Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Anak-anak kehilangan

20 Komentar

Hampir setiap sore, aku bertemu anak-anak yang sedang bermain sepakbola di jalan Sendok, areal rumahku. Walau jalan ini terbilang aman karena tak banyak kendaraan lewat, tapi aku ngeri juga, tak banyak bukan berarti tak ada. Ada saja orang-orang tak bertanggungjawab yang ngebut tak peduli banyak anak-anak. Anakku Uqan dan Ufipun tak bisa dialrang main di jalanan karena semua temannya disana, terutama kalau sore, ada yang bersepeda, sepakbola, atau sekedar kejar-kejaran. Walaupun halaman rumah cukup luas, bagi anak-anak tetap saja kurang. Energi dan fantasi mereka ingin merambah dunia kali ya!

Selain khawatir, ada rasa kasihanku untuk anak-anak kota yang tak bisa menikmati fasilitas bermain yang cukup misalnya lapangan luas yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan; main layangan, sepakbola, bulutangkis, sekedar manjat-manjat pohon, dsb. Kecuali kalau mereka tinggal di kompleks ekslusif yang bahkan menyediakan danau-danauan dan hutan. Jangan harap deh kalau kelas ekonomi ngos-ngosan bisa punya fasilitas begitu. Wah dimana itu? Aku belum pernah kesana. Kata temanku yang kebetulan anak konglomerat daerah, Bapaknya lagi bikin kompleks perumahan mewah yang ada danaunya. Wah!

Walaupun dunia bagi anak-anak selalu indah–asal saja mereka tak melarat-melarat amat, seperti dieksploitasi untuk bekerja atau kelaparan–mereka tetap bahagia bermain dalam keterbatasan. Tuhan memberi mereka imajinasi dan fantasi yang luas untuk menikmati dunianya. Namun sudah selayaknya masyarakat (tentu yang mampu), apalagi pemerintah menyediakan lahan bermain yang aman dan cukup bagi anak-anak, tentu saja untuk kreativitas dan perkembangan fisikal-mental. Aku katakan masyarakat, karena ini bisa saja dilakukan asal mau. Aku melihat lahan kosong yang dijadikan lapangan sepakbola dekat kantorku, dipinjamkan orang berada untuk pemuda, dan mereka merawatnya. Bermanfaat kan daripada dibiarkan terlantar dan jadi tempat tumpukan sampah orang-orang yang tak bertanggungjawab. Ini ‘trend ‘di beberapa daerah yang pernah kulihat, lahan kosong jadi TPA.

Dikota-kota kita mustahil mungkin memimpikan ruang publik aman nyaman namun gratis bagi masyarakat yang tak mampu tinggal di kompleks yang menyediakan berbagai fasilitas. Duh impian yang jauh mungkin ya….Di Medan sini, Lapangan Merdeka saja, satu-satunya lapangan bersejarah setahuku (atau aku yang tidak tahu ya?) dan lapangan publik yang agak layak (hehe menurutku)–untuk aktivitas olahraga atau santai-santai masyarakat–sudah dijejali, dikurung oleh tempat jajanan mahal (buat rakyat kecil) yang menurut ‘mereka’ keren mungkin. Mereka yang mendapat keuntungan tentunya. Aku baca sebelumnya banyak juga yang demo atawa protes (sudah lama), tapi yah biasalah di negeri ini, bak peribahasa: “Anjing mengonggong kafilah berlalu.” Menurutku terlalu kecil dan pas-pasan untuk kota sebesar Medan. Mana kotor lagi, minggu kemarin baru kesana, banyak sampah bertebaran.

Waktu di Banda Aceh, aku senang sekali bisa menikmati fasilitas alam yang masih bagus, mungkin karena belum sepadat Medan. Di seputaran Darussalam saja (Kampus Unsyiah) tempat tinggalku dulu (entahlah sekarang?), masih banyak sekali lapangan-lapangan yang bisa dipakai untuk bermacam kegiatan. Punya kampus dan punya masyarakat. Belum lagi pantai gratis yang bisa dijangkau dengan mudah. Kalau kota besar, semua yang bicara uang.

Kapan ya negeri ini akan memiliki fasilitas publik gratis untuk masyarakat ekonomi menengah-bawah, jangan harap lagi taman kota, atau kebun-kebun bunga, sungai yang jernih seperti yang kulihat dengan ngiler di gambar-gambar di negeri orang. Di Seoul, Korea Selatan misalnya, aku melihat (baca) sungai yang dulunya ditutup karena berpolusi, sekarang malah dibuka karena sudah bersih dan bebas polusi, masyarakat bisa berjalan-jalan menikmati air yang bening dikotanya. Di negeri ini? Hati-hati aja jangan sampai kecebur bisa-bisa tertelan limbah beracun. 😦

Iklan

20 thoughts on “Anak-anak kehilangan

  1. Lapangan merdeka? lebih rindang rth imambonjol kek nya…

    iya wem, lapangan udah kecil diperkecil lagi dg membuat tempat jajan fast food 😦 milik pengusaha kaya, kalo warung tenda kecil tapi rapi milik rakyat kan ok tuh

  2. “Di Seoul, Korea Selatan misalnya, aku melihat (baca) sungai yang dulunya ditutup karena berpolusi, sekarang malah dibuka karena sudah bersih dan bebas polusi, masyarakat bisa berjalan-jalan menikmati air yang bening dikotanya”

    Klu di negara kita kebalikannya Uni,..yang dulunya bersih,..bisa main air sepuasnya (berenang) sekarang udah ga bisa dipakai lagi,..bau dan berwarna,..

    iyo avar…hiks..hiks
    eh foto rancak bana ko ha, ganteng oi!

