Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Menjadi petani, sebuah mimpi

3 Komentar

Merasakan panas matahari yang menyengat, jam 10 – 13 siang sambil menanam rumput gajah dan nenas di kebun, membuatku berpikir betapa berat pekerjaan seorang petani. Kalau sekedar menanam beberapa pematang sepertiku ini okelah (Just nggaya oi). It’s fun. Tapi ‘membaca’ kondisi petani-petani kecil di desa sungguh menyedihkan. Memikirkannya lebih menyedihkan lagi karena pasti akan berujung pada umpatan terhadap kondisi negeri ini yang tak berpihak pada petani. Malah kebanyakan petani sudah tak punya lahan garapan, hanya menjadi buruh upahan kerja rodi seperti zaman Bulando. *Jadi inget novel Emil*.

Aku pernah membaca, di Thailand, pemerintah mereka sangat mendukung usaha pertanian, mulai dari penanaman, pengelolaan, pengembangan, penelitian serta pemasaran sampai ke seluruh dunia difasilitasi dengan baik. Makanya produk-produk pertanian keren datangnya dari Thailand. Kadang aku heran orang-orang kita berlomba-lomba mengembangkan tanaman dari Thailand, bunga Thailand, sayur Thailand, rumput semak pun dari Thailand, lalu dijual mahal di Indonesia! Aku selalu bilang pada abang yang kebetulan usaha kecil-kecilan tanaman hias, alangkah bodohnya kita ini. Misal dulu waktu di Aceh; “Beginian dibeli mahal-mahal sama orang? Bego banget sih, di parit belakang rumah juga ada, ko malah diimpor dari Thailand?” sambil nunjuk rumput-rumputan di majalah ‘penguasa’ trend pasar. Kenyataannya, Indonesia ini (dunia kali) emang dikuasai para pemodal gede alias kapitalis itu, mereka yang menciptakan trend pasar, mengendalikan pasar, memprovokasi pasar dengan ilmu iklan yang yahud, dan membodoh-bodohi kita bah! (Nah ko mau ya??sad)Begitulah kita ini, padahal kurang luas apa ya Indonesia ini? Kurang banyak apa spesies tanaman hias atau bukan yang bisa dikembangkan? (Halah cape deh mikirinnya mending gue mikirin gajah hehehe…) Padahal ada satu keinginan di hari tua untuk menjadi petani di kampungku. Bayangan masa kecil tentang kehidupan petani yang indah apa hanya mimpi ya di negeri ini? Nyatanya kampung-kampung mulai tenggelam, tanah kehilangan kesuburan, negeri kehilangan hutan, yang rajin berkunjung adalah banjir di musim hujan dan iklim kering di musim kemarau.

Berbincang dengan Jess di kebun gajahku ini, terkagum-kagum pada dua orang pekerja yang membantu mengolah tanah agar siap ditanami. Tak seorang pun dari kami pernah punya pengalaman mengolah lahan. Jess bilang, dua lelaki yang bekerja ini sangat kuat, tak berhenti mencangkul walau terik, lalu hujan, lalu terik lagi. “You see Merry, they have no fat, only muscles……no worry of cholesterol…*Yah Jess lu nyindir gue deh*. Ditambah lagi saran Rut: Bagusnya aku n si Bos yang punya ukuran XL tinggal minimal satu bulan, tiap hari nyangkul n nanam pohon, dijamin pulang-pulang berubah bentuk dan warna, pasti bakalan item dan langsing sing! Aku sih nggak keberatan–suer–, aku bukan pemuja kulit putih seperti iklan-iklan kecantikan yang gebleg itu. Sayangnya tak mungkin kutinggalkan anak-anak n misoa lama-lama ding!

More pictures
mrgreenlolmrgreenrolleyes

Iklan

3 thoughts on “Menjadi petani, sebuah mimpi

  1. khas Meiy banget deh mimpi dan angannya….dikau di-clon aja ya….pasti Indonesia lbh adem…

  2. Meiy, tau gak rumput liar yg suka di sebut Putri Malu namanya? Daunnya mirip kayak daun flamboyant tapi kecil halus yang kalo disentuh daunnya suka kuncup ibaratnya malu gitu kalo disentuh?
    Nah itu tanaman kan termasuk “gulma”, disini dijual bijinya dlm bungkusan kecil utk tanaman hias. Dulu Tamara kubelikan itu trus ditanamnya dlm pot, tumbuh sampe berdaun dan tiap disentuh kuncup. Tapi memang dasar gulma gak bisa hidup bak British Royal Family, mati akhirnya. Padahal dah lumayan gede’. Aku sebut itu tanaman Shy Princess (Putri Malu).
    Jadi bayanginlah, gulma dijadikan tanaman hias.

  3. uni kayaknya cocok jadi petani yang punya hektar2an lahan, biar bisa merubah ukuran yang XL menjadi M or S kali yaaa, heheheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s