Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Relativitas ala gue

6 Komentar

Aku paling suka kalau ada pemikiran yang berbeda denganku, rasanya tergelitik untuk nulis lagi. Ini komen dari MP tentang tulisan “Horeee”.

Makanya didiklah anak penuh kewajaran, kalau memangnya didunia exist porno, biarlah anak meilhatnya, yang perlu adalah mengajari bagaimana menyikapinya secara benar

Dunia itu memang penuh topeng, ih jjay ada doggiestyle. ih Monika Lewinski doyan banana, tapi diam2 sesudah ngga ada orang,….mana tadi yaah, belum puas lihatnya…… :-), atau mungkin juga tergantung persepsi tiap orang, ada yang lihat/baca Da Vinci code biasa2 saja, ada yg baru dengar ttg Fitna langsung ngeblok situs2 website

just share my 2 cent

Ini jawabanku yang sudah dilengkapi:

Setiap orang memang punya sudut pandang berbeda, jadi jangan sama ratakan setiap orang. soal ini aku sering diskusi dengan suamiku, misal soal apakah semua lelaki langsung horny kalau melihat perempuan cantik tipe kesukaannya berpakaian seksi, sebab ada temanku yg begitu. Kata suamiku, suka sudah pasti, tapi tak semua orang mengikuti hati saja terutama nafsu. Aku juga tanya beberapa teman cowo lain, kesimpulannya relatif.

Soal porno, bohong kalau ada orang bilang dia tak ingin melihat begituan, tapi suka apalagi sampai tingkat ketagihan (parah lagi, kegilaan)? belum tentu. Kenapa aku berani bilang bohong? Kalau dihubungkan dengan teori Freud–menurut pemahamanku–semua manusia itu paling dipengaruhi oleh psychic energy atawa libidonya yang memotivasi banyak hal dalam kehidupannya. Versi kerennya link ini. Dan sebagai basic instinct, maka manusia normal suka yang berbau esek-esek. Tapi apakah semua manusia mengikuti naluri saja? Hewankah dia? Jadi apa yang membedakan manusia satu dan lainnya?

Jangan samakan porno dengan pendidikan seks. Bagiku, pada taraf ingin tahu, iseng, semua manusia pasti suka, normal. Suka tapi tak mengikuti hawa nafsu, tiap orang berbeda apa yang membentenginya, yang menjadi filter-nya, ada agama, norma, adat, pengetahuan, dsb.

Dan mengajarkan pendidikan seks pada anak lewat film porno? Maafkeun, bagiku itu impossible! Ada cara lain yang lebih baik, bukan berarti seks tidak diajarkan, setiap orang punya ‘kiblatnya’ sendiri-sendiri. Itu bagi aku, syah-syah saja orang lain punya pemikiran yang berbeda.

Di rumah aku juga mengajarkan anak-anak pendidikan seks, mulai dari bayi malah, umur 2-3 tahun anakku sudah tahu bagaimana bayi tumbuh dalam rahim, bagaimana Allah menciptakannya, dsb, namun untuk hubungan seksual (gambar aksi, dsb) aku memang hati-hati memberikan pengajarannya, tergantung juga dari umur anak. Karena aku muslim, maka pedoman yang aku pakai adalah ajaran Islam. Mungkin saat umurnya sudah pas dan sudah punya kendali akhlak yang baik, boleh-boleh saja mereka ingin tahu dunia paling rame tapi diam-diam dikunjungi itu (Indonesia pengunjung situs porno nomor 7 di dunia bok!).

Sebenarnya ada tulisanku mengenai “Uqan and Sleiboi (play boy)” tapi belum selesai, menyangkut sex education. Maklum sok sibuk 😀 . Aku bukan munafik gak mau ngeliat ‘begituan’, tapi suka, sampai candu seperti salah satu temanku dulu? Rasanya tidak, belum tentu terpikir untuk nonton sekali 6 bulan 😀 Gak tau deh kalo filmnya dibuat menurut keinginanku, dimana seks jadi indah dan suci.

Alhamdulillah aku dan suami sepakat menghindari punya koleksi begituan di rumah. Takada. Bukan tak mau melihat, tapi mudaratnya lebih banyak dari manfaat, menurut kami. Juga soal gaya-gayaan, posisi-posisi indah. Bagiku dan hubby, itu aurat rumah tangga, biarlah menjadi rahasia cinta berdua.

Akhirnya, kalau dihubung-hubungkan dengan Einstein, dunia ini memang relatif. Mengatakan orang lain pasti begitu, pasti begini, menurutku, naif sekali. Apakah semua orang memakai topeng? Ataukah kalau memang harus memakai topeng sesekali apakah semua orang memakai topeng yang sama, yakni topeng malaikat padahal aslinya syaiton? Hehe…Berani sekali kita nuduh-nuduh orang (lo aja kali gue nggak! 😉

Aku orang yang paling takut men-judge orang lain. Hanya sebuah sudut pandang. Soal keimanan tak dijamin oleh jubah panjang atau jilbab apalagi hanya kumis jenggot. Hanya Tuhan yang tahu soal iman, itupun bagi yang punya agama dan kepercayaan. Dalam keseharian aku terbiasa bergaul dengan berbagai manusia, dari yang alim, sampai yang tidak bertuhan. It’ s world, it’s reality.

