Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Gairahku

23 Komentar

Pada pagi.

Di kebun kita kekasih, aku terpaku pada efek goresan matahari pada langit. Percintaan biru—jingga—cahaya—dan uap air yang dipercikkan awan putih di sana–berpendar meninggalkan jejak-jejak indah di azura.

Pagi masih bersih sekali, udara belum bertuba, embun bergulir-gulir di dedaunan mawar yang merah jambu, seperti hatiku—diapun meliuk ditiup angin pagi yang lembut menyegarkan. Mereka menari! Jiwaku semburat seperti kelopak mawar yang rekah indah. Tak kan kubiarkan apapun merusak hari ini.

Burung-burung yang kau biarkan bebas meloncat-loncat di halaman atau reranting pohon seri, bernyanyi-nyanyi memuja kekasihnya, Sang Pencipta. Begitu Indah. Mereka selalu datang; “dua ekor perkutut yang mungkin lepas dari sangkar peliharaan orang”, katamu. Seolah tahu bahwa disitu mereka tak pernah diganggu. Kadang-kadang kau tabur makanan untuk mereka.

Dan kita berbincang tentang mengapa manusia lebih suka mengurung burung daripada membiarkan mereka terbang bebas dan singgah di taman-taman rumah atau kota.

“Andai dari dulu burung-burung indah itu tak ditangkapi,” batin kita. Kini yang tersisa hanya burung gereja kecil yang kesepian atau mungkin ketakutan menunggu giliran punah? Simadu merah entah kemana, sedikit berwarna manusia menangkapnya.

Lalu kupandangi kembang-kembang, pohon-pohon yang bergoyang pelan dihembus angin pagi, mempesona, dipeluk embun yang berkilau, segar sebab tangan cintamu merawat semua tanaman di halaman kita, sementara aku hanya rajin memetik lalu bergegas ke kantor.

Walau sadar sebentar lagi semua kan berganti, langit menjadi abu-abu keruh, kabut asap, riuh rendah suara mesin, debu, manusia yang bergegas, klakson bahkan caci maki di jalanan, tidak akan kupikirkan itu. Kusimpan taman kita, langit dan pagi ini, untuk penggairah. Akan kuhadapi seribu sakit, kecewa, aral, sebab cinta t’lah merasuk ke jantungku, ke sel otakku, memenuhi ruhku, bersamamu disana, bersama anak-anak kita yang kadang nakal namun membahagiakan.

Kau lah gairahku menghadapi coba goda terutama dalam diri, malas, tak berani, ragu, benci, takut, sepi…

Pada senja.

Aku menatap dinding dan atas ruangku, biru laut dan langit, dengan gambar mawar kuning dan kembang matahari yang mulai memudar. Mereka bisa kuganti, keindahan yang menetap di hati, tak kan kuganti. Aku akan pulang membawa cinta, sama seperti ketika pergi. Aku tersenyum dan mencoba mensyukuri semua keterbatasan kita, semoga tak terbatas dalam cinta.

RuangBiru, 16 Mei 2008

Iklan

23 thoughts on “Gairahku

  1. Pertamax

    Yo sabana taraso barayun-rayun wempi mambaco nyo.

    diayun angin wem? 😀

  2. membaca alam memang membuat kita takjub…. oh.. indah sekali.. memberikan sejuta pesona dan untaian kata-kata saja tak cukup mengungkapkan betapa sempurnanya itu… indah!

    saya suka trenyuh sendiri melihat burung yang terkekang dalam sangkar mini, yang tak lebih hanya seprti penjara bagi kita para manusia…. kebebasan yang terenggut… oh.. nestapa… coba bayangkan itu kita yang di dalam sangkar.. hidup dengan tirai pembatas… tanpa bisa menghirup kebebasan.. dengan dalih memelihara binatang kesayangan, kita tak sadar bahwa itu melukai hati dan naluri si burung *bercumbu dengan pasangannya*… hiks….

    manusia memang kejam nang, udah kita gak usah jadi manusia…ups…ngawur 😀
    komen kamu keren oi!

  3. Sekiranya bukan karena tangan-tangan manusia,
    alam ini akan tetap harmoni dan bestari…
    Alam sayang kepada kita…
    Mengapa manusia justru berkhianat atas cintanya?

    *speechless* mikir

  4. Uhm…
    Saya bukan aktivis lingkungan sebenarnya. Tapi, yaa… saya penikmati kehidupan bebas. Gabung sama anak2 yang doyan hiking di daerah, menikmati bukit ujung kampung. Something like that…

    Lebih dari cukup utk mengajarkan bagaimana menyayangi alam. Saya ndak suka piara binatang apapun dalam bentuk sangkar. Ndak juga suka bawa cat semprot utk bikin grafiti di batu besar air terjun.

