Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Uqan and slei boi

15 Komentar

Aku and hubby sepakat di rumah tak boleh ada hal-hal berbau pornografi misal software/CD/DVD, ataupun bacaan cetak. Tapi sore itu aku iseng bawa Play Boy ke rumah. Sepulang belanja di swalayan dekat rumah, Ufi mengajak mampir di tempat sewa buku, eh ada Play Boy terbitan lama (2006) tergeletak disana bercampur dengan buku anak-anak. Mataku langsung melotot, lho? Kok dicampur-campur gini yah? Aku lihat dong, namanya normal rasa ingin tahu–sebab itulah pertamakalinya aku melihat Play Boy yang pernah menghebohkan itu. Aku sih biasa cuek dengan hal-hal menghebohkan.

Ternyata isinya biasa-biasa saja tuh, malah menurutku lebih banyak majalah lain yang ‘heboh’ oleh gambar setengah porno. Bahkan majalah remaja yang aku dapat sebagai bonus beli buku beberapa waktu lalu, lebih mengerikan, akhirnya gak jadi aku kasih ke Ufi, cara mereka menyuguhkan suatu bacaan, malah memicu hal negatif, menurutku…

Tertarik membawa pulang Play Boy karena di dalamnya ada cerita perjalanan adventure seorang blogger yang cukup ngetop (dia gak kenal aku kali yah) yang asyik. Gak enak nyebutin namanya. Selain itu banyak juga bacaan lain yang menarik. Ternyata lagi–aku baru tahu– taklah seperti yang dihebohkan orang. Aku nggak tahu versi aslinya atau selain ini bagaimana, karena memang belum pernah lihat dan beli.

Ufi hanya mesem-mesem, aku bilang ke dia, itu majalah orang dewasa, tapi bukan porno. Ada gambar cewe berbikini, tapi itu kan di pantai dan bukan budaya kita (islam). Bikininya aku lihat juga bukan model barat gitu (aku gak tau namanya, buta fashion). Aku hanya ingin menempatkan sesuatu pada proporsi yang benar. Melindungi anak keterlaluan dari pendidikan seks tidak benar sama sekali. Toh zaman sekarang begitu mudah melihat perempuang telanjang setengah telanjang live di mall, angkot, sinetron, iklan, dsb. Di film TV saja, adegan hot sudah merupakan tayangan harian.

Zaman kelimpahan informasi saat ini, memang ngeri-ngeri sedap membesarkan anak di lingkungan kota besar seperti Medan, kadang-kadang aku rada parno juga, eh paranoid (hehe tar kena uu ite lageee! :P).

Secara teori banyak buku yang bisa dipedomani untuk pendidikan anak, termasuk pendidikan seksual. Tentu juga ajaran adat budaya yang diturunkan orangtua. Sebagai muslim bagiku referensi yang baik tentu prinsip-prinsip ajaran Islam. Namun dalam praktik, sulit juga sebab lingkungan yang kelewat bebas informasi. Tanpa inginpun bisa saja anak disuguhi informasi yang masih sulit dicernanya, oleh lingkungan.

Aku dan suami berusaha berkomunikasi secara terbuka dengan mereka, tak mungkin menghindarkan anak 100% dari pengaruh buruk TV, sinetron, iklan, film tak bermutu dsb yang tidak layak untuk pendidikan. Yang bisa adalah mengarahkan mereka, memberikan penjelasan yang logis, ilmiah, dan mudah dicerna. Kami ingin anak punya kendali diri sendiri saat mereka tidak di dekat orang tua, mereka punya akal sehat, pengetahuan, nurani dan Tuhan. Aku lebih mementingkan mengasah kemampuan emosional spiritual dan akhlak mereka ketimbang intelektual material. Kebaikan kelak akan menarik kebaikan lainnya. Mudah diucapkan, tak mudah dipraktikkan, setiap hari harus ‘fighting’ dengan anak-anak soal ini. Anak sekarang mak oi! πŸ˜€

Seperti waktu Uqan ambil majalah Play Boy itu dan bilang; “Waah Ma, asyiik nih majalah Slei Boinya, banyak gambar seksi…” sambil ketawa-ketiwi. “Uqan baca dulu ya Ma!” Uqanku yang masih 6.5 tahun ngotot mau baca Slei boi, katanya. Nah salah sendiri kan…makanya jangan nyari risiko!

“Ya ampyuuun Uqaaaan, ” aku menjerit sambil ketawa, aku kelupaan menyimpan tuh majalah, tergeletak di tempat tidur. Aku berani bawa pulang karena memang sudah melihat dulu isinya waktu di tempat buku, anakku Ufi yang sudah SMP malah cuek saja, tak tertarik mau melihat.

Aku berusaha menerangkan pada mereka pada proposi yang wajar, mengapa “kakak itu” berbikini, kan fotonya di kolam renang. Dan karena kita Islam kita nggak boleh berpakaian begitu di tempat umum, bahwa ada banyak cara hidup di dunia ini, bahkan ada orang Barat sana yang hidup nudis, dsb, dsb,…Aku ingin mereka tahu dan menghargai cara hidup orang lain selagi itu tidak merugikan siapapun. Aku ngeri sekali dengan orang-orang yang main serbu! dan bakar! kalau tidak sependapat. *Dan niat lain kali nggak usah iseng bawa-bawa play boy lagi ke rumah :D*

Melarang mereka habis-habisan misalnya, malah akan menimbulkan rasa penasaran, kecuali memang hal-hal yang benar-benar berbau porno yang tidak layak dilihat mereka. Aku tak mau mereka seperti yang diceritakan kerabatku, anak temannya seperti orang gila kalau keluar liburan dari sekolahnya yang eksklusif, konon kabarnya mereka banyak dilarang ini itu sehingga seperti dipenjara.

