Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Pelajaran pagi tadi

11 Komentar

Keluar pagar pagi ini aku melihat banyak ABG–cewe semua–berjalan di depan rumah sambil mendorong koper-koper beroda, rame banget! Ada apa ya? Aku tanya abang becak motor yang akan kutumpangi ke kantor. Dia bilang itu calon TKW yang mau berangkat ke Malaysia, sedang menuju bus di ujung jalan. Baru ingat, di ujung jalan yang satunya ada Biro Tenaga Kerja.
“Kok nggak dijemput sih Bang, tanyaku? Kasihan kan menyeret-nyeret koper gitu.”
“Busnya besar, susah mungkin masuk kesini, ” kata si abang.
“Hah?! Apa jalan kita kurang besar?”
Jalan Sendok ini cukup besar untuk ukuran jalan kompleks. Kalau sore, anak-anak kota yang tidak punya lahan bermain, biasa bermain bola di jalan ini.Ya Tuhan, entah mengapa ada perasaan haru melintas di hatiku, aku perhatikan mereka, sebagian tersenyum padaku. Wajah mereka cerah, kuterjemahkan dengan ‘penuh harapan’. Sebagian bahkan tampak masih muda sekali, seumuran anak SMP mungkin. Kok bisa ya kerja di luar negeri, apa masih di bawah umur? aku membatin sendiri.

Aku langsung teringat nasib tenaga kerja kita, terutama wanita, yang mengenaskan di luar negeri. Yang mati, yang disiksa, ah males untuk menulis hal-hal yang membuat miris begitu. Tanpa disengajapun kita pasti akan mendengarnya dari media. Tak perlu aku tulis lagi, atau aku link. Bikin sesak saja. Aku sering tak sanggup melihat hal-hal seperti itu.

Kadang kita merasa lebih tahu tentang hidup orang lain–mungkin terpikir, ngapain sih kalian ke sana, cari mati? Ah, mereka pasti lebih tahu dari kita, mereka juga pasti sadar ada resiko seperti itu. Namun hidup di negeri kaya tapi rakyatnya sengsara ini? Pastilah negeri orang terlihat lebih menjanjikan.

Beberapa hari lalu aku dengar iklan di radio. Mereka mencari tenaga kerja untuk ke Singapore, dengan gaji Rp. 1.200.000 perbulan (rupiah, bukan dolar, kalau aku gak salah). Ya Allah, aku bingung, tadinya aku fikir mereka mendapatkan gaji yang jauh lebih besar. Berapa ya biaya hidup disana, apa masih bisa menabung? Ngirim uang untuk keluarga di kampung? Kenyataannya, memang banyak saat ini rakyat yang nggak sanggup bahkan sekedar membeli beras, beli minyak tanah mesti ngantri panjaaang sekali. Yang katanya jangan sakit kalau miskin, mendingan mati, karena dokter dan obat adalah barang mewah! Ah kalau kita jeli, apalagi peduli, gampang menemukan mereka disekeliling kita.

Pelajaran pagi ini membuatku terhenyak. Kadang-kadang aku masih merasa susah dengan permasalahan yang datang dalam kehidupan, belum seberapa dibanding mereka! Lihatlah mereka, meninggalkan negeri, keluarga, kekasih, ada yang meninggalkan suami dan anak-anaknya demi bertahan hidup. Aku hanya bisa diam-diam berdoa semoga mereka selamat di negeri orang, sambil malu kepada Tuhan, mungkin aku termasuk dalam jajaran orang-orang yang lemah.

