Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Catatan rimba (3)-akhir

24 Komentar

Hikmah gagal

Ini sih bagian jalan yg bagus πŸ˜€ bayangkan yg jelek.

Bahwa manusia berencana, Tuhan menentukan, benar adanya. Inilah yang terjadi pada perjalanan terakhir ke sekolah terpencil, mission’s failed.

Seperti 6 sekolah yang sudah dikunjungi, aku dan tim merasa bersemangat untuk menyelesaikan ‘misi’ kali ini. Alhamdulillah tak ada halangan yang berarti sebelum ini, selain jalan jelek yang mesti dilewati hati-hati. Syukurlah kami dapat sopir, bos yang nyambi jadi sopir berpengalaman dan keren banget nyetirnya. Walaupun hanya memakai Mobil Panther, Pak Tarigan, berhasil membawa kami melewati bagian-bagian sulit yang bikin jantung deg-degan. Beliau ini sebenarnya ‘toke’ juga di daerah Tangkahan, namun beliau rendah hati dan sering membantu program kami di sana.

Untuk ke sekolah terakhir ini, kami harus memakai mobil yang bergardan dua agar bisa menempuh medan yang paling berat. Ada informasi, jalanan sangat sulit dilewati bahkan truk Fuso-pun jeblok.

Dimulailah misi kami hari itu, jam 07.30 pagi sudah siap seperti biasa. Ujian pertama dimulai: ban bocor, orang yang diminta memperbaiki baru datang setelah 1.5 jam kemudian. Kami harus menghemat waktu karena tempatnya jauh. Bergegas kami berangkat, mengganti mobil dengan mobil bergardan dua, dan–aduuuh maaak–ujian kedua: belum berjalan 500 m, mobilnya rusak, dan perlu diperbaiki 1 jam. Dengan perhitungan waktu kami masih mungkin bertemu anak-anak dan guru, kami meneruskan perjalanan lagi. Sayang ujian ke tiga menyusul, mobilnya benar-benar rusak berat saat mendaki tanjakan tinggi, baru sepertiga jalan–nggak sanggup meneruskan lagi dan juga nggak bisa mundur untuk kembali, terjebak di tengah-tengah rimba sawit. Setelah dihitung-hitung waktunya kalau kami kembali berjalan kaki dan meneruskan dengan menyewa sepeda motor, tak cukup waktu juga. Sesampai di sana pasti sekolah sudah bubar.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke camp berjalan kaki, sopir mobil sewaan akan meminjam sepeda motor di desa terdekat lalu memanggil kembali Pak Tarigan untuk menjemput kami. Dimulailah olah raga siang, kami berjalan kaki untuk kembali ke camp. Syukur nggak terik-terik amat sebagian besar di bawah sawit-sawit tinggi, berjalan sekitar 3 jam-an, mungkin 4-5 km barulah bertemu mobil Pak T. Dan akhirnya ujian ke-4 datang juga hehe…mobil Pak T patah joint-nya! (sori aku nggak mengerti mobil) pokoknya joint yang menyangga ban itu loh :D. Udah deh, gak bisa terus. Dan alhamdulillah Tuhan yang Maha Baik itu memberi kami truk, jadilah naik truk pulang. Kalau jalan kaki lumayan juga sih, kalau jalannya sih aku enjoy, tapi teriknya itu loh, bisa bikin kering kaya ikan asin!

Mesem-mesem kami tiba di camp, mengulang rencana untuk hari berikutnya, menunda rencana rekanku Lian dan Mark untuk bertemu saudara tua alias orangutan di Bukit Lawang.

*****

Kami akan meneruskan misi yang gagal keesokan harinya. Kalau tidak hujan, rencananya naik sepeda motor. Namun kami hanya punya upaya, malamnya hujan lebat, dan kata teman-teman yang sudah pernah ke sana, kalau hujan lebat motor tak mungkin lewat, apalagi harus menyeberangi sungai yang banjir.

Ujian pertama hari kedua: teman-teman yang janji mau membawa sepeda motor, datang terlambat, katanya karena sudah menyewa mobil, jadi mereka santai aja datangnya (kami yg di camp gak tahu) *bingung*. Rupanya ada teman sudah menyewa mobil bergardan pengganti. Kemudian mobilnya perlu dicari dulu sebab belum datang-datang juga! Ternyata eh ternyata, si Bapak yang empunya mobil pergi ke ladang dulu mengambil duren! Masya Allah, apa ya arti sebuah janji???

Kemudian jadi juga kami dengan semangat baru menyelesaikan misi, sambil makan manggis yang dibawa Pak sopirnya. Belum lagi berjalan 5 kilometer, “dor!” meletuslah ban jip itu, dan kami terhenyak…Temanku langsung bilang…”Saya takut meneruskan perjalanan, sepertinya ini pertanda kita nggak boleh terus… kalau memaksa saya takut terjadi sesuatu yang buruk” padahal doi ini sudah karatan berpengalaman dalam adventure. Akupun merasakan hal yang sama, Juga dua rekan dari Australia, ternyata mereka juga punya pikiran yang sama, bahkan katanya semalam mereka berfirasat bahwa kita nggak bisa ke Glugur.

