Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Hakikat

13 Komentar

akhir-feb-2008-099.jpgBerusaha menjadi Ibu yang baik, aku menghadiri acara sekolahannya Uqan. Hehe pertamakali dalam dua tahun. Ibu yang keterlaluan ya aku ini! Sok sibuk banget.

Begitulah, tak tega memandang mata Uqan yang begitu mengharap, aku hadir di rapat ortu, aku jadi pendiem kaya tembok, hanya cengar-cengir, smile-smile sendiri atau senyum beneran waktu ditanya Ibu-ibu yang lain, aku siapa?

Topik yang dibicarakan mengingatkan akan beberapa peristiwa yang membuatku–apa ya– kata-kata yang cocok? Pernah jengkel, pernah juga sedih dengan hakikat pendidikan di negeri ini. Mereka mengeluh soal Ibu-ibu yang merecoki acara lomba anak-anak, mereka tidak disiplin, ikut campur dan mau anaknya didahulukan. Hampir sebagian besar begitu. Mereka (ngakunya) Ibu-ibu yang sabar, jadi terlantar anaknya. Dan panitia tidak profesional mau saja diatur ortu. Jadi berkuasalah para orangtua yang ingin anaknya menjadi juara, mereka menyorong-nyorong anaknya duluan ke panggung dengan menyingkirkan anak lain, menyabot nomor undian dan konon kata Kepala Sekolah TK, hal ini selalu terjadi setiap tahun dan berjanji memperbaikinya. Kebetulan Ibu-ibu yang disekolah ini selalu mengalah, dan anaknya benar-benar kalah! (cerita mereka).

Yang aku alami sendiri dulu beberapa kali mengantar Ufi ikut lomba mewarnai atau melukis waktu masih TK (waktu masih jadi Ibu RT yang baik :). Sebagian besar orangtua ikut serta membantu anaknya menggambar supaya menang! Yah menang itulah tujuan akhir yang dipikir mereka mungkin ya. Tak peduli anaknya telah diajari curang sejak kecil. Lha, Ibu atau bapaknya yang ikut mewarnai atau menggambar menggantikan sang anak. Dan buruknya lomba-lomba begini panitianya memang gebleg. Aku sendiri sih tidak peduli anakku mau menang atau kalah, yang penting adalah mengajar anak berani berkreativitas dan jujur! Walau kesal juga pada orangtua yang seperti ini.

Hal yang dianggap kecil seperti ini oleh orangtua juga pernah kualami waktu ke rumah adikku melihat anaknya yang ikut berbagai lomba 17 Agustus-an. Persis sama, aku sampai kheki melihat seorang Ibu yang menggambar untuk anaknya, sampai aku ngadu bilang sama panita: “Bang kasihan kan anak-anak yang jujur kalau sampai yang menang anak-anak yang gambarnya dibuatkan orangtua.” Syukur panita yang remaja masjid mau mendengarkanku, mereka bilang akan mencatat siapa yang curang, dan langsung mengawasi.

Kadang kita lupa apa sebenarnya tujuan mengikutkan anak lomba. Mengajar anak curang hal kecil? Astagfirullah.

Kejadian lagi kali kedua (aku dalam usaha memperbaiki kesalahanku jarang ikut ke sekolah Uqan), kali ini ikut ke desa, anak-anak praktik belajar di alam. Guru memperkenalkan sawah, ladang, padi, kambing, petani, dsb. Tau kejadiannya? Diantara puluhan Ibu-ibu yang ikut, semua memilih duduk-duduk ngerumpi di halaman SD tempat kami parkir, hanya sekitar 4 orang yang ikut, plus aku dan suami. Aku sih memang gila desa!

Waktu anak-anak belajar memetik kacang panjang, ada Ibu-ibu yang dengan– maaf– rakusnya memetik sepuasnya, katanya mumpung gratis buat nyayur nanti. Padahal tak mungkin dia tak mendengar Bu Guru wanti-wanti hanya anak-anak yang diizinkan memetik sebab itu punya Bu Tani, Guru hanya membayar murah untuk sarana belajar. Dan hebatnya lagi ketika kembali kerombongan Ibu-ibu yang menunggu, seorang Ibu memarahi anaknya di dekatku sambil ngomel-ngomel; “paok kau, kok gak ambil yang banyak tuh sayurnya, kan bisa buat masak nanti!” Ya ampyuuun, ngomongnya kasar begitu, serius lagi. Menyuruh anaknya serakah, bilang bodoh?

Kadang kita memang lupa hakikat sesuatu yah…? Menyerahkan anak ke sekolah, tapi sekaligus mengajari mereka curang, egois dan mendahulukan kepentingan sendiri, serakah dan entah efek rentetan apalagi yang terseret oleh sifat-sifat tak jujur.

*paok= bodoh, Bahasa Medan.

Note: anak terdepan di fotoΒ  basah karena nyebur ke parit, kasihan, tapi aku ngakak karena mukanya lucu…hehe…:D. Syukurlah, jatuhnya ke parit dekat sawah yg airnya bersih hanya berlumut, nggak ada racun seperti di kota.