  3. semua udah berubah jd hutan beton. ah paling enak di desa, bebas polusi, lapangan masih luas dan anak2 bebas bermain…. duh jd keinget masa kecil.

    sekarangpun banyak desa sudah terancam kehilangan keasriannya, hutan digunduli :(, byk longsor, bahkan tenggelam.
    sidoarjo saja satu contoh.

  4. fasilitas umum semacam taman kota memang masih sedikit sekali di sini. mungkin pemda belum serius mengupayakannya. tapi kita bisa koq membentuk komunitas di sekitar tempat tinggal kita yang sama-sama peduli pada pentingnya area semacam taman kota, lalu mengupayakan taman yang sesuai dengan keinginan. asalkan diupayakan bersama-sama, biayanya tidak akan terlalu besar. kalau menunggu upaya pemerintah, tidak ada kepastiannya. iya, nggak?

    sementara tamannya belum ada, aku mengalokasikan minimal tiga hari dalam sebulan untuk masuk hutan. hitung-hitung membersihkan paru-paru. hehehe…

    setuju tja, ide itu yg terpikir olehku waktu ngeliat lapangan sepakbola yg dipinjamkan warga kaya di dekat ktr 🙂 utk tingkat kecil2an halaman/rumahku emang tempat main anak2, kdg2 kaya tempat penitipan anak deh rumahku 😀
    met nikmati rimba ya!

  5. Pertama bagaimana bergairahnya anak-anak beraktivitas, kaum tualah yang terlalu egois, tidak mau berbagi menyediakan fasilitas untuk mereka. Kita memalangkan harapan generasi muda. Mau jadi apa bangsa ini. Heran.

    ya pak, orang tua lupa kali dia pernah jadi anak-anak 😀

  6. kalo di kampung2 masih bisa ditemui……….

    yah dikota nyaris tak ada…….

    Ini perlu perhatian pemerintah daerah…

    apa ada pemerintah yg perhatiin hal2 begini, pendidikan aja dianggap tak penting al…

  7. Ternyata sama aja ya, di mana2 anak-anak memang suka (baca: terpaksa) main di jalan.
    Di daerahku ada fasum yg lumayan dan taman buat anak-anak, tapi toh anak-anakku lebih memilih main sepakbola di jalan depan rumah (tapi jalan buntu, jadi lumayan aman, jarang ada kendaraan lewat).
    Alasan mereka, taman isinya bayi2-yg-sedang-disuapi, sementara lapangan basket “dijajah” anak-anak besar.

    Pinter2 kita aja ngawasin anak-anak, Meiy.

    dunia anak-anak seluas semesta ya wie 🙂

  8. jadi ingat lagu iwan fals. anak-anak kehilangan lapangan untuk bermain sepak bola. sedih ya meiy….

    iya sedih pak zul, ada yg kehilangan keindahan masa kecil

  9. menurut aku sih pemerintah yg gak begitu perduli akan hal ini. singapore yg identik dg kota, banyak banget tamannya.

    uh aku benci banget pengendara sepeda moron eh motor yg egois ngebut di jalan2x dekat perumahan.

    mereka kan peduli di…sama uang dan jalan2, eh studi banding 😦

  10. kan masih ada lapangan futsal bu… hiks..hiks… tpi sayangnya ga ada yg gretong yakz…. hiks…hiks…

    kalo di dekat rumahku, lapangan futsalnya ya itu jalanan 😀

  11. kalo tinggal di komplek masalahnya lain lagi meiy, sarana umumnya ada, hanya anak-anaknya yang entah kemana, mereka menjadi individualistis seperti para orang tua mereka yang sibuk . Ps dan komputer menjadi tempat pelarian, aku jarang meliat anak-anak main bola, mereka bergerombol di warnet atau penewaan ps.

    anak2 abad 21 ya echy 😦

  12. mau main bola bayar dulu ya!!!
    hehehe,, awak malapeh taragak ka uni,,,, !!!
    taragaakkkkkkkkk banaaaaaaaa!!

    iyo ko ical somse, busy bana tuh jendral kini ko ha 😀

  13. meiiiiyyyyyyyyyyyyy…..miss youuuuuuuuu…..

    misss u tooo ven..mmmuaccch…*hugs*

  14. ahhh.. benar-benar.
    tak ada lagi lapang kosong.
    aku ingat betul, tawa kami saat bercengrama dengan bola. bersikejar dengan peluh menetes.
    kali lain maen plorotan di lapang yang becek.
    sekarang? lapangan itu berubah menjadi perkantoran.
    Bah!!

    bah! ketauan ternyata kamu pemain bola ya, aku dah baca bola2 cinta nya, keren seperti biasa 😀

  15. krn sibuk ngejar globalisasi dan menjadi kapitalis mungkin……apa2 harus jadi uang…..

    gitulah jeng, mau maen bola aja mesti di mal. adanya lapangan futsal, bayar mahal 😦

  16. lapangan bola?……semakin punah…menyedihkan..

  17. Ngomong2 kog ngak diadet, sibuk nich ye

  18. padahal ruang bermain itu penting sekali bagi anak anak ya Ni, Ni kangen ….aku juga lama gak beredar… sok sibuk euy. makasih ucapannya yah Ni

  19. Senja: hiks…hiks…

    Pak EWA: hihi nyari alesan pak, jadi malu sama bapak, sesibuk apapun tulisan mengalir deras…

    aku sibuk dg kotoran gajah pak, iya kotoran gajah! mo bikin kertas…:D

    Unai: iya, Nai, kalo kamu punya tanah makanya kasih pinjem buat anak2 main gituh. aku juga lagi sok busy bgt.

  20. Kalau mau main bola di muko tipi se lah ni, pakai stik pleystesien. Haha…

    kesian deh anak sekarang ed 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s