Hanya berharap, perempuan-perempuan lain (eh juga lelaki!) yang tak mesti hidup seperti mereka, yang bisa memanjakan diri di spa, belanja gila-gilaan mengikuti trend, bisa nongkrong di cafe menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dalam sesaat…juga bisa peduli pada perempuan-perempuan yang lebih sulit kehidupannya. Tak salah orang kaya menikmati hartanya (lah wong uang sendiri). Hanya alangkah indahnya dunia ini kalau mereka juga ikut berpikir saat harus menyisakan/membuang makanan restoran mahal yang tak habis…diluar sana ada anak-anak yang kekurangan gizi…Mungkin bisa tergerak untuk berbagi. Setidaknya bisa lebih memperhatikan orang-orang yang bekerja pada mereka.

Jadi teringat salah satu pembicaraanku dengan adikku yang bercerita soal temannya yang menggaji pembantunya begitu sedikit dengan pekerjaan yang begitu banyak, makanya mereka sering kabur katanya. “Bayangkan Ni,” katanya, “bagi orang seperti dia, uang 200-300 ribu hanya untuk sekali duduk di restoran, tapi untuk orang yang telah kita peras tenaganya…kita begitu pelit…”

foto minjem sini

Iklan

11 thoughts on “Pelajaran pagi tadi

  1. Duuuh Meiy tulisannya, begitu menggugah. Aku n suami juga kadang suka mikir begitu. Apalagi aku ini org yg suka gak tegaan.
    Besarnya gap antara si kaya dan si miskin sudah terlalu lebar. Mungkin ada somewhere out there segelintir org2 yg bisa menahan supaya jgn terjadi gap tsb. Tapi langka sekali.

    BTW, jalan Sendok itu kan mayan juga gede’nya. Aku pernah kok maen kesitu.

  2. ya….para majikan lebih kejam dari tentara jepang! belum lagi yang di arab2 itu, yang pemerintahnya bilang, TKW disiksa dan akhirnya mati itu karena takdir! duuuuhhhh….pemimpin agama kok ga tau siksaan pedih seperti apa kalo memakan keringat orang lain 😦

  3. TKW lagi TKW lagi
    gaji ngga seberapa tapi nyawa taruhannya.
    tapi katanya kalau dapet majikan yang baek pasti sukses lho meiy. tetangga saya bisa beli sawah beberapa hectar.

  4. Kadang kita merasa lebih tahu tentang hidup orang lain–mungkin terpikir, ngapain sih kalian ke sana, cari mati?

    cari duit lah…
    eh, masak seh cuman 1,2?
    ah salah denger kalee..!!

    *miris, mengelus dada…*

    salam kenal ya…

  5. duh, ngenes. cuma bisa ngelus dada…

    meiy, puisi yg ‘sulit menamaimu’ jadi gw posting. makasih banyak ya bo!

    trus, itu buku MT di mana belinya ya? gw cari di kharisma n beberapa toko buku online, blm masuk kayaknya.

  6. bener meiy, miris ndengernya….kepala jadi cenut2 deh, kalo inget…

  7. Kadang kita merasa lebih tahu tentang hidup orang lain…
    Ungkapan yg sangat bijak. Andai kita tau yg sebenarnya ttg hidup orang lain, sikap kita padanya akan sangat berbeda dengan yang kita tunjukkan selama ini.
    Empati adalah unsur terpenting dari kasih sayang.
    Tapi, Ni… bahagia dan derita, seringkali ga ada kaitannya dengan sesuatu yg “di luar” kita. Ia urusan di dalam.
    Membiarkan perasaan kita ditentukan oleh situasi eksternal, oleh sikap orang lain kepada kita, sama saja menyerah kalah kepada kehidupan.
    Just sharing my opinion siy… :)) ps: Deket kantorku jg ada penampungan TKW.

  8. dibanding mereka, ternyata masalah kita nggak ada apa-apanya.

  9. Lho cuma 1,2 juta toh? Kok gedean gaji PRT kakakku di Batam, 2 juta.

    Aneh juga kenapa mereka lbh milih ke luar pdhl di Indo nyari PRT susah banget.

  10. Ini blogku hihi dari laptop lebih gampang nyarinya.

  11. OK dian cek tkp…rindu ya BW 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s