Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Lakukanlah Edwar

8 Komentar

Sejak kenal Edwar beberapa tahun lalu, kakiku sebenarnya sudah ‘gatal’ ingin bekerja di lapangan dengannya. Akhirnya aku lebih memilih keluarga yang tak mungkin kutinggalkan sampai beberapa bulan jika aku mengikutinya. Aplikasi aku tarik, aku memilih jadi Ibu yang baik, ngurusin “anak-anak” di kantor saja dan di rumah. Hingga beberapa bulan lalu, aku dengan senang hati menerima “lamaran” Edwar hehe…mrgreen

Tulisan ini lama terkatung-katung di draft, baru tergelitik ketika baca ini. Blog Bapak ini memang inspiring banget! Memang kalau mikirin carut marut pendidikan di Endonesya Raia ini, bisa bikin bingung. Ahlinya banyak, pendidikannya “aneh” kalau nggak bisa dibilang hancur. Begitupun sewaktu aku baru mengenal Edwar, bingung, untuk mengenalnya, aku harus belajar banyak hal, membuka-buka Kurikulum SD yang tebalnya minta ampun, mempelajari teori ini, anu, ene, yang setebal bantal, (well yeah yang mana daripada aku ketiduran bacanya, sekalian deh dijadiin bantal!).

Duh memangnya mau jadi master dalam semalam?

Lama juga aku berpikir, mau apa aku dengan Edwar ini, pengalaman tak banyak, skill kurang, sementara gairah menumpuk (huaaa….mrgreen)?

Berani mengambil beban bidang education & awareness dengan latar belakang suka dan mau belajar mungkin memang tidak cukup. Lalu kusadari aku tak sendiri, di tingkat programatik dan tematik aku bisa bekerja dengan timku, dengan mitra, dengan bantuan teknologi informasi, dsb., pelan-pelan aku mendesain program (dengan masukan mereka tentunya). Lalu mengapa tidak? Makanya aku berani maju terus, mulai dengan program yang pertama November lalu, kerjasama dengan Melbourne Zoo Discovery and Learning & Deakin University menyusun konsep Manual Pelatihan Guru Konservasi berdasarkan masukan dan karakteristik daerah yang dituju melalui lokakarya. Mereka sudah punya pengalaman dengan beberapa negara berkembang dan berhasil.

Tak hendak muluk-muluk, tak hendak pelik-pelik dengan seribu macam teori, kami hanya ingin ‘sasaran’ kena tembakan yang menyadarkan meskipun masih pada tingkat awal, kesadaran & kepedulian terhadap lingkungan—pengetahuan, sikap, praktik. Kami bekerja dari bawah, mulai “menyusup” dengan muatan lokal saja yang dikeluhkan guru tidak cocok dengan karakter setempat. Soal Kurikulum dan metode diserahkan kepada guru sebab memang mereka lebih ahli. Untuk masuk secara “legal” ke dalam kurikulum, sebenarnya sedang dikerjakan juga oleh ahlinya yang duduk dalam konsorsium beberapa NGO termasuk kami. Yah itu urusan tingkat tinggi yang rumit sebab banyak intrik dan politiknya. Lalu mengapa tak berbuat saja dulu walau tak nampak tapi ada? (hah siluman kaleee razz).

Dengan bantuan relawan Discovery Learning dan Universitas Deakin tersebut semangatku timbul, mereka datang tak hanya dengan dana tapi juga ilmu (3 Profesor + 3 aktivis bok!) dan dengan senang hati membagi ilmunya. Ternyata kalau mau, pasti ada jalan.

Satu hal yang paling berkesan dalam lokakarya dengan guru-guru tersebut adalah kesimpulan yang sederhana; sebenarnya, mendidik itu tak perlu pelik-pelik, apapun yang ingin disampaikan, sampaikanlah dalam situasi dan kondisi yang segar dan menyegarkan, jangan membosankan. (Menurut buku favoritku ini situasi rileks/otak dalam keadaan alpha adalah saat dimana semua manusia bisa belajar dengan maksimal). Itu yang diinginkan guru-guru saat memberikan saran dan masukan, dan alhamdulillah mereka senang dan ingin segera menerapkan pelajaran konservasi di sekolah masing-masing serta juga minta agar pendidikan untuk mereka diteruskan. Tinggal kita menindaklanjuti dengan masukan-masukan yang selalu segar seperti udara rimba!

Saat ini aku masih belajar tentang Edwar, 2 hari kemarin mengorbankan weekend, berguru kepada Ibu ini (lihat; Conservation is here) yang sudah malang melintang di rimba pendidikan lingkungan, walau dia tidak mengaku. Darinya aku banyak belajar bagaimana menangani Edwar yang banyak tingkah itu. Rencana juga mau “memaksa” Bapak ini untuk memberi bahan-bahan presentasi yang menarik. You are a good teacher buddy. Masih panjang jalan belajarku.

Nah, sudah tahu siapa Edwar?

Ayahanda Medan, January 22, 2008

Pinjam gambar dari sini.

Iklan

8 thoughts on “Lakukanlah Edwar

  1. Jadi Edwar = Education of……?
    yg pasti sih,mengajar msh lbh mudah drpd mendidik, iya nggak bu?

  2. Asl…ni dia edwar: education & awareness …..taukan?
    jelas dong baru dari rimba nggak ngikuti informasi ni…ehe..liat di detikccom.
    Yg dimaksud sang Pahlawan adlh ketua MPR saat ini, energi beliau adlah istri beliau yg barusan meninggal, Ibu Kastian.

  3. wah hebat sekali mbak…saya dukung deh semuanya, karena positif sekali…sukses ya

  4. Edward…sia tuh..kan lai indak apaknyo apo emang apak paja hehehe..bagarah..

  5. hari kiniko lai bisa masuak mah!!

    banyak pulo masuak ke pak ersis..

    iri awak ka uni,,, banyak bana kegiatannyo!!

  6. Blom tahu siapa itu Edwar :D…

    Tapi, kalo terus mau belajar pasti akan bisa koq mbak… Sukses menjadi “guru”, mbak… ^_^

  7. Meiyyyyyy…

    Kangen nih!!!!!

    Halaaah… kok ngomen kek gini ya.
    Ya si Edwar itu anaknya jalan Cangkir kan? Hehehe… kidding!

  8. Guru mansia sesungguhnya adalah alam; pada alam itulah Allah SWT ‘menitipkan’ tanda-tanda kebesarnNya. Orang Perancis bilang: Alam takambang jadi guru, he he. Jadi, mau mengembangkan apa saja, bergurulah pada alam dalam arti luas, bukan … kurikulum yang dibuat para ahlinya yang bisa jadi tidak paham kondisi ‘alam’ sesungguhnya. Hayo, bagaimana kalau pembuat kurikulum itu lagi mabuk? Sssssst, saya magister kuriklum he he …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s