*Cetusan iseng; suer aku gak tau siapa monika lewinski, aku emang gak gaul. kalo doggy sih masih teu 😀

Einstein:

There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle.
The other is as though everything is a miracle.”

Gambar dari sini

Iklan

6 thoughts on “Relativitas ala gue

  1. komen sendiri ah, penasaran aku searching monika, ketemu, eh baru inget lagi skandal jadul si Cliton ternyata xixixix 😀

  2. correction: bukan gak teu, tapi lupa yah 😀

  3. saya pikir memang ada perbedaan antara pornografi dengan pendidikan seks, dan perbedaan itu buat saya sangat jelas.

    tapi kalau ada orang yang beranggapan bahwa pornografi juga boleh diajarkan kepada anak-anak, tentunya orang tersebut punya alasan tersendiri. seperti juga guru wali kelas saya ketika saya masih di SD, yang justru memutuskan bahwa guru yang berhak memberikan pendidikan seks kepada kami adalah guru agama, dan bukan guru wali kelasnya.
    agree tja, mungkin kita punya sudut pandang yg sama dlm hal ini.

  4. meiy, aku malah gak tau istilah2 teman2nya “doggy style”itu..paling ya coba mengartikan sendiri, tapi ada juga yg hrs tanya teman dan diketawain…..hahahahha, bodo banget yak……dan aku bilang risih ngomongin soal porno, bukan berarti gak pernah nonton filmnya, kan diajak teman atau suami….

  5. Monika itu yang o’o ketahuan suka sama pisangnya Clinton
    Setiap orang juga punya pandangan pribadi, bahkan tidak jarang suami istri saja punya pandangan lain. Begitu pula kegemaran orang ttg sex secara pribadi berlainan, dan juga tergantung zaman, pada era 70 an pandangan umum ttg sex mulai berubah total, dengan adanya flower generation, psikoanalisa dari Sigmunds Freud juga menemukan pathnya, namun sekarang ini zaman juga sudah bergeser. Batas antara pornography dan naturalbiology dan art serta kesenangan juga tipis, hanya saja kendali iman pada setiap manusia perlu dibentuk sejak dini. Iman utk bertanggung jawab pada masyarakat.
    Iman tidak selalu dibatasi dengan agama, di Indonesia sekarang ini, karena masyarakat banyak menderita kesusahan, maka peran agama jadi menonjol dan kadang berlebihan, jika bukan agama maka ada juga dogma2 lainnya, Komunisme atau Chauvinisme yg akan mempengaruhi pola berpikir masyarakat.
    Kalau saya lebih memilih ke humanisme dan science, mungkin kalau dalam islam lebih kepandangan kaum islam liberal, meskipun saya juga beragama, katholik, disamping itu juga berpegang pada budaya masyarakat, dalam hal ini jawa, meskipun tradisipun bergeser, namun nilai2 luhur tetap ada.

    Ya dipegang saja mana yang baik dari agama dan tradisi, namun tetap sesuai dengan zaman dan pandangan keanakcucu. Mungkin karena hampir 15 tahun berada diluar Indonesia, maka bisa merasakan banyak budaya2 lain, karena itu bisa mengatakan, bagi saya, anak2 boleh melihat apa saja, tidak saya batasi curiosity mereka, tapi saya ajari mereka apa yang baik dan apa yang tidak, dan bertanggung jawab pada diri sendiri dan org lain. Lagipula saya yakin mereka juga pasti bosan lama2 melihat porno.
    Dan sampai sekarang kedua anak saya sudah dewasa, tidak pernah ada skandal, tdk merugikan orang lain. Saya sendiri hidup bersama selama 6 tahun sebelum menikah dengan orang yang sama, bila tidak jadi menikah itupun harus atas keinginan bersama, atas pertimbangan yg matang, sama saja kalau menikah dan bercerai, beda dgn agama, tapi tetap ada tanggung jawab dan kesadaran, nah yang itu saya dapat dari budaya.

    Waktu di Jerman, olahraga disebuah Dojo, mixed laki perempuan, Kumitee juga campur, dan mandi pancuran juga campur. Kalau dlm tanding, meskipun dikunci cewe ya ngga sempet ‘horny’ tapi waktu mandi, wah… pertama dan kedua kali selalu berusaha spy si upik jangan bangkit, tapi setelah biasa ya tidak terjadi apa2, karena pikirannya sdh bisa diset dan bisa tahu apa yang baik dan tidak, seperti kita melihat pisau, kan tdk selalu hrs membunuh

  6. endang: mendingan nggak tahu deh ndang, apa adanya lebih indah, gak macem2 😀

    Kusnady: Makasih mas atas view point yg berbeda, keep friendship 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s