  6. aku pernah merasakan tinggal 100 meter dari masjid, dan berada di lantai 2. dan saat orang meneriakan saur.. aku pasti terbangun dengan jantung berdebar karena kaget.
    “saurr. sauurr.. ibu ibu bangun.. saur… persiapakan makanan.. saurr..”

    aku tidak mempermasalahkan dengan suara azan, dan setauku jarang yang terdengar didini hari (atau aku tidak mendengar saking lelapnya πŸ˜€ ) tapi suara orang saur selalu membuatku terbangun deg degan. Pernah ditempat tinggalku yang lain, orang-orang membunyikan tiang listrik dan mebuat “keributan” yang luar biasa.

    sebagai seorang non muslim, rasanya tidak bisa mengungkapkan ketidak setujuan ini, karena di Negara ini tidak “lazim” menyuarakan perbedaan pendapat mengenai agama. nanti dicap anti agama, tidak punya toleransi dsb..

    wah.. koq aku jadi posting, bukan comment.. πŸ˜€

    selamat berpusa..

    Sejujurnya aku terganggu dg muslim yg melakukan agamanya dg show off, setahuku Islam tidak pernah mengajarkan begitu. Tp begitulah manusia Okta, suka “berimprovisasi” dg keyakinan sendiri hehe..kalau peaceful ya ok2 tp kalau bikin puyeng? mudah2an masih byk muslim atau pemeluk agama lain yg toleran πŸ™‚

  7. Setuju ni mey,… Setahu saya itu tidak ada disyaratkan dalam islam,…. malhan itu telah menggangu ketertiban umum,.. bagimana dengan wrga non-muslim,.. tentunya juga terganggu,… tapi hal sperti itu tidak ada di lingkungan tempat tinggal saya,…. sahur bisa dilaksanakan dengan damai dan tenang,…. met berbuka puasa uni,…….. πŸ™‚

    syukurlah di kampuang baitu avar…yg terganggu bukan non-muslim saja, aku juga terganggu bgt

  8. Argh di kampungku msh ada yg bgtu ni. Bikin migrain sj. Pukul2 tiang listrik,sampai telinga berdenging. Bah

    iya bikin bt, ngadu aja ke pak lurah nai πŸ˜€

  9. meiy, aku suka gambar putik bunganya

    aku suka juga, walo gak nyambung dg postingan πŸ˜€

  10. saya pernah merasakan betapa bersemangatnya melantunkan (sekali lagi “melantunkan”) suara2 membangunkan saur. Itu masa remaja dulu, saat masih di kampung. Kami sering kali berteriak keliling kampung membangunkan orang saur usai tadarus di surau.

    ada semacam rasa tanggung jawab, bagi remaja surau untuk membangunkan orang saur. Tidak berisik, hanya dirumah-rumah muslim, dimana lampu dapur dan ruang kamarnya belum nyala.

    itu dulu, saat masih di kampung. Bagi sebagian orang memang mengganggu, tapi bagi warga kampung kami tidak. bahkan sebagian dari mereka malah mempersilahkan kami untuk mencicipi jajanan saur. memberi dengan ikhlas, dengan senyum mengembang.

    Itu dulu. saat dimana ramadhan merupakan bulan-bulan interaksi umat untuk berbuat kebaikan. bulan dimana aromanya berbeda dengan bulan-bulan lainnya. bulan dimana warga sekampung berbondong-bondong ke perempatan jalan untuk mendengar letusan mercon yang direnteng usai subuh.

    Sekarang!! masyaallah, baru mendengar tetabuhan saat saur saja bikin kuping panas. Saya tak jenak tidur. pengen memaki juga. bukan karena apa, tapi ketika sudah bangun, tetap juga diteriaki dengan suara berdebum panci, kaleng, kentongan.. sungguh mengganggu. untung saya muslim. jadi paling mengelus dada saja.

    Nice post mbak!!


    kalao masih ‘pas’ kadarnya ok2 saja ya fian, tp berlebihan pasti m’ganggu apalagi kalau kampung kita dihuni beragam etnis beragama berbeda

  11. saya pun merasa terganggu dengan teriakan sahur-sahur.
    sekelompok anak muda setiap malam membawa begitu banyak alat bunyi-bunyian sambil tertawa-tawa sambil membunyikan petasan.

    seharusnya beribadah membuat damai…..

    suse ye kebiasaan aneh gini. salam kenal ya friend, thx dah mampir.

  12. sabar ya ni meiy!! saya juga merasakan hal yang sama disini, tapi ntahlah, saya juga kagak ngerti dengan tradisi seperti itu.
    yang saya khawatirkan nantinya apa yang dibilang orang non muslim tentang ini,

    mulai nasehatin anak2 aja cat, mrk lebih open minded πŸ˜€

  13. Iya Meiy….jam 2 lho udah teriak2 dgn gaya ‘kampungan’ banget…
    Aku gak ngerti, apa memang harusnya begitu atau gimana. soalnya dulu tinggal di tempat yg tenang, gak ada yg kyk gitu. Pindah ke tempat yg skrg, kaget deh krn denger teriakan dari kampung sebelah. Setelah baca ini, baru ngerti deh bhw mgkn gak harus begitu.
    Kadang untung jg ada yg mbangunin krn bisa aja gak dengar alarm. Tapi mbok ya yg sopan….

    iya sih, orang mo ibadah apa perlu disuruh2 ya?

  14. Wempi mah, kalo ngantuk tetep aja tidur. :mrgreen:

    heh gadang lalok mah wempi ko, iyolah alah ado kawan kan πŸ˜‰

  15. hahahaha
    nikmati ajalah buk!

    nikmati buka2an ya iya lah πŸ˜› *buka puasa maksudte :D*

  16. alhamdulillah di tempatku ga ada yg berisik2 gitu. saur ya saur aja, hehehe…

    btw, aduh meiyyyy…maap bangeeeettt…lupa bales smsmu (bego gak sih?), lama gak blogwalking, pernah sih ke sini tapi lupa minta maap. doh!!!

    next time ya meiy, mudah2an kita bisa ketemuan. mwah mwah!!

    emang ya dikau begicuuu, gpp sih, next time ya ven….mmmuuuachhh juga….
    aku juga lg jarang BW, maaf juga belum sempet komen2, liat2 aja ada sih πŸ™‚

  17. hm… setuju juga, meski aku gak ikutan sahur sih (^_^)

  18. kocu: thx yah dah mampir. salam kenal πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s