    At least… kalo ndak bisa menjadi aktivis utk menjaga alam, cuma bisa berusaha tidak memperburuknya saja 🙂

    yes, agree lex, tidak berbuat negatif ke alam sudah byk membantu.

  5. heeeeemmm….
    membaca posting ini membuat aku merasakan wangi embun…
    kangen..
    (disini yang ada bau asap knalpot 😦 )

    welcome back Okta, semoga bening embun mencerahkan hati 🙂

  6. gairahku, gairahmu,,, gairahkan dunia dengan segala isi dan kemurnian cinta, kepada alam nyata,,,

    hijaukan lagi gairah uni!!!

    asal jangan sampai kehilangan gairah cal! :F

  7. judulnya “megang” alias nendang bgt mbak…jadi seneng bacanya…

    sok meniru gaya jurnalis (ketularan senja kalee :D)

  8. Judulnya Nendang ya Nja? hehehe.. emang keren niy tulisan. gairah tak biasa.

    Iya dong keren, lagunya ‘gairah tak biasa’ :p

  9. iyo uni… padahal aku udah pasrah… udah desperate bgt kalo semua isi blog bakal hilang. untungnya bisa kebuka lagi…

    Pindah ke WP aja lah Mus…lebih asyik lo.

  10. penggambaran suasananya kuat sekali meiy. seolah-olah sy merasa berada di alam yg digambarkan itu

    padahal aslinya gaklah hebat bener, hebat di mataku saja

  11. wah saya juga merasa apa yang dirasakan pak Zul

    yo ke kebunku nai, tar aku kasih mawar 😉

  12. nimey wrote: “Akan kuhadapi seribu sakit, kecewa, aral, sebab cinta t’lah merasuk ke jantungku, ke sel otakku, memenuhi ruhku, bersamamu disana, bersama anak-anak kita yang kadang nakal namun membahagiakan”

    Subhanallah…………….beridir bulu roma ku mbaca point ini ni…

    Jika cinta tlah merasuk kedalam jiwa, semuanya akan dicoba dan mudah saja. karena kekuatan cinta-lah yang berbicara.

    “MOGA LANGGENG DALAM GAIRAH CINTANYA NAN SUCI”

    makasih yo lex, insya Allah.

  13. Bisa juo uni awakko berpuitis ria…….hahaha

    haha…lagi maskaran eh kasmaran 😉

  14. oiyo ni..foto nan tigo di ateh tu..kamanakan awak yo ?

    alah gadang-gadang yo ni…?

    Iyo Al, nan gadang alah smp kls 1

  15. aaaahhh… senengnya merasakan gairah Meiy…
    serasa ketularan jadinya.

    baru pulang dari sawah ni, Meiy… aku nyewa sawah satu musim, agar anak-anak bisa belajar jadi petani.

    musim tanam niy… mau bantu? 😉

    asyiknya, ngiriii…aku suka sawah, belum pernah tau gmn ngerjain sawah. mau..mau bantu…:)

  16. dari jauh kupandang makin hijau
    dari dekat aku terpukau

    aku lingau (hihi gak ngerti? tanya NQ!) :d

  17. Yoha, bertutur bersastra nan apik. Salam.

    lagi nyastra mode on pak 😀

  18. wow itu pic embun jatuh ke daun, cantik bener. kalo di zoom in motonya, pasti lebih waaaaaaawww

    maklum di, pemoto ndak propesional hehe

  19. semoga tak terbatas dalam cinta……oww….apalagi cinta sebenarnya memang membebaskan ya Meiy…….

    tapi kenapa kadang cinta menyakitkan ya jeng bauer 😀

  20. sejak membaca ini, aku pasti makin cinta lingkungan. sungguh, kau meramunya dengan indah, jiwaku kenyang

    amiiin fren…

  21. Ya bener mas anang !
    Saya setuju dengan anda
    Alam sering membuat saya kagum, betapa indah anugrah yang diberikan oleh Allah kepada kita.
    Betapa kita kecil di hadapan alam

    dan betapa lupa diri manusia, suka menjarah alam ya mas. salam kenal 🙂

  22. “Aku akan pulang membawa cinta, sama seperti ketika pergi. Aku tersenyum dan mencoba mensyukuri semua keterbatasan kita, semoga tak terbatas dalam cinta.”

    Jika semua keinginan apa pun di dunia ini dapat disampaikan dengan bahasa yang indah dan santun, maka alangkah elok kehidupan makhluk.

    Teruslah menulis dengan cerdas dan independen.

    Tabik!
    makasih mas zul 🙂

  23. Udah lama nggak ngerasain ‘pagi’ sejak pindah kesini. Soalnya bangunnya siang teruuuusss … 🙂

    di seoul ya vina? jadi inget dulu kerja di perusahaan korea semua males mandi pagi xixixi…bu dr tentunya nggak dong ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s