Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Catatan rimba (2)

6 Komentar

Hikmah dari sekolah terpencil…

Lokakarya guru; serius tapi santai.

Programku kali ini adalah melanjutkan pelatihan guru konservasi yang sudah dilaksanakan November tahun lalu, bersama rekan dari Melbourne Zoo Discovery and Learning, Mark dan Lian serta tim FFI-SECP, kami melakukan lokakarya 2 hari (21-22 Juli) di Tangkahan, masih bekerjasama dengan Gugus III Kelompok Kerja Guru SD di Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Memang bukan pekerjaan besar dan hebat, tapi kami percaya setiap upaya baik insya Allah akan menghasilkan kebaikan juga. Alhamdulillah walau hujan lebat Allah mengabulkan doa kami yang sudah harap-harap cemas tak bakal ada yang datang sebab kondisi daerah terpencil saat hujan lebat benar-benar mencemaskan. Peserta harus datang dari desa-desa yang jauh dan menyeberang sungai untuk bisa sampai di tempat acara sehari sebelum acara, satu-satunya tempat yang tersedia. Sorenya Tuhan memberikan panas sehingga peserta berdatangan, seperti biasa dengan bersemangat.

Syukur acara dua hari Lokakarya berjalan menyenangkan dan lancar jaya, hasil evaluasi berupa masukan, kritik & saran rata-rata menginginkan program berlanjut dan semua fun sebab materi disajikan dengan metode interaktif, aktivitas yang berupa permainan dan guru berperan sebagai murid. Hampir tak ada aktivitas “aku mengajar kau mendengar dengan bosan & mengantuk”. Thanks to Lian & Mark, guru-guru berpengalaman dari sono yang banyak mengajarkan metode penyampaian pendidikan lingkungan yang lebih hidup. Nyatanya belajar sambil bermain tak hanya disukai anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Lokarya dilanjutkan dengan kunjungan ke-7 sekolah yang terlibat satu minggu berikutnya, sekolah-sekolah di daerah terpencil, sebagian besar berada di tengah-tengah perkebunan sawit dan batas taman nasional. Kami berencana melanjutkan program pendidikan konservasi di sini dan mencarikan dukungan buat mereka, menghubungkan dengan SD di Aussie dan kalau mungkin mendukung juga infrastuktur sekolah, alat peraga, olahraga, seni, dsb. Juga pengenalan budaya, korespondensi antar anak-anak kedua bangsa.

*****

Subhanallah…kata yang pertama terucap setiap pagi saat bersiap-siap keluar dari kerimbunan camp yang dinaungi pohon-pohon besar. Aku selalu takjub saat menyaksikan cahaya jatuh mengilaukan daun-daun di rimba raya di seberang sungai. Tak puas menikmati hamparan gunung yang pelan-pelan tertinggal di belakang. Begitu indah dan terasa lembut alam kepada manusia, segar udara rimba, simfoni satwa, kabut putih yang pelan-pelan menghilang dari pucuk pepohonan…subhanallah, alhamdulillah…Syukur masih ada hutan yang menyimpan air, oksigen, kayu, obat, dan semua yang dibutuhkan manusia di sana. Sayang, rasa keindahan itu segera dinodai pikiran kawatir, berapa lama lagikah hutan yang tersisa ini bisa bertahan? Manusia terlalu serakah menjarah alam.

Syukurnya setengah hari hampir selalu cerah, perjalanan terasa menyegarkan. Jalan menuju sekolah-sekolah terpecil harus ditempuh pelan-pelan sebab banyak yang berbukit, kolam-kolam keruh salah tempat di jalan, berbatu, licin, dsb, pokoknya bikin adrenalin naik deh, cocok untuk off-road. Dan puji syukur pada Tuhan, kami selalu disambut dengan ramah, baik dan gembira. Acara jumpa dengan anak-anak dan guru mereka terasa sangat menyenangkan. Plus sajian minuman, makanan, rambutan dan manggis yang hangat bersahabat.

Teman-teman diperlakukan kaya seleb, dimintai tanda tangan

Kalau ada yang menganggu pikiran tentunya kondisi sebagian sekolah yang memprihatinkan. Bahkan ada sekolah yang benar-benar bau kotoran sapi, lantai keropos, bangunan semi permanennya sudah sangat tua, lantai bolong-pecah keluar tanah. Mereka minta dibantu dibuatkan pagar. Rasanya sedih sekali. Hati membatin, kenapa ya tega orang-orang yang kaya raya dari hasil sawit ini? Aku tanya guru apa ada bantuan dari Kebon untuk sekolah? Non-sense! Milyaran bahkan mungkin triliunan rupiah keluar dari perkebunan ini, namun kondisi sekolah yang ada di dalam nya mengenaskan. Ah jauh sekali bedanya dengan rumah tetanggaku yang pensiunan kebon, mereka punya istana di mana-mana, konon kabarnya jajaran direksi begitu keadaannya. Dan aku berpikir, adakah anak-anak mereka yang disekolahkan di situ? Mungkin menginjak halamannya yang bau kotoran sapipun mereka tak sudi.

Akhirnya, aku hanya bisa berupaya maksimal untuk meneruskan program ini, berdoa, berharap upaya fund raising yang kami usahakan bisa sukses nantinya, dan tentunya pendidikan konservasi diterapkan. Dan kalau ada teman-teman yang mau mendukung sekolah-sekolah ini mengapa tidak? Kalian bisa menghubungi mereka lewat FFI-SECP (aku).

My Camp, 27 Juli 2008

Photo credit: Diding-FFI-SECP

Iklan

6 thoughts on “Catatan rimba (2)

  1. sedih yach, kalau melihat perbedaan yang mencolok
    di Jakarta, banyak bangunan sekolah megah, dengan uang masuk sekolah selangit, biaya pendidikan selangit.

    aku sempat berfikir, seandainya sekolah-sekolah “mewah” mau memberi subsidi bagi sekolah2 lain, mestinya hal tersebut tidak terjadi.

    katakanlah mereka memberikan 10% dari uang masuk dan uang bulanan mungkin sudah bisa memberikan bantuan yang sangat berarti bagi sekolah-sekolah lain yang membutuhkan

    Semogaa….

  2. semoga saja pembangunan di Indonesia bisa merata, dan anak-anak jadi sejahtera.

  3. Sepertinya fasilitas2 pendidikan di Indonesia belum merata (sangat), apakah pemerintah daerah yang kurang serius, atau otonomi yang kurang berjalan semestinya

  4. Salut buat Bu Meiy, ditengah keterbatasan semangatnya gak pudar, semoga banyak lagi yg spt ini, terutama pem. daerah tentunya, walaupun sebenarnya kita semua juga bertanggungjawab … Wass

  5. Apakabar Meiy?? .. tetap semangat ya .. kesian liat anak2 sekolah, mereka benar2 butuh belajar buat kelak di kemudian hari. Selamat beraktivitas Meiy ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s