Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

It’s time (2)

6 Komentar

Mensyukuri setiap satuan terkecil nikmat.

Karena panjang, tulisan ini aku bagi 2, sebelum meneruskan aku mengutip komen Ibu yang manis ini:

hmmm…..gak sesederhana itu sih menurutku…….yg pasti sih gak bisa lihat luarnya aja…….

Mbak Endang benar, satu masalah tidak bisa dilihat dari luarnya saja. Aku orang yang paling anti pengeneralisasian. Akhlak orang tak ditentukan oleh kaya, miskin, yang kaya banyak juga yang baik, yang miskin sama saja punya kedua potensi manusia, baik, buruk. Aku terpicu menulis ini karena melihat gaya hidup beberapa orang kaya di sekitarku. Menghambur-hamburkan uang, sementara untuk pembantunya yang sudah diperas, pelit, bayar sampah bulanan Rp 5.000 saja tidak mau, membuang ke parit.

Sementara Ibu pemilik rumahku yang sudah kami anggap saudara, juga orang kaya-raya yang baik hati. Aku saksikan beliau sering menolong orang miskin, sebaliknya ada juga orang miskin yang malah hobinya berjudi dan mabuk-mabukan, juga di dekat rumahku…hehe…Mereka yang lebih tahu tentang kehidupannya bukan?

*****

Akhir bulan, gas habis, anakku sakit, dokter dan obat sangat mahal, belum lagi tagihan ini itu, wuih rasanya beban ekonomi semakin sulit. Tapi aku mencoba mensyukuri nikmatNya, sebab seperti yang selalu diingatkan suamiku, jangan pernah mendustakan nikmat Allah. Masih banyak sekali orang yang melarat. Jangan mengaku-ngaku miskin kalau masih bisa makan 3 kali, anak-anak masih sekolah, masih bisa tidur di kasur empuk, dan masih bisa ngeblog 😀 Dan hitunglah rahmat Allah, pasti tak terkira banyaknya. Alhamdulillah walau sesekali kesulitan, kami tak pernah kelaparan, tak pernah melarat atau kedinginan karena harus tidur di gubuk reyot.

Pernah karena kesoksibukan ku sebagai orang kota, aku tak mengenal tetanggaku, bahkan di sebelah pagar rumah. Abang yang cerita, ada tukang beca yang sakit, bahkan untuk beli obat diare murahan di warung saja dia tak punya uang. Abang tahu karena kebetulan kami mau mencari pengasuh anak, bertanya pada istrinya. Mereka cerita kondisi mereka yang mengenaskan, makan hanya pakai kecap atau kerupuk, kadang terpaksa puasa. Sekarang mereka sudah pulang kampung, aku berharap semoga kehidupannya lebih baik di sana.

Kejadian itu menyentakku, membuat malu. Aku sendiri tak berani lagi mengaku-ngaku miskin walau bercanda, sebab kata suamiku itu mendustai nikmat Allah. Begitu banyak orang-orang yang lebih melarat. Kalau mau dikategorikan, kami termasuk kelas menengah mungkin, biasa-biasa saja. Kadang-kadang juga mendapat kesulitan ekonomi, namun Tuhan selalu memberi kemudahan, setidaknya aku dengan mudah masih bisa advance (alias ngambil gaji di depan hehe) di kantor, cukup mudah minjam sama teman-teman, dan saudara. Tapi tukang becak itu misalnya, mereka tak punya saudara, rata-rata tetangga mereka yang tinggal di gang juga susah hidupnya. Mau minjam kepada orang kaya yang tinggal di jalan utama, malu. Banyak orang yang masih punya harga diri tak mau mengemis. Satu hari tak menarik becak berati hari itu sekeluarga kelaparan.