Tugas ortu, mungkin mencari formula yang ‘pas’ untuk pendidikan anak-anaknya.

Iklan

15 thoughts on “Uqan and slei boi

  1. Pendidikan yg brillian bagi anak. salam buat suami.
    kalo yg ini, gimana mbak?
    http://learningrevolution.wordpress.com/2008/03/04/sensualitas-dan-seksualitas/

    salamkenal mas, sudah baca, tulisannya keren lo πŸ™‚

  2. Mengelitik
    komen singkat, mengena pak πŸ™‚

  3. kamu rajin Meiy ngajarin anak2 dgn ngasih tau itu begini krn begitu……aku jarang begitu soalnya. yg ada, kalo ada manequin di toko yg dipakein baju seksi, aku tanya anakku,” kalo ibu pake baju gitu gimana?”…….dari jawaban mereka,
    ” nggak boleh…..nggak boleh dan nggak pantes pake gitu”, aku gakngomong lagi deh…..hehehehe

    gak juga sih, malah kurang perhatian. hanya kalau mrk tanya atau lagi butuh bimbingan. kata buku sih, anak yg belajar sendiri lebih kreatif hehe…

  4. waduh meiy, asyik juga ya model pendidikan yg diberikan. namun harus tetap waspada. saya sendiri insya Allah baru akan punya anak (risiko nikah telat)

    wah selamat yo uda, semoga sehat istri dan baby πŸ™‚

  5. Ass.

    Nimey wrote: “Aku dan suami berusaha berkomunikasi secara terbuka dengan mereka, tak mungkin menghindarkan anak 100% dari pengaruh buruk TV, sinetron, iklan, film tak bermutu dsb yang tidak layak untuk pendidikan. Yang bisa adalah mengarahkan mereka, memberikan penjelasan yang logis, ilmiah, dan mudah dicerna. Kami ingin anak punya kendali diri sendiri saat mereka tidak di dekat orang tua, mereka punya akal sehat, pengetahuan, nurani dan Tuhan. Aku lebih mementingkan mengasah kemampuan emosional spiritual dan akhlak mereka ketimbang intelektual material. Kebaikan kelak akan menarik kebaikan lainnya.”

    aku setuju ini ni…..kita hrs beri pengertian dan mengarahkannya. pasti anak kita akan berfikir. tp jika dilarang habis2an pasti ia penasaran d berbuat semaunya pabila dibelakang kita.

    iyo al, susah-susah gampang yo mendidik, yg perlu belajar trs kali.

  6. wah harus dikasi tau ayah neh..biar belajar ama tante putri!

    wah jangan, saya juga masih belajar πŸ˜€ teman ical yah arai hehe

  7. Wempi gak pernah diajarin tuh, tapi belakangan ini ngerti sendiri, hahaha.

    konon, orang yg belajar sendiri lebih kreatif wen hehe

  8. wah maah belum pernah baca majalah itu..ndak tertarik…:p

    ngapain maaf nja, eh maah kalee πŸ˜€ aku juga isenk krn nemu

  9. Uni .. lai tau Uni? itu waktu foto pulang dari Padang Panjang sudah tu pas di Pasa usang malatuih ban oto. Waktu hubby jo Uncu sadang mangganti.. Lan asik pulo ma moto-moto ntah hapo-apo .. Iko lah jadi nyo .. dibuekan pulo ka header hehehe..

    Tu lah Uni .. lai taranga dek uni kampuang maimbau-imbau Uni pulang? beko dinyanyikan pulo lagu “Kampuang nan jauah di mato beko” hehehehe …

    ondeh mandeh kampuag ambo bana ko wulan, tambah taragak uni hiks..hiks…dulu uni tingga di paus. doain uni byk razaki, ado wakatu, sihaik yo lan, basuo awak di kampuang πŸ™‚

  10. *jadi inget nyimpen vcd %m3# dmna y*

    hehe kalao masih single sih gpp naro sembarangan, gak ada risiko πŸ˜€

  11. woooo…. *ga komentar deh, numpang belajar ajah buat persiapan*
    wakakaka….persiapan. bisa jadi gosip :d

    gosipin yati ah…:P

  12. pengen cepet cepet jadi orang tua πŸ˜€

    ayo cepeten, tunggu apa lagi. thanks ya dah mampir, salam kenal πŸ™‚

  13. Uni, memang susah yo uni jadi ortu,.. ditengah smkain mudahnya akses informasi, apalgi pornograpi,..belum lagi porno aksi,… jadi tantangan tersendiri

    iyo mungkin hrs belajar n terbuka komunikasi sm anak yo avar

  14. wah..bekal dan pesan berharga buat saya yang belum jadi orang tua πŸ˜†

    setiap orang mungkin punya gaya yg beda dlm mendidik ya mas, salam kenal, thx dah mampir ya πŸ™‚

  15. Setiap keluarga adalah otentik dan itu saya hargai. πŸ™‚ Itulah sebabnya ketika Playboy Indonesia terbit saya membawanya ke rumah dan biarkan keluarga yang menilai. Komentar mereka, ibu dan dua putri, “Lah nggak seheboh yang dituduhkan orang gitu kok.” πŸ˜€

    betul paman, setiap orang punya gaya mendidik yg beda sesuai dg latarbelakangnya, jangan mencela apalagi menghujat-serbu-bakar! oranglain kalau gak sesui toh)

    senang dimampirimu πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s