Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Aku dan laut, balada

21 Komentar

Episode 1:

Memandangmu laut, keluasan bentangan di depanku, tak mampu kubuang visi membayang hari lalu.

Bersepeda ke pesisir kala hati gundah sendirian. Berbincang dengan nelayan, mengagumi mereka menarik pukat dengan tubuh-tubuh kuat, menghitam pekat, terbakar matahari. Memandang bagan, anak-anak berebutan ikan kecil-kecil di pantai Pasir Jambak, mencoba mensketsa keindahan tangkapan mata meski lukisanku apa adanya. Laut mengembalikan semangatku. Dan aku pulang ke rumah cinta! Rumah kecil di pesisir kota Padang.

Bercengkrama bersama sahabat, menikmati keremajaan, bermain ombak di tepian, kadang nikmati diam mendengar curahan jiwa, pertemanan yang indah.

Dan kuingat satu hari: ketika tiba-tiba kau menanyakan, mengapa aku suka laut, selalu memandang kejauhan dan merenung. Aku menjawabmu dengan diam, dan mata yang menyimpan sejuta jawaban. Kuyakin kau telah mengerti, sebab kemudian kau menemaniku menikmati ombak, camar dan matahari.

Episode 2:

Satu episode membayang lagi:

Hari-hari di Nanggroe Aceh, pagi senja, tak berbilang waktu kita menikmati laut, ombak, buih, biru, jingga langit dan air bersama. Memandang arakan awan. Menari bersama camar. Bersama anak-anak tercinta mengejar kepiting dan umang-umang. Mengagumi bangau-bangau di puncak-puncak pohon bakau, di pesisir Alue Naga, Ulee Lheue, Lhok Nga, Ujong Batee…

Episode 3:

dan dia! DIA!

ombak yang bergulung membungkam keangkuhan manusia, datang, tiba2 menyentak, menggulung

teriak, lolongan, rintihan, duka, tangis-tangis. tangis. sedu sedan, diam.

perjalanan,

terpana: “di nerakakah kita?” batin tersedu

Sabang

Laut ternoda seribu bangkai manusia, rumah, hewan , apa saja

Malahayati

Kajhu

Lamnyong

Rumah kita entah dimana!

Darussalam

tubuh-tubuh bergelimpangan

meluluhlantakkan Nanggroe, jiwa kita.

terdiam, terpana, tergugu tawakal dalam inginNya.

bahkan tangispun teredam kepedihan

kuserahkan saja cinta padaMu, padaMu.

telah kulakukan semampuku untuk nanggroe, kampung halaman kedua, ranah cintaku

walau bayang-bayang kiamat kecil di Nanggroe takkan pernah pupus dari ingatan, tetap kucinta kau lautku!

Hari ini:

laut menjelmamu dalam muram. hari ini, harimu

mungkin takkan mampu kulupa, biarlah saja menjadi kutukan

di benakku sampai mati

dalam ingatan

aku telah belajar meredam rindu dendam

melepas renjana ke ruang hampa

membebaskan cinta

hanya berdoa agar kau bahagia

pergilah, biarlah

mengalir, mengalirlah

seperti katamu dulu (ya dulu!): biarkan rasa mengalir walau ke jurang!

Kemudian sebagai seorang optimis aku masih berharap jurang itu berakhir dilembah indah subur dan hijau

seperti Ngarai Sianok dulu, di kampungku. dan aku air!

Theme Park, Pantai Cermin–14 Juni 2008

Iklan

21 thoughts on “Aku dan laut, balada

  1. salam
    pake episode segala,,, sinetron donk 😀

    hihi bener kalee 😀

  2. tsunami tak pernah membuat aceh hilang. tapi tetep hidup.. dan akan terus hidup.