Iklan

13 thoughts on “Hakikat

  1. haduh, iya, bener juga. di sini kayaknya orang tua murid yang selalu balapan untuk jadi pemenang, heboh sendiri, gak peduli apa pun cara ke sananya. menyedihkan, ya?

    alhamdulillah gw memilih untuk ngajarin anak2 gw, bahwa jadi juara bukan tujuan.

  2. malam uni,…saya setuju bgt dg pendapat uni,…gmn besarnya nanti anak2 yg sedari kecil udah diperkenalkan dg yg namanya ketidak jujuran, krakusan, ketidak fairan,…emang ne uni,…mntal yg lagi bobrok,…hehehe,..by the way,..salut to uni,..tetap dijalurnya

  3. Assalamu’alaykum, salam kenal..
    mengajarkan ilmu ilmu fisik memang lebih mudah dibandingkan ilmu ilmu rohani yaaa…. apalagi kalau lingkungan kurang mendukung…..

  4. uuuh sebel banget ngeliat orang2x gak ikut aturan, gak jujur lagi. kacang panjang aja mau yg gratisan !

    btw, itu gambarnya rimbun amaaattttt gemes.

  5. ah, untung ibu saya terlalu tomboy untuk ikut2 heboh kayak ibu2 pada pada umumnya..hehehehe

  6. Iya, suka prihatin liat ibu2 yg kayaknya bs ngelakuin segala cara agar anaknya juara.
    Gimana mo punya generasi muda yg OK kalo sejak kecil diajarin gak jujur ya?
    Prihatin.
    Salam buat anak-anakmu, Say… ibu mereka keren! πŸ˜‰

  7. ah…..kalo ngomongin manner gini capek deh Meiy…kayaknya makin banyak aja dan berpendapat, kalo gak egois gak dapet apa2……..gimana Indonesia gak mau hancur kalo manusianya kebanyakan seperti itu dan mendidik generasi selanjutnya juga begitu……

  8. salam kenal uni…
    saya setuju banget sama cerita uni diatas, sekarang banyak ortu yang lebih orientasi sama prestasi yang dalam artian menjadi no.1. Banyak ortu kalo lagi kumpul ribut-in ‘anak saya menang lomba ini’ ‘anak saya rangking 1 lho’.. hehhe.. dan ga jelas apakah lomba ini diikuti dengan jujur dan bernurani.
    Jadi inget dikampus dulu saya punya temen yang setiap kali semesteran IP nya selalu tinggi pokoknya 5 besar deh seangkatan, tapi tiap kali ujian pasti selalu buka contekan. Alhasil, kami teman-teman seangkatannya jadi remehin dia. Kalo udah kaya gitu saya pikir buat apa punya IP tinggi juga yach, toh ga ada yang menghargai. Jadi bukankah lebih baik tidak menjadi no 1, tapi hasil karya kita dihargai daripada jadi no.1 tapi cuma semu. Bener begitu uni ?? πŸ™‚

  9. aku sudah lupa, apa sewaktu aku kecil dulu, ibuku bersikap menghalalkan segala cara untuk membahagaikan anaknya, atau tidak…. yang jelas, ibuku nggak pernah bilang paok kepada anak-anaknya

  10. venus:
    iya ven menyedihkan dan itu kualami di berbagai tempat krn hidupku nomaden, dulu di jakarta, ngeliat anak tante, di aceh, di padang, di medan, banyak yg begitu…

    avar:
    tujuan bukan utama, yg penting adalah prosesnya…jadi inget lagu iwan fals πŸ™‚

    penyejukmata:
    waalaikumsalam, senang dapat teman lagi :). padahal lebih penting spiritual dulu baru fisikal ya…

    dian:
    nanti ke medan kita metik kacang panjang di..hehe…

    senja: ibu kamu itu, aku kan hehehe πŸ™‚

    dew:
    salam juga ya buat anak-anak kamu dew, ah jauh keren kamu dong ah…*ngiri kamu dah jadi penulis beken….;)* gimana carnaya wie?

    endang:
    iya ndang, mendingan kita berusaha agar tak begitu juga yah

    dona:
    senang kenal kamu dona, kamu cantik sekali ya…

    iya dulu aku juga punya temen kaya gitu, dia memang pintar tapi serakah, maunya selalu dapat IP plaing tinggi, sudah pintar tetep aja nyontek, gak ingin orang ngalahin IPnya, pdahal dia lupa, dia nggak ada harganya dimata oranglain

  11. artja:
    kalo ngeliat kamu sekarang (ya dari tulisan kan bisa mengira ya) nggak mungkin deh Ibu kamu begitu, pasti beliau orang baik ya πŸ™‚

  12. Anak anak yang diikutkan lomba dengan bantuan orang tuanya itu sebetulnya menyesatkan anak sendiri ya Ni…sayang sekali kalau begitu. Biarkan saja anak berekspresi menurut kreatifitas mereka sendiri. Aku ndak pernah menyalahkan alif bila mewarnai langit dengan warna hijau, atau kuning…biar anak anak tumbuh tanpa dikarbit.

    Prihatin juga dengan ibu yang menyalahkan anaknya yang nggak memetik banyak kacang. BTW Paok itu artinya apa Ni πŸ™‚ ?

  13. Unai: iya biarkan anak berfantasi, berimajinasi utk mematangkan daya pikirnya, kreativitas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s