Mamak mertua, adalah salah satu guru kehidupan yang sangat berarti bagiku. Beliau adalah orang yang hemat, sangat menghargai setiap butir beras atau makanan yang ada di rumah. Namun bukan berarti beliau pelit, sangat pemurah, mungkin itu sebabnya tamunya selalu banyak. Di rumahnya, bisa saja ada tamu sampai 20-an orang. Dan itulah Mamak, beliau selalu ramah dan tersenyum kepada mereka semua. Rezeki insya Allah cukup, katanya. Namun beliau memperlakukan setiap butir nikmat Allah dengan syukur. Kalau memotong buah atau sayur misalnya, sisanya pasti diberikan untuk ayam, bebek, atau kambing. Kalau sedang tak punya hewan peliharaan, mamak memberi untuk ternak tetangga, tak ada yang terbuang apalagi dibuang.

Waktu kecil Uwoku (nenek) sering mengingatkan nilai sebutir beras, menunggunya lama 6 bulan, dan kalau dibuang mereka akan menangis, plus katanya kerbau juga marah pada kita sebab mereka capek membajak sawah. Karena sunatullahnya, mereka untuk dimanfaatkan, bukan untuk dibuang-buang. Jadi Uwo menyuruh agar kami makan yang rapi, tak suka menyisakan makanan.

Makanya aku cerewet kalau anak-anak suka membuang-buang makanan, mending diberikan pada orang yang butuh. Anak saudaraku yang kaya pernah aku tegur karena sering membuang-buang lauk seenaknya, tak kasihan membuang beberapa potong daging atau ayam yang mahal. Sementara, “tahukah kamu sayang, ” kataku, “ada anak yang tak pernah makan pakai lauk?”

Bahkan satu butir beraspun berharga untuk sekelompok semut.

Iklan

6 thoughts on “It’s time (2)

  1. hmmm…….jadi ngetop deh , namaku ditulis disini..hehehe.

    buatku saat ini, apa yang aku saksikan tidak baik, lebih dulu aku tanamkan nilainya ke anak2ku. mudah2an akan terpancang di memori mereka dan bisa menuntun mereka menjalani kehidupan nanti. karena berbicara tentang akhlak, dan segala perilaku manusia, tak ada habisnya. jadi kalo melihat yg spt itu, spt yg kamu lihat, hanya membuatku menerawang lbh banyak dan berpikir bagaimana sebuah kepedulian itu dimiliki juga oleh anak2ku…..

    yup agree ndang, aku suka cara pandang kamu lewat tulisan2. bravo 🙂

  2. hihihi…mau cekikin doeloe… pemerente ngeblokir tanggung2 yah, nyatanya barusan aku dah tau cara buka you tobe lagi hehe nemu di hot WP (ssst secret). manalah pulak penggemar …….grafi (takut diblokir) pasti tetep bisa buka. Aku yakin.

    makanya sensor itu di hati n pikiran kali ya 😛

  3. Iyak… hiks.
    Alinea terakhir kuamalkan di rumah juga, Say.
    aku nulis juga sekalain mengingatkan diri aja ko dew

  4. Aslkm……trenyuh aku dengarnya ni, benar skali, masih banyak orang2 yg tak seberuntung kita.

    thanks udah komen ke blog MP sy, eh..ngomong2 uni tau WP aku dimana ya?
    baca Al 🙂 ada aja, uni 😀

  5. aku setujuh dan sependapat banged ama mba meiy, top banget dah..
    cuman, aku masih dalam taraf kenapa? kok bisa? mengapa? bagaimana? yg ujung2nya bikin bersyukur, tp belum ada action, hisk…..

    hmmm, paling ga dalem hati dulu, niat dulu, sambil cari cara untuk action ya ga mba? *pembelaan diri* hehehe

    mungkinkah ini hukum mata uang koin? 2 sisi yg berbeda padahal saling berdekatan? ah…
    akupun gitu sedang melawan diri agar tak sekedar

  6. wah, seharian BW banyak yang ngomongin masalah RT, anak pinak, dll….wakakakaka
    hihi tar kamu kena juga tuh nja. nikmati dulu kebebasan eh kesendirian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s