Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Kami tak takut matahari

10 Komentar

Jalanan ke Tangkahan; kok gak malu ya
yg berwenang memberi rakyat jalan seperti ini?

Gosong. Muka memerah dan terbakar matahari, kulit berubah warna, itu pasti. Dengan ransel di kiri dan laptop di kanan, sulit untuk memotret jalanan yang membuat bokong pegal. Syukurlah aku bukan perempuan pemuja kulit putih, walau kata Ibuku aku menjadi lebih hitam 40% sejak tinggal di Aceh dulu. Yak gimana gak hitam waktu di Aceh hobiku dan keluarga adalah ke laut, bisa 2-4 kali seminggu kami ke pantai, menikmati pagi, siang, sore, sunset, mandi-mandi. Lalu apa coklat dan hitam tak seksi? Hehehe…temanku para bule dengan enjoy-nya berpanasan di matahari, sebuah kemewahan bagi mereka yang hidup di negeri redup, mataharinya somse. Dan menjadi coklat? Idaman setiap perempuan kulit putih itu, sexy katanya!

Dan sekarang, aku harus ke lapangan, berkendara sepeda motor—kali ini dibantu Bang Lah (pawang), Joni dan Ferry (pemuda desa) melalui desa-desa berdebu, jalanan tanpa aspal, kerikil dan tanah, dihiasi kolam-kolam yang salah tempat. Lha kolam kok di tengah jalan! Jarak yang 20 km bisa terasa dua kali lipatnya karena harus offroad. Namun disitulah nikmatnya, terutama bagi yang agak ‘gila adrenalin’ sepertiku, walau sekarang tak lagi segila dulu, tahu diri aku Ibu-ibu bo’, punya 3 anak dan suami yang menantiku dalam keadaan save and sound selalu.

Bagi kita yang tak biasa berpanas, itu terasa sekali, namun bagi orang-orang kampung, guru-guru dan murid-murid yang aku temui di desa itu adalah hal biasa. Mereka terbiasa menempuh jarak jauh dengan jalan yang tidak ramah setiap hari. Ibu-ibu berjalan kaki ke kebun-kebun sawit untuk mendapatkan upah membersihkan rumput liar, wanita-wanita tegar, batinku. Kalau beruntung ada mobil lewat, mereka menumpang untuk mempercepat langkah, kalau tidak mereka bisa menghadapinya dengan santai. Takut terkena matahari? Takut hitam? Pasti tak terlintas dalam benak mereka! Aku begitu kagum dengan keterbiasaan mereka menghadapi kehidupan. Dengan senyuman, dengan canda yang tak lepas-lepas. Itulah kecantikan sejati yang dibentuk alam, aku selalu salut pada wanita-wanita begini, bukan seperti wanita-wanita yang diiklankan produk kecantikan yang dihargai hanya sekedar tubuh, kalau mukanya hitam lalu kekasih pergi. Pu***ak lah! Aku benci kali iklan pemutih bengak itu! Pemuda desa setempat pernah bertanya padaku sambil menunjuk ke sungai, “Kak, pernah liat orang kota kaya gitu?” Ibu-ibu tua dan perempuan baya pulang dari ladang menghanyutkan diri memakai ban di sungai dengan santainya, mempercepat pulang ke rumah.

Begitupun guru-guru yang aku temui pada KKG (Kelompok Kerja Guru) di desa Kuala Sawit di tengah-tengah kebun sawit. Mereka bercerita, walau panas dan debu tanah bikin muka kadang-kadang jerawatan, mereka bersyukur masih bisa menikmati udara yang segar dan air yang cukup. Setidaknya itu bukan debu kota yang berpolutan. Mereka katakan waktu berbincang usai presentasiku mengenai Global Warming dan memutar film An Inconvenient Truth sebagai bagian dari pendidikan lingkungan yang harus aku sampaikan. Mereka gembira ada yang mau berkunjung dan memberikan pendidikan semacam ke sekolah mereka yang terpencil. Mereka malah minta kami datang lebih sering.

Hikmah, adalah sebuah hal yang bisa diambil jika kita menginginkannya bahkan dari situasi paling sulit. Akan menjadi neraka jika dialami orang yang manja, suka mengeluh dan tak bersyukur. Akan menjadi indah ketika keterbatasan keadaan dinikmati apa adanya. Aku terus belajar dan mencoba. Mungkin sepanjang hidup.

Ayahanda Medan, 24 February 2008

Iklan

10 thoughts on “Kami tak takut matahari

  1. alah bisa karena biasa kali yaaa……dan menikmati apa yg bisa didapat.

  2. wah, bunda satu ini, TOP !! petualang… pengiin…
    sukses deh buat bunda, keep spirit !!

  3. aku suka eh ruangannya. banyak jendela. gede2x lagi

    matahari kalo kelamaan bisa bikin bintik item dimuka hheehe dulu aku pernah 6 jam pake motor di thailand, besoknya kulitku terbakar. periiiiihhh *gak pake sun block sih

  4. Endang: bener jeng bauer 🙂
    sayur: ayo kapan2 ikut aku.thx 4 support.
    dian: iya ruangan sekolah kampung gak perlu pakae ac di. emang sih, bisa bikin noda, tp kasihan lah orang kampung yg terbatas kehidupannya, beli beras aja susah, apalagi beli kosmetik macem2 di 🙂

  5. ow.. iklan pemutih yang itu yach? hahahahaha… setuju-setuju, masa cuma ngeliat putihnya aja 😀

    bagus iklannya Rinso “Gak ada noda, Gak belajar” 😀

    salut buat “petualangannya” semoga bisa membuka wawasan buat yang lain, bahwa diluar sana perlu juga dibangun jalan, gak cuma meributkan monorel dan busway seperti disini di Jakarta 😦

  6. Dengan ransel di kiri dan laptop di kanan, sulit untuk memotret jalanan yang membuat bokong pegal.,,,

    makonyo baok awak ciekkk, jadi ado nan mamacik ransel ato laptop,,,, hehehehe!!

  7. Aslkm….alah lamo indaj kasiko, taragak pulo awak….

    pa kabar ni ? sehat2 ? kamanakan awak sehat2 ? masih kalu masuak utan ni ?

    penunggangkuda berubah jadi olangbiaca

  8. bukan pemuja wanita berkulit putih! mantafh! wanita yang begitu terobsesi pada kulit putih itu, berarti mengakui dirinya bukan apa-apa kecuali kulit putih itu, kecuali seonggok tubuh itu.
    Itu wanita yang hanya akan mendapat cinta di saat belia, dan akan tersisih begitu menua!

    Petualangan2-mu selalu buat iri, Ni…

  9. Berbahagialah mereka yang bisa dan mau berbagi dengan orang lain, karena tidak setiap orang punya kesempatan dan mau melakukannya.

  10. Mambaco carito petualangan uni, rancaknyo uni buek lo film dokumenter ciek… 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s