Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Keseharian di camp CRU, sebuah warna lain kehidupan.

6 Komentar

Mereka hidup untuk mengikuti sunatullah, tak ada istilah malas dalam hidup mereka; burung-burung, serangga, orangutan, bahkan angin yang berembus, suara simfoni yang membangunkanku pagi ini setelah semalam sesekali terbangun oleh ‘terompet’ gajah-gajah di luar camp. Lupa kutanyakan, kenapa mereka agak ribut malam tadi. Sebelum matahari muncul mereka telah siap menyambut hari baru. Tak malukah kita pada alam, kalau saat itu kita masih mendengkur bahkan lupa bersujud padaNya?

Keluar kamar langsung disambut udara segar agak dingin, shalat di beranda camp yang terbuka ditemani simfoni alam, serasa DIA semakin dekat (yah walau sebenarnya memang dekat hanya kadang kita yang tak mendekat padaNya).

Yang biasa kulakukan adalah masak air, bikin teh dan kopi, lalu melihat di dapur ada apa, pagi ini aku masak nasi goreng. Biasanya kalau mereka sudah bangun, anak alam ini membantuku. Lalu sarapan, yang terasa nikmat sekali. Perut memang gampang lapar di udara dingin ya! (hihi alasan, padahal emang rakusdotcom J)

Kalau tak buru-buru mau ke desa atau ada pertemuan dengan guru-murid, ritual pagi lainnya adalah berjalan-jalan di sekeliling camp CRU (Conservation Response Unit), menunggu para pawang berdatangan dari rumah mereka yang terletak di desa (±3 km dari camp), sebagian yang masih lajang atau yang tidak membawa keluarga tinggal di camp, diluar desa).

Aku suka melihat, kadang membantu mereka memberi makan gajah dengan pelepah kelapa, pisang, dan buah lain jika tersedia, dan 3 kali seminggu memasak ‘dodol’ gajah yang dibuat dari dedak, jagung, gula merah serta campuran mineral dan vitamin untuk gajah. Nah hebat kan ternyata gajah juga makan suplemen. Itu harus dilakukan untuk gajah-gajah jinak yang sejarahnya dulu ‘terpaksa’ ditangkap pemerintah sebab kebijakan membuka hutan besar-besaran di era 1980-an (sampai sekarang) membuat habitat mereka terpecah-pecah dan semakin sempit. Manusia menggusur habitat mereka, jadi kalau mereka masuk ke kebun masyarakat sebenarnya yang terjadi kebalikannya; manusia yang menjarah rumah mereka! Kebijakan sialan bukan? Kalau di alam mereka bisa makan 250 kg makanan sehari yang terdiri dari ratusan jenis pohon, rumputan dan liana, jadi mereka tak perlu vitamin lagi. Gajah CRU memang makan juga pakan alami saat berpatroli ke hutan, namun itu tidak mencukupi sebab sebagian waktu mereka berada di luar hutan, belum lagi hutan yang semakin berkurang jumlahnya. Tanyakan kenapa!

Kemudian gajah-gajah akan minum (sehari bisa 250 liter bo’!), mandi serta latihan untuk perawatan kesehatan. Ini dilakukan dua kali sehari; pagi pukul 8.00-09.00, dan sore pukul 16.00-17.00. Yang pertama dilakukan adalah menyuruh mereka BAB dan BAK di tempat khusus di pinggir sungai. Kotoran gajah dikumpulkan sebagai bagian dari pengelolan sampah, nantinya diolah menjadi pupuk alami yang disebut bokashi. Pawang dan anak-anak desa yang dibina mengerjakan pembuatannya.

Lalu mereka diperiksa gigi, kuku, mulut dan seluruh tubuhnya, kadang-kadang di manicure-pedicure, hebat kan? Mereka juga dilatih untuk welcoming guest untuk keperluan ekowisata. Mereka adalah Theo (jantan), dan 6 betina, Sari, Yuni, Ardana, Eva, Agustine dan Olive. (Ondeh mandeh enaknya si Theo bisa jadi Don Juan hihihi…).

Setelah itu hari mereka (Tim CRU; gajah, pawang, penjaga hutan swadaya masyarakat, FFI) sangat sibuk, sesuai jadwal rencana kerja mereka mungkin akan berpatroli, kadang-kadang sekalian membawa turis ke hutan untuk trekking, atau melakukan survei, dll. Di luar itu mereka juga punya tugas melakukan penyadartahuan konservasi kepada masyarakat bersama Divisi Pendidikan, dan tugas yang sangat penting dan berbahaya adalah mitigasi konflik manusia gajah yang sering terjadi di beberapa daerah. Misal Sei Lepan, Sumut. Mereka menggiring gajah-gajah liar yang masuk ke kebun masarakat kembali ke hutan, membuat sistem pencegahan, dsb. Di camp mereka juga dilatih rutin berbahasa Inggris untuk turisme, kemampuan navigasi, survei, pemakaian GPS, pemetaan dsb. (5 focus utama; capacity building, patrol & monitoring, education & awareness, human-elephant conflict mitgation, and supporting ecotourism) .

Inilah keseharian di camp CRU Tangkahan. CRU juga punya camp di Seblat, Bengkulu, aku rindu sekali ke sana, mudah-mudahan nanti bisa menyajikan kisah perjalanan ke sana ya!

Untuk ekoturisme, kami menjanjikan bahwa Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, adalah the hidden paradise, sisi hutan hujan perawan yang menjanjikan kedamaian, ketentraman, kenyamanan….yang mensuplai air dan udara untuk dunia, berbagai tumbuhan untuk obat-obatan dan keperluan lain, aneka satwa yang berperan penting dalam ekosistem bumi, dsb…Saat ini sudah mulai banyak selebriti kelas dunia yang diam-diam sembunyi di sini, menikmati paradise kita –yang entah– mampukah kita pertahankan?

***Untuk situs hidden paradise sayang sekali CRU kekurangan staf untuk me-maintain-nya, adakah yang bersedia jadi volunteer? Padahal tempat gratisan sudah diberi oleh teman-teman dari Air Putih.

CRU Camp n Ayahanda Medan, 20-24 Februari 2008

Iklan

6 thoughts on “Keseharian di camp CRU, sebuah warna lain kehidupan.

  1. Uni,…suatu oleh2 yang sangat berharga,..

  2. Avar: semoga, walau bukan berbentuk materi 🙂

  3. baru tahu,,, 250 liter sehari minumnya… pantesan badannya cepet gede yah gajah.

  4. ichal: jangan nyindir uni yo! awas lo xixixi

  5. uni… untuk valounter apo ko? dibuka web air putih hostingannya masih minta confirm?

  6. Uni, harimau di Padang dan Painan manggilo gara-gara illegal logging. Miris…

    Itu volunteer untuak maintenance website?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s