    Iya insya Allah Nang, sekarang lebih baik

  3. Kunjungan balik Meiy, makasih … salam kenal juga. Senang baca2 postinganmu yang padat tentang realita hidup.

    Salam …

    senang kenal kamu dith. ak link ya 🙂

  4. mbak bukannya di medan??? ngapain di aceh??sorry OOT:mrgreen:

    sekarang di Medan Catra, dulu di aceh dll, aku nomaden hehe 😀

  5. Ya ya … laut meamsal kekebasan, terkadang keganasan, … tapi kog ya ada semacam kurungan di pinggri laut ya … ada ap tu Mey?

    lucu ya pak. itu kebetulan di tempat main anak-anak, jadi lautnya di pagarin. 😀

  6. sayang daku gak bisa menemani mu, karena kita sudah jauh berbeda… hiks…

    hihi…baa lauik padang wem? mudah2an indak tsunami

  7. OOT: ma kasih mbak meiy mengingatku. itu mengharukan. *peluk erat*

    *peluk Yati juga* 🙂

  8. Meiy..
    tulisan mu bgs , kata2 nya puitis spt pujangga .
    aku ga bisa nulis kae kamu , teteplah menulis yah Meiy ..

    senang nih dimampiri teman baru, sering2 ke sini ya ven 🙂

  9. wew…jadi merinding. lama kamu gak nulis sedalam ini ya, meiy? ini keren. asli keren.

    namanya laut ya dalam ven, hehe

  10. waktu itu pagi hari aku sedang menonton tv, aku lihat berita tentang aceh, gempa, blom disebut tsunami
    kemudian aku telp beberapa teman dekat, beberapa ada disekitar aceh, beberapa di medan.
    siang hari berita di tv bertambah “ngeri” dan keesokan harinya berita di telebvisi makin mengagetkanku.
    sampai sekarang masih terbayang kondisi aceh, walaupun aku hanya melihat dari layar kaca…
    Sedih…

    ga terlupa deh okta, syukurlah aceh dan jogja sudah mulai pulih

  11. laut itu, sejuta kenangan tercecer sepanjang pantai…

    indah meiy
    awalnya
    tapi mengiris
    di bagian akhir

    walau begitu, aku tetap optimis kok uda 🙂

  12. laut seperti api.
    bisa jadi kawan, bisa jadi lawan.

    tulisan keren, Meiy.

    ah jadi gr yg muji sang penulis neh. belajar wie

  13. Tulisan ini refleksi Uni atas kejadian Tsunami di Aceh? 😀

    Semoga tangan-tangan manusia tak lagi merusak ya…

    refleksi pikiran kalau ngeliat laut, kompleks deh alkifah 😀

  14. laut selalu bisa memberi kejut dalam hidup…

    bener sekali mas, thanks dah mampir ya…salam kenal

  15. hmm..udah beberapa tahun ya uni.. belum wisuda loh, diundur jadi minggu depan. sekarang lagi ngurusin administrasi. udah gitu tinggal nerusin ke S1, masuk kuliah lagi. TIDAAAKKK !!! nyari kerja sambilan juga sih. ada tawaran buat ngajar di tempat kursus gitu. moga2 dapet. ada juga temen yg minta bantuan dibikinin skripsi. gimana neh???

    yg penting traktir hehe. jangan mau bikinin skripsi orang mus! mulailah menolak hal-hal ‘aneh’ walaupun kecil2an…ngerti kan, nanti kita terbiasa kalau mulai. ayo kerja sambil kuliah lagi ya dek!

  16. gaya tulisannya agak beda kali ini… hehe

    sedang nyoba resep baru tja 😀 keasinan kali yah?

  17. ah..doakan saya suatu saat bisa memotret Aceh…

    aku doakan nja isya Allah, kamu usahakan ya…ato ke Medan dulu, tar di Aceh gampanglah…byk sodaraku di sana 🙂

  18. kejadian itu gak akan bisa terlupakan ya…..sampai kapan pun…..

    disisi lain, mungkin itu adalah sisi kelam sebuah keindahan……

    wah ‘sisi kelam sebuah keindahan……’ , hebat istilahmu jeng 🙂

  19. Jadi merinding bacanya,…masih kebayang gmna pemberitaan di TV,…apalagi berada disana saat kejadian,…mudah2an kampuang awak jan lah samapai mantuak itu yo ,..amiinn,,…bilo uni ka Padang ko?pengen basobok jadinyo,…

    doakan yo avar bisa pulang, kopdaran kito rami2 🙂

  20. Kalo gak ad tsunami, aceh gk akan lebih tegar..

    hikmah dari Allah ya dio

  21. kemaren abis ngeliat nih pic, td malam aku mimpi 😀 mimpi pagar kawat ini kekkekek

    hihi ada aja ya mimpi di, asal jangan beneran aja kamu dikurung kawat berduri :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s