Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Catatan rimba (1)

3 Komentar

Musim yang liar

Perjalanan kali ini di musim hujan, durian, rambutan, manggis…juga musim satwa liar mendekat ke kebun-kebun buah di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser. Kata teman-teman, banyak jejak satwa liar di bawah pohon durian; jejak gajah, beruang, harimau…Setiap hari ada saja masyarakat lewat di sungai memakai ban, pulang memanen durian. Sambil memandikan gajah pada sore pertama datang, teman-temanku para mahout membelikan durian langsung di sungai. Duh nikmatnya makan durian setelah berbulan-bulan tak pernah mencicipi buah tropis yang eksotis itu…Hampir setiap hari ada saja yang memberikan buah aduhai ini atau rambutan, aku sampai lupa diri makan kebanyakan, lupa kalau Nay masih ASI saking sedapnya ;), hiks…hiks…akhirnya berhenti makan karena Nay mencret…*fuih, dasar mama rakus!*

Camp, bagiku selalu memberikan nuansa yang berbeda setiap kali datang dan datang lagi. Yang paling terasa, betapa indahnya bekerja dengan tim yang solid. Asal ada saja yang stand-by di camp, siapapun itu dari timku, insya Allah segala urusan pekerjaanku maupun keseharian jadi aman nyaman, ada saja yang membantu. Alhamdulillah. Aku tersenyum syukur memiliki tim sehebat mereka, meskipun sebagai mantan orang manajemen aku mencoba mengantisipasi setiap detil aktivitas yang direncanakan dengan rapi, pasti ada saja yang hal-hal kecil pemicu error dan tidak pas. Itulah lapangan, reality. Mungkin ini sesuai dengan teori chaos itu. Disinilah sangat terasa gunanya bekerja dengan tim, saling mengisi.

Kalau pagi, yang sering membangunkanku adalah monyet-monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang riuh berlompatan di pohon-pohon di sekeliling camp, dan burung-burung, serta orangutan di seberang sungai. Ribut banget, anehnya yang memang hobi tidur pagi, nggak terbangun juga. Lucu sekali monyet-monyet itu, mereka cuek aja walau diteriak-teriakin Naysa, malah semakin in-action. Satu pagi, mereka asyik berpesta memakan satu tumpuk durian di dekat camp, yang belum diangkut pemiliknya ke kampung. Nggak bisa diusir, belum lima menit datang lagi Wah yang punya bakal kecele kalau datang ketemu kulit durian saja. Nyucipun kali ini, aku ditungguin monyet yang cengengesan di pohon di dekatku hehe…Awalnya takut juga digigit, tapi mereka baik-baik kok, mungkin mengira aku temannya kali yah 😀 (*salan, apa aku mirip yah?*)

Malam– tidur bangun, oleh suara petasan yang sangat terlarang di hutan. Tapi kali ini, petasan sangat diperlukan dan dibolehkan–apa daya—teman-temanku terpaksa mengusir dengan menakut-nakuti gajah liar yang ingin berkunjung ke kampung nenek moyang mereka dulu, sekedar say hello kepada pohon-pohon baru yang sepertinya nikmat untuk dikudap. Bagi gajah, semua pohon milik Tuhan dan syah-syah saja dimakan. Yang masuk ke ladang bekas rimba kali ini 3 ekor gajah liar, satu induk dengan dua anak remaja, jantan dan betina. Ketiganya sehat, besar dan gendut. “Lebih besar dari Theo, ” kata temanku yang melihat dan bertugas jaga malam mengusir mereka kembali ke rimba.

Kasihan aku melihat teman-teman mahout, setiap malam harus berjaga. Manusia memang egois, kitalah sebenarnya yang menjarah rumah gajah, bukan sebaliknya. Walau sebenarnya kami cukup senang dan enjoy saja saat ketiganya berkenalan dengan Olive (gajah jinak CRU), namun tak semua masyarakat bisa mengerti bahwa gajah hanyalah mencari makan menelusuri daerah jelajahnya yang memang luas, yang kini telah menjadi kebun. Human-elephant conflict mitigation yang merupakan salah satu tugas timku, konflik manusia-satwaliar sedang gila-gilanya terjadi di berbagai daerah di Sumatera. Di Sei Lepan yang berdekatan dengan Tangkahan, 14 gajah liar juga masuk ke kebun masyarakat. Sebagian teman-teman bertugas bekerjasama dengan masyarakat menggiring mereka kembali ke hutan. Dengan menggunakan berbagai cara diantaranya membuat pagar antara kebun desa dan hutan dengan chilli grease alias pagar bercabe dan oli. Juga dengan cara-cara tradisional lainnya seperti bunyi-bunyian, meriam bambu ataupun petasan. Kadang-kadang seperti di Aceh, gajah jinak-terlatih CRU yang menggiring rekan mereka kembali ke hutan. Manusia tahunya itu kebun mereka yang dimasuki gajah, dan lupa merekalah sebenarnnya yang menjarah rumah gajah.

Penangkapan bukanlah pilihan yang bijak. Gajah camp CRU adalah sebagian kecil dari korban kebijakan yang tidak bijak di era tahun 1980-an saat hutan mulai dieksploitasi, dikonversi menjadi perkebunan-perkebunan sawit dan karet. Mereka ditangkap dan di ‘sekolahkan’ di camp konsentrasi Pusat-pusat Pelatihan Gajah. Tak usahlah diceritakan bagaimana mereka disana. Wallahu alam, menyedihkan memang, manusia memang kejam kepada alam. Dan CRU adalah salah satu upaya pemberdayaan gajah dan mahout untuk perlindungan gajah Sumatra dan habitatnya, konsep yang menghubungkan konservasi ex-situ dan in-situ.

CRU Camp, Namo Nggeltus-Tangkahan, TNGL–26 Juli 2008

Photo credit: Mahdi Ismail, FFI-AP

Kosakata:

1. Mahout = secara tradsional diartikan ‘pawang yg menggunakan ilmu magis’, tapi teman-temanku lebih suka dipanggil ‘elephant mahout’ atau perawat gajah sebab mereka tidak menggunakan ilmu magis, hanya latihan.

2. CRU=Conservation Response Unit, salah satu program FFI untuk perlindungan gajah Sumatra dan habitatnya.

3. Human-elephant conflict mitigation; upaya penanggulangan konflik manusia-gajah.

4. Theo : gajah jantan CRU

***Makasih buat teman-teman yang mampir, maaf nih belum sempat berkeliling, biasalah kalau pulang dari lapangan dikejar-kejar laporan plus rencana bulan berikutnya, terima kasih silaturahimnya 🙂

Iklan

3 thoughts on “Catatan rimba (1)

  1. mereka kehilangan rumah dan habitat asli sehingga masuk ke habitat manusia, itu wajar

  2. meiy, hutannya disana masih lebat and terjaga, gak ?

    terus kalo binatang2x liar itu masuk ke kebun masyarakat, dirusak gak ? mudah mudahan binatangnya cuma ditakuti ya ama mereka,gak sampai dibunuh

  3. anang: betul nang, sayang tak banyak manusia yg menyadari itu 😦

    dian: hutan primernya masih, di daerah tangkahan saja sih, di bagian leuser lain di aceh misalnya, sudah banyak perambahan dan penebangan liar 😦

    di Tangkahan masy tidak membunuhnya, Timku yg menjaga dan menggiring kembali ke hutan, sayang juga di bagian lain negeri ini banyak masy yg sadis dan tentunya pihak perkebunan besar yg berkuasa, membunuh satwa liar yg masuk lahan mereka, termasuk gajah. mereka tidak sadar merekalah yg menjarah lahan gajah 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s