Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Pada Langit, siang n malam

16 Komentar

Begitulah langit siang ini, biru, cerah dan indah. Aku terperangah. Pemandangan yang langka di kota besar berpolusi seperti kotaku ini. Biasanya langit memutih, tertutup lapisan gas rumah kaca yang membias ke bumi, semakin memanaskan. Tapi siang ini berbeda. Aku juga ingin berbeda, ingin melenyapkan segala pegal setelah berjam-jam duduk dan berpikir di depan komputer, ingin menyegarkan mata, melihat langit, membaui wangi rumput, mencari angin, dan kalau beruntung mengejar kupu-kupu bersama Nay. Aku ingin menjernihkan pikiran, yang biasanya butek hari-hari PMS gini 😦 Itu yang selalu kulakukan disela-sela pekerjaan saat lelah atau sekedar ingin refreshing. Semacam re-charged.
Siang ini awan seperti sapuan kuas yang halus, senada memanjang tipis-tipis, aku tersenyum. Terbayang waktu kecil saat kucoba melukisnya di atas kertas atau kanvas dari bekas karung terigu dan hasilnya tak memuaskan untuk dipandang, tapi aku senang. Kata Papa, pelukis sejati tak butuh bahan-bahan mahal untuk melukis, kamu bisa melukis dengan apa saja. Lalu aku ingin menjadi pelukis. (dan ternyata gagal πŸ™‚ )Langit, dari kecil aku suka memandang langit, saat kupikir Tuhan tinggal di atas sana. Saat kupikir bidadari2 yg cantik naik pelangi seperti dalam dongeng2. Aku suka memperhatikan warna-warna yang berubah saat awan melintas, atau saat pagi sekali surya mulai menampakan diri atau ketika mentari tenggelam. Kolaborasi warna langit, cahaya, awan dan air….Indah!

Malamnya, giliran mati listrik dimulai magrib, usai shalat kami ‘camping’ lagi, mencari alternatif kegiatan daripada dalam rumah bergelap-gelap.

Api unggun, melihat langit, bintang-bintang yang malam ini tak begitu banyak, lalu makan nasi uduk, aku bilang pada anak-anak: “Pura-puranya kita camping ya!” Uqan bertanya tentang meteor, dan dengan bangga bercerita dia tahu dulu dinosaurus punah karena ada meteor jatuh, “Kasihan ya ma!” katanya. dia berdebat dengan Ufi, kata Ufi itu hanya salah satu teori. Hu Ufi maksain soal teori pada adiknya yang baru 5.5 tahun hehehe.. Aku tertawa saja. Naysa menari-nari bersama Papanya, begitu exciting melihat api unggun yg besar, diberi daun2 pisang kering oleh abang2nya yg bandel sambil loncat-loncat. Aku tiduran melihat langit…Kesukaan yg jarang bisa dilakukan. Berpikir, ah kita tinggal di bawah langit yang sama, milik Tuhan yang sama (menurutku) mengapa manusia saling membenci, saling memusnahkan? Ah aku dan kamu, juga tinggal di bawah langit yg sama bukan, namun tak pernah bertemu?

Akhirnya Nay dan Uqan tertidur…”Andai ada tenda,” kataku pada abang, “kita tidur di luar malam ini.” Sayangnya nggak ada tenda, kami kemudian pindah, jam 10-an, masih bergelap-gelap, inilah kota metro-pailitan Medan. Kata Lae Toga kota Lilin-politan hehe…

Setidaknya aku bisa menikmati langit.

Picture credist: from here
and here

Iklan

16 thoughts on “Pada Langit, siang n malam

  1. Hahaha…pasang tenda Bun, mengenang masa pacaran gak nih? *wink*….

  2. meiy, aku iri….

  3. Meiy, pasang tenda2an kan bisa dari sepre. Ikat dr ujung keujung pake tali terus kepohon.

    Aku juga suka mandang langit. Sampe skrg ya Meiy, klo pas mandang langit, aku suka ingat itu ada kumpulan bintang yg dr aku kecil ampe gede gini formