Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Perawan, masihkah relevan?

23 Komentar

2005-08-19-077-painting.jpgPercikan pikiran ini muncul sewaktu berkunjung balik ke blog Tozie dulu, membaca perjaka. Apa yang ditulisnya bagus, this one I like best: “…seringkali perempuan selalu dipojokkan dengan status keperawanan, sementara para lelaki brengsek tetap bebas menari-nari dari perempuan satu ke perempuan lain… para pria sering mempertanyakan keperawanan, padahal dianya sendiri juga belum tentu perjaka.”

Aku selalu terganggu oleh hal-hal yang menyentuh isu gender di dalam budaya kita. Didikan di rumah, sekolah dan lingkungan dimana aku dibesarkan, masih menjunjung nilai-nilai budaya, adat dan agama. Yang pasti tak ada istilah pergaulan bebas yang saat ini cukup biasa dikalangan sebagian masyarakat, terutama di kota besar. Dan otomatis masalah virginitas di zamanku adalah masalah yang dianggap penting untuk perempuan. Kalau dalam lagu Minangnya, konsep gaul kami hanyalah, “cogok-mancogok mancogoklah diak….dari jendela di baliak tirai…” 😀

Rasa ingin tahu dan hobi membaca membuatku belajar berbagai hal mengenai virginitas ini. Dan ilmu baru yang kudapat zaman duluuu sekali sewaktu aku masih SMP adalah bahwa keperawanan itu tak mesti ditandai dengan pendarahan. Ada berbagai bentuk dan sifat dari virginity itu sendiri. Ada yang sifatnya sangat kenyal (permen karet kalee 😀), ada yang tebal, medium size atau terlalu tipis sehingga dengan melompat-lompat saja bisa rusak, dan beberapa tipe dan ‘mode’ lainnya. Secara ilmiahnya mending baca disini deh. Aku tak pintar mendeskripsikannya. Atau suruh deskripsikan oleh Ayu Utami, pasti seksi bin dahsyat. Guru biologi kita dulu pasti telah mengajarkan tubuh manusia, namun untuk ilmu yang detail seperti ini pastilah remaja harus mencari sendiri 😀 .

Lalu adilkah kalau perempuan yang sudah tidak perawan karena sebab-sebab yang tidak disengaja–bahkan dia mungkin juga tidak menyadari–dicap perempuan tidak benar hanya karena pada malam pertama make love dengan suaminya, tidak mengeluarkan darah? Cerita temanku, di kampungnya, perawan yang menikah disediakan seprai putih agar keluarga tahu esok harinya apakah anak dara memang asli perempuan baik-baik. Bagaimana kalau terjadi pada perempuan lugu tapi kebetulan si gadis agak lasak, suka pencak silat atau manjat-manjat waktu kecil, padahal belum pernah disentuh lelaki manapun? Budaya yang konyol dan naif kalau ukuran pengetahuannya hanya soal darah!

Sementara satu cewe metropolitan berpengalaman malah perawan terus karena dia punya trik untuk membuat dirinya berdarah saat make love ketika menjerat ‘mangsanya’ atau target yang hendak dijadikan suami beneran (aku baca dulu di sebuah sumber, terlupa). Dulu juga pernah heboh masalah operasi selaput dara, sekarang masih ada nggak sih? Nah bagi yang ahli, nenek-nenek bisa jadi perawan lagi nih hehe…

Jadi masihkah relevan untuk mempertahankan budaya ‘mesti perawan’ –dalam tanda kutip–kalau dipahami harus berdarah saja? Benci sekali aku membaca ada sekolah yang melakukan tes keperawanan untuk calon murid perempuan. Kapuyuak, benar-benar pelecehan gender! Kalau tes narkoba sih masih relevan.

Aku bukan guru pendidikan pancasila, yang akan menceramahi moral. Saat ini terpulang kembali pada manusianya sendiri-sendiri, gaya hidup, cara hidup yang di anut. Aku baca di majalah ada Ibu-ibu yang membekali anak perempuannya (masih SMU) dengan kondom saat hendak berkemah bersama teman-temannya, katanya daripada dia was-was mending jaga-jaga. Itu pilihannya.

Menurutku sendiri, keperawanan ataupun keperjakaan, perlu dijaga dengan akhlak anak, bukan dengan ritual budaya yang aneh dengan pengetahuan yang belum tentu benar. Itu kalau kita misalnya Islam, mau mengajarkan pendidikan yang kaffah kepada anak, tak ketinggalan pengetahuan yang benar tentang seks, atau seperti perawan Maryam, dsb. Jika ada perawan yang khilaf, aku lebih setuju diberi kesempatan kedua. Kalau perjaka wo enak-e nggak ketauan…sialan gak sih.

Aku tak merasa berhak menyalahkan, apalagi menghujat cara hidup orang lain. Ada yang welcome saja dengan gaya hidup bebas, ada yang masih memegang norma-norma tertentu. Itu pilihan kita masing-masing. Bagiku yang penting adil untuk perempuan maupun lelaki. Perempuan mesti punya hak dan kewajiban setara, hanya dibedakan kodrat. Sedikit melenceng, misal kalau ada lelaki mau kawin lagi, perempuan mesti punya hak dan keberanian untuk bilang; “kalau kau kawin, aku kawin juga.” Hehe…yang ini guyon…..:) tapi serius dalam hak kesetaraannya.

Catatan:

*“cogok-mancogok mancogoklah diak….dari jendela di baliak tirai…”= Berani mengintip dari balik tirai saja (bagian dari lagu Minang).

lasak = aktif

Gambar minjem paksa dari sini 😀

Ayahanda Medan, 30 March ‘08

Iklan

23 thoughts on “Perawan, masihkah relevan?

  1. beruntunglah kita yang dididik dalam lingkungan berakhlak, yang selalu menjunjung tinggi moral dan norma yang berlaku, dan -yang pasti- syariat. termasuk masalah bergaul dan menjaga keperawanan dan/atau keperjakaan. tentu saja, syarat keadilan bagi laki-laki dan perempuan dalam masalah ini, tetap harus dipegang. itu berarti kejujuran juga jadi pra syaratnya. begitu, yak?

  2. Kekna, Finding a Virgin Man itu termasuk mission imposible deh 😦

  3. artja: tul tja asal jujur dan adil perawan tak perawan (ato perjaka) bukan lagi persoalan, bagiku begitu sih 🙂

    venus: duh iya, gara2 haree genee ada yg kurang kerjaan, tes keperawanan buat cewe? ajab

    nesia: hehe makanya jadi relatif ito, tergantung….:P hehe
    baca dulu ah linknya…

  4. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/perawan_masihkah_relevan_/

    makasih mas (mbak?)
    ok silakan, semoga bermanfaat 🙂

  5. sayah sudah tidak perawan lagi….. 😛
    *karenah sayah cowok* 😆

    kalo refer ke sini http://en.wikipedia.org/wiki/Virgin artinya ke2 gender :p

  6. Insya Allah masih relevan bu
    dan smoga seluruh muslimah dan perempuan lainnya menyadari

    relevan dlm pengertian yg benar

  7. masih lah.. yah kalo dia sudah menyerahkan keperawanannya dengan sadar yah berarti itu sudah ndak benar….

    benar salahpun kdg relatif dr paham apa yg di anut hehe…

  8. cuma mau komentarin kata2x yg diartikan kekekkekkekke kayak lasak. ternyata bahasa di medan itu mirip2x di tanjung pinang ya. aku di pinang juga nyebutnya lasak. paok hehehhe

    kalo isi tulisannya gak usah dikomentarin, udah dikupas tuntas soale hihihi

    jadi rindu kampung kan di

  9. Keperawanan / keperjakaan penting tidak nya tergantung dari sudut pandang seseorang, mungkin bagi yang mengesampingkan norma agama itu bukan hal yang penting, tapi bagi orang yang masih percaya adanya hari akhir , dimana setiap manusia akan di mintai pertanggung jawabannya tidak hanya di hadapan Allah melainkan di hadapan seluruh manusia dari jaman nabi Adam sampai manusia yang terakhir lahir pada hari kiamat, ketidak perawanan/ keperjakaan merupakan suatu yang mutlak penting ( terlepas dari insiden hilangnya keperawanan akibat kecelakaan dsb). Dalam islam perzinaan itu termasuk dosa besar, bagi yang melakukannya akan di hukum cambuk ( bagi yang belum menikah ) 100 cambuk dan diasingkan selama 1 tahun dan bagi yang menikah di rajam sampai mati hal tersebut meidentifikasikan bahwa tiada ampunan bagi penzina yang melakukannya dan sudah menikah selain nyawa. Tapi hal tersebut kembali lagi ke diri masing-masing sejauh mana kadar kepercayaan dirinya terhadap agama ( karena saya muslim, saya berpegang pada agama saya entah kalau agama yang lain apa sama ? )

    jadi relatif ya…thx komennya

  10. perawan dan perjaka sama-sama penting…

    tapi kalo sudah menikah, ya jangan dipertahankan… berikan semuanya pada pasangan sah :mrgreen:
    agree :d

  11. Izinkan saya untuk tertawa terlebih dahulu. (biar komennya lbh emosinal)
    wkwkakakaka… :mrgreen:

    Menghubungkan soal keperawanan dengan robeknya selaput dara (hymen) adalah hal yang konyol. Dalam banyak masyarakat dan kebudayaan utuhnya selaput dara hingga malam pertama merupakan sesuatu hal yang berharga. Makanya wanita yang tidak bisa menitikkan darah dimalam perkawinan itu dianggap tak berharga. Dari situ muncul asumsi bahwa si wanita mungkin sudah pernah berhubungan badan dengan laki-laki lain.
    Pahadal seperti yang telah anda jelaskan dalam tulisan di atas, selaput itu bisa rusak oleh sebab lain. Namun sekarang dengan kemajuan teknologi kedokteran robeknya heymen bisa diperbaiki. ya.. setidaknya bisa diatur bagaimana agar di malam pertama, terpercikan darah dari organ intim tersebut.
    Asumsi, stigma, tentang keperawanan berdasarkan robeknya selaput darah merupakan bagian dari budaya patriakis yang tumbuh kembang di masyarakat, dimana wanita menjadi korban dari kesemena-menaan laki-laki. Tak adil memang bagi wanita, Sebab tak bisa menuntut soal keperjakaan. Karena laki-laki tak punya tanda-tanda fisik akan jebolnya keperjakaan. 😦
    ———

    hmmm…bentol mas…eh bener. BTW, avatarnya keren, orangnya juga kali ye

  12. ———-
    Perbincangan keperawanan terkait robek/utuhnya hymen adalah issue yang sudah lama berkembang. Mengalami pro dan kontra. Hingga akhirnya tak pernah bergerak kemana-mana. setiap ada abg baru soal-soal seperti ini akan kembali lagi digiatkan sebagai topik perbincangan.

    Akhirnya kita harus mencoba sebuah konsepsi baru (entah ini baru atau sudah lawas) untuk memulai lagi perbincangan tentang keperawanan. Keperawanan seharusnya terkait orang dengan kehormatan. Kehormatan itu apa? izinkan saya memberi pengertian; bahwa kehormatan adalah kemampuan diri untuk tetap menjaga diri (bingung kan. sama saya juga 🙂 ). Maksudnya begini, artinya orang yang bisa menjaga kehormatan adalah orang yang bisa menjaga tubuh dan kelaminnya. Lebih jauh tidak bersikap murahan atau bersikap bodoh (mudah dirayu) sehingga bisa berhubungan badan dengan orang lain yang ia inginkan.
    Nah konsep keperawanan itu seharusnya digantikan dengan konsep ini. Konsep menjaga kehormatan diri. Melalui konsep menjaga kehormatan diri inilah maka soal keperjakaan itu bisa diakomodir. Jadi laki-laki juga harus bisa menjaga kehormatannya. Dengan tidak dengan mudah meneteskan air mana dimana-mana.
    Serta soal Janda dan Duda pun dengan mereka tetap menjaga kehormatan mereka akan terus dalam kemuliaan.
    demikian uraian saya yang ringkas ini (kepanjangan ya, maaf).
    -btw, salam kenal ya. saya tetap sebrang rumah. 🙂

  13. cogok … mancogok lah dieak… 😉

    alah mancogok ko da, salam…

  14. “perawan” itu konstruksi moral yg terlanjur diyakini

    kalau hanya sekedar diukur keluar darah malam pertama , uhh….kasiahan sekali itu laki-2

    😀
    gemes gak kalo guru yg harusnya punya pengetahuan yg benar, melakukan tes tsb? ukurannya apa, caranya gimana, ato gurunya yg ngetes, nyari kesempatan??!

  15. masih kali ya !!

    namun menurut saya keperawanan memang penting, tapi bukanlah segala2galanya. bagaimana dengan mereka yang keperawanannya hilang bukan karena sebab ML atau hub sex semacamnya, tapi karena kecelakaan terjatuh atau sewaktu remaja dia (wanita itu) adalah seorang atlet beladiri yang cukup berlatih keras (ini saya rasa sudah banyak yang mendengar kisahnya).

    huehehehe,,,
    cogok mancogok niyeeee…

    kalo emak jo abak awak dulu lah mancaliak se raut wajahnyo, mereka langsuang pulang mandi ka batang aia, huehehehe.
    kato mereka lho!!

    wah uni berhasil kiniko pindah ke wp,, banyak yg nongkrong.

    wah bilo traktirannyo ko cal 😉

  16. btw, kalok terlalu sering dicogok-cogok, itu bisa membahayakan keperawanan loh 😆

    *trenslet asal minang-jawa*

  17. eh…….aku kok belum komen disini ya ternyata…

    hehehe, baca2 komen diatas…..aku lebih cenderung sama komennya norie……kehormatan diri…….sampai kapan pun kalo bicara soal kehormatan diri, batas2nya udah lebih jelas. Karena kalo soal keperawanan aja, ya jangan jadi berpikir sempit soal ada tidaknya di malam pertama……

  18. wah uni… “Bagaimana kalau terjadi pada perempuan lugu tapi kebetulan si gadis agak lasak, suka pencak silat atau manjat-manjat waktu kecil, padahal belum pernah disentuh lelaki manapun? ” kata kata uni ini….WOW Hiks

    Kayak nya ur kategori gadis lasak, suka manjat sejak kecil, suka pencak silat. balet dan senam lantai waktu kecil……. Ngeri uni… achhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.

    tapi benar yang penting itu menjaga kehormatan, tidak pernah disentuh sebelum waktunya….

    ” Cogak kan lah diak muko nan janiah tuh…”
    ” Tingkah batingka usah dibuek janji nan lamo kito paarek…. ”

    ondeh badendang wak uni….

  19. Mampir … maaf lahir bathin aza dech

  20. Msih relevan,seharusnya perempuan dapat menjaga dirinya dari aurot.Pria tdk akn trpancing nfsunya.
    Ssuai kodrat lk2 dan prempuan,prempuan dciptkan dg pnuh keindahan.Scr psikis dan fsikpun sdh jls.Bgaimn kndisi dan urgensi darinya itu.

  21. itulah para lelaki dengan ke egoisan nya

    salam kenal

    saya suka artikel ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s