Setelah diskusi bersama, akhirnya kami membatalkan misi kali ini, walau kasihan membayangkan murid-murid dan guru di sana sudah menunggu. Mau menelpon tidak ada sinyal, hubungan sangat sulit di daerah terpencil. Kami kembali berjalan kaki ke camp, kunjungan akan ditunda bulan Agustus saja (saat nulis ini rekanku mau ke sana lagi).

Masih ngos-ngosan, sesampai di camp aku langsung diminta Mas Katiyo naik Theo hehe.. Katanya, belajar jadi mahout. Tentu saja aku mau, walau sering ke camp aku belum pernah belajar menghandle gajah. Soalnya aku punya kegiatan terus, sedangkan untuk bisa jadi mahout harus terus menerus latihan dan tinggal di camp beberapa bulan.

Waktu udah naik Theo baru nyadar, eh eh rupanya ada Tim Jelajah Trans TV lagi bikin film. Bah adegan tadi masuk gak yah? Malu juga sih soalnya aku sempat ganti jilbab dengan bandana kecil saja karena kepanasan abis jalan. *Halah palingan ntar juga jempolnya doang yang nongol :D, membatin* Memang sering juga sih orang-orang dari TV bikin film tim-ku. Apalagi TV asing udah sering. Tapi bukan aku loh, soale kalau aku yang main susah dibedakan yang mana orang yang mana gajah πŸ˜€

Aku pikir-pikir hikmah dari kegagalan ini, aku belum tahu pasti, yang aku rasakan bahwa kemampuan manusia hanya sebatas upaya dan doa, lainnya kuasa Allah, serahkanlah padaNya, dan belajar menjalani semuanya dengan fun saja! Tawakal tentu saja.

Alhamdulillah, hari ini waktu nulis, ada hikmah lagi: kami dapat Ford ranger yang-keren-aku-langsung naksir-waktu-liat– buat ke lapangan–dari Ford tentunya yang diupayakan rekan dari Australia Zoo khususnya tim Wildlife Warriors yang keren itu :). *Thanks Giles yang cakep* . Jadi inget Steve Irwin hiks..hiks…

(Asyik euy! mobilnya gede-panjang-nyentrik, sedikit aneh keknya satu-satunya yang begitu di sini, merah pekat xixixi, tapi bukan untukku loh, untuk tim). *andai aku bisa punya, imagine*

RuangBiru, 4 August 2008

Iklan

24 thoughts on “Catatan rimba (3)-akhir

  1. Wah, jadi teringat waktu ngantar karyawan berobat krn kecelakaan, tangannya patah. jauh banget, ke Tangkahan. Dari Binjai berangkat siang sampai malam jam 8, wuih..medannya seram, nobody outhere, just three of us. naik pick up.. Hehehe terpaksa nginap. Weleh, kok saya curhat disini.
    Assallammualaikum.

    waalaikumsalam effendi, thanks yah dah mampir, sesama org medan rupanya bah πŸ™‚

  2. πŸ˜€ Mobil dinasnya sama dengan punya saya di Flores, kalo gak Ford ya Strada double gardan, medannya mirip Ni… Saya tak henti2nya salut dengan Ibu satu ini, keep going ya Ni, kerjaan Uni sangat mulia…

    maunya punya sendiri ded…hehe…:)

  3. iyo uni… tapi seneng donk dapet ford ranger. hikmahnya, jadi serasa LASKAR PELANGI ya… πŸ˜€

    hihi iya, I love Laskar Pelangi, kaya masa kecilku itu *perasaaaan*

  4. double gardan.. maksudnya double cabin..? kalo gardan aku ga ngerti. baru ngeh T_T pas baca komen pak Deddy. emangnya cuma mobil gitu aja yg bisa lewat. semua yg offroad & 4wd juga bisa kan?

    4 while drive ngerti kan mus…:D iya yg utk off-road lah.

  5. wah, saya jadi membayangkan keika kls 1 SD tahun 1978 saat masih di sumatera meiy. jalan setapak, kendaraan yg jarang, dan rumah penduduk yg hanya satu-satu.

    tapi asyik dan romantis kan pak zul πŸ˜‰

  6. Ya hikmahnya ada di hati

    alhamdulillah pak πŸ™‚

  7. wah seru yah Ni…berasa ikutan ada di sana…asli pingin banget bisa ketemu uni di dalam rimba, heheh..kangen Ni, lama banget gak blogwalking :(…

    jangan sampai sibuk membunuhmu nai hehe…ayo ke medan yuuuk!

  8. Perjalanan yg sangat menarik
    **kira2 disana sempat mandi gak? πŸ˜› **

    waah disana mah mandi trs bang…sungainya jernih!

  9. menarik yach Meiy..
    rasanya asik begitu dekat dengan alam, dan dapat menyumbangkan kemampuan kepada orang2 yang membutuhkan.
    sukses yach.. semoga perjalanan2 yang lain lancar..
    πŸ˜€

    makasih Okta, selamat ya buat projectnya πŸ™‚

  10. Ass.

    pasti semua ada hikmahnya yo ni…….dapek ford ranger lagi…wah……mantab

    alhamdulillah al. utk tim loh, bukan utk ambo.

  11. yo sabana panjang postingan uni, berseri bagai. indak tabaco dek ambo doh… kasadonyo.

    nan penting komen, hahaha :mrgreen:

    selamat datang di medan wem. horas bah! bilo ka rumah?

  12. wah, lama tak ke sini. makin banyak yang tak kuduga. oya, ada sesuatu di blogmu. mohon dibaca ya!

    udah aku baca ito, sialan tuh maling yah, biarin deh, berarti dikau byk faaans πŸ™‚

  13. wah… reportase perjalanan yang menakjubkan… mengabdi sekaligus mengenang!

    makasih dah mampir mas, senang nih dimampiri penulis keren πŸ™‚

  14. Optimis Meiy, semua ada hikmahnya .. ayo ayo maem bubur ketan item doloo ..*+%??

    duh aku belum sempet2 masak bubur itemnya dith, padahal dah pengen bgt ampe ngences heheh

  15. ondeh… lamak bana masuak hutan kalua hutan Ni… pasti sero hunting foto. alah lamo indak masuak hutan, terakhir katiko masih mudo2 dulu jo kwn2 di mapal πŸ˜€

    ondeh cando alah gaek se max ko, uni jadi malu, perasaan kok msh tujuah baleh heheh πŸ˜€

  16. pengen dech jalan2 di rimba belantara gitu.

    sering kok, cuman jarang ninggalin jejak aja kok Mbak. πŸ˜‰

    ayo ikut dhi, thx yah dhi dah mampir

  17. Uni avar ko wanita yang tangguh,… salut buat uni,.. sgala rintangan begitu mudah dilalui,… begitu juga tentunya dalam kehidupan sehari-hari. πŸ™‚

    doakan sajo biar tangguh sabananyo, kini sok-sokan se ko avar.

  18. Cerita2 dari uni menarik selalu…
    Ufh, terakhir awak jalan2 di hutan, itu 3 tahun lalu di hutan Jayagiri, Tangkuban Parahu. Nothing special, hutan icak2 itu mah. Soalnyo ndak ado gajah dan harimau apolagi durian πŸ˜›

    hehe uni icak2 lo, soalnya indak pai jauh2 do, kebetulan hutannyo nan alah mandakek alias dikurangi trs hingga tinggal hutan primer berbatasan langsung dg desa (hutan dataran rendah alah abis)

  19. Pengalaman yang menarik. Good news…

    salam kenal hidayat, thx ya dah mampir πŸ™‚

  20. sibuk terus ya meiy keluar masuk utan? sorry, aku jg baru bisa mampir. berhari2 terpuruk di plurk, haha…

    meiy, kalo aku punya salah, maapin ya? 😦

    asyik tuh terpuruk di peluk hehe, ooh plurk yah kekekek πŸ˜€

    duh minta maap segala, mang mau kemana?

  21. Hmmm.. jadi ingin berpetualang di rimba πŸ™‚

    kek nya km br pulang juga deh, td ngintip blog birumu, lom sempet baca.

  22. salam dari cihideung forest… pagi ini biawak kabur setelah berpapasan di depan rumahku. Sementara squirrel masih melanjutkan mengupas kelapa hijau yang kemarin sore ditinggalkan. Oia, kemarin sore juga, seeokor king Cobra menggelepar menunggu ajal setelah dilindas mobil pengunjung yang sengaja membunuhnya. Kasihan, badannya terbelah-belah, seperti ikan disayat jadi dua. darahnya membanjiri teras belakang rumahku.
    demi untuk membantunya menyudahi rasa sakitnya, kutebas kepalanya dengan golokku…. kasihan… tapi penderitaannya berakhir sudah…. seperti itulah satu sisi kehidupanku

    salam juga dr rimba beton medan πŸ™‚

    ajari aku menebas satu kesakitan MT…

  23. sepetinya seru tuh!!!

    sero cat! πŸ˜‰

  24. Wuih… seru banget! Jadi kangen pengen masuk2 ke jantung Sumatra lagi.
    Tapi kapan ya… kakakku yg di Medan udah dipindah ke kotaku. *curcol, lagi seneng banget! πŸ˜€ *
    Btw Ford ranger mang keren, enak buat ngangkut padi, cuman minumnya rakus… cepet haus. πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s