Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

It’s time….

7 Komentar

Saatnya itu, sekarang

Aku baca di koran nasional, penjualan mobil mewah meningkat, waaah rakyat Indonesia kaya-kaya yah, hebat!

Ngeri aku melihat gaya hidup orang-orang kaya yang sangat berlawanan dengan kondisi sebagian besar rakyat Indonesia saat ini. Untuk menunggu macet saja, bisa menghabiskan 200-300 ribu sekali duduk di café, mainan anak–harganya satu buah saja–sebulan gaji pembantunya. Hobi si Ibu shopping dong! Ada kenalanku yang begini. (Lha kok aku yang sewot, duit punya mereka sendiri!)

Kalau kebetulan makan di restoran (kalo yang agak mahal pasti ditraktir orang hehe), sayang sekali aku melihat mudahnya orang membuang-buang makanan/menyisakan. Pernah gak ya mereka berpikir, di banyak tempat sesama saudara tidak sanggup beli beras? atau bisa beli beras murahan hanya makan dengan garam atau kecap saja? Bahkan mulai banyak yang mati kelaparan! Oh Tuhan negeriku.

Membaca/melihat di media semakin banyak anak yang meninggal karena gizi buruk di negeri tercinta ini, rasanya bagaimana ya…miris, hati nyeri, entahlah, susah untuk digambarkan. Paling yang teringat oleh kita “syukur ya anak-anakku tak begitu.” Duh jahatkah kita seperti itu? Tak urung benakku sendiri dipenuhi pertanyaan-pertanyaan; apa yang sudah aku lakukan untuk orang lain, sedikit berbuat untuk negeri? Tidakkah hanya ikut mengeluh, duh duh, sayang ya…pemerintah sih gitu…dsb…dsb..sebatas omongan ‘duh kasihan’.

Dulu dosen sejarahku yang mengesankan pernah berkata, mengapa banyak orang menyukai cerita sedih? Tak lain tak bukan karena bisa mensyukuri keadaan mereka yang lebih baik dari yang ditonton, dia tak mengalaminya! Jadi belum tentu karena berempati ataupun simpati. Itu sih kalau dilihat dari sisi sedikit sinis.

Merinding aku membayangkan bagaimana ya kalau pemerintah jadi menarik minyak tanah di Jakarta, udah belum sih ya? Aku malas baca berita yang bikin dada sesak saja. Konon katanya rakyat harus mendukung kebijakan untuk menyelamatkan APBN. Duh gak ngerti aku, sederhananya ekonomi itu mestinya bikin rakyat sejahtera, bukan sengsara. Pasti rakyatpun hanya ngerti hidup sejahtera kalau mereka tak kelaparan, mau masak ada bahan bakar murah…..murah harga dan mudah didapat. Mau nyari kayu? Di kota tak masuk akal. Di hutan, hutan mana? Bukankah sudah menghilang ditelan kerakusan segelintir orang yang berkuasa?

Menurutku boleh aja sih orang bersuka-suka dengan hartanya, mudah-mudahan masih ingat mereka yang miskin melarat yang jumlahya makin mencuat. Hanya berharap orang-orang berpunya bisa lebih tersentuh oleh pemberitaan atau tontonan di TV tentang penderitaan saudara sebangsa. Bukan sekedar ‘duh kasihan’. Sebenarnya tak sulit untuk menemukan mereka. Yah walau sekarang orang-orang hidup berkelompok menurut kemampuan ekonomi mereka–yang kaya dikompleks kaya, yang miskin berdesakan di gang-gang atau rumah kumuh pinggir kali–tak mungkin kita tak pernah melihat saudara senegeri yang hidupnya melarat.

Syukurilah kalau anda adalah Ibu-ibu hanya hanya perlu “pusing” memikirkan menu apa hari ini. Atau seorang Bapak yang bisa memberikan materi cukup kepada keluarga, tinggal bagi kartu kepada anak-istri, mereka tinggal gesek. Banyak perempuan yang harus berjuang dulu untuk bisa memberi makan anak hari itu, membantu suaminya. Seperti yang sering aku tulis, mudah menemukan mereka, tiap hari mereka lewat menampar-nampar hati jika aku mengeluh, harusnya malu. Yang mengayuh becak barang ke pasar, yang jualan jamu, menyapu jalan. Ah sangat tak pantas kita mengeluh, mari mulai berbagi sekarang juga. Bagi yang mampu lebih bagus juga jangan beri ikan saja, “kailnya’ sekalian.

Kondisiku yang biasa-biasa saja tak memungkinkan untuk banyak membantu materi. Mungkin didikan membuatku terbiasa bersikap praktis dan pragmatis, mencoba berbuat semampu diri, walau nantinya menemukan aku sangat jauh dari yang diharapkan, apalagi hebat…Wohoho, sangat takut aku dikira sok hebat nulis-nulis begini. Hanya mengingatkan diri. Tak punya harta, kita punya tenaga, hati, dan pikiran yang bisa dibagi. Nunggu kaya dulu keburu mati.

Gambar minjem paksa dari sini 😀

Iklan

7 thoughts on “It’s time….

  1. ah, meiy. baca dan nonton berita memang bikin miris 😦
    iya, makanya aku jarang, tp krn hidup di abad informasi, gak sengaja terbaca juga

  2. kalo minyak ditarik saat mati lampu kita nyalain lampu teplok pake minyak jg. g bisa pake gas hohoho, macam mana ini
    kembali ke jaman batu mas 😀

  3. Sesungguhnya pada harta orang-orang kaya itu ada hak untuk orang miskin. Tapi rata-rata mereka lupa mengeluarkan zakatnya. Andai dikeluarkan, tentulah tak ada si miskin di negeri ini
    betul uda. mudah2an lebih byk yg berzakat yo!

  4. hmmm…..gak sesederhana itu sih menurutku…….yg pasti sih gak bisa lihat luarnya aja…….
    iya, tuh aku jawab di post selanjutnya, sebenarnya udah tulis kemaren sih

  5. Sigh… gak tau mo komen apa.
    Malu karena kadang lupa bersyukur, tapi abis bersyukur tetep malu juga… karena kayaknya, orang kok baru bisa bersyukur kalo ngeliat orang yang lebih susah ya?
    iya aku juga sering gitu, termalu2 oleh orang lain

  6. Aku juga kadang gedeg dengan temen se kantor yang gayanya dah kaya artis Ni. barang2nya kudu branded, makan kudu di tempat yang wah…padahal tau banget saya Ni, gaji sesama karyawan biasa. Uh..kadang 2 memang keblinger gengsi
    hhi caranya gimana tuh yah, apa cukup duitnya. lol

  7. meiy, gak puguh artinya gak bener, gak jelas.

    demikian, bu. terima kasih 😀
    thanks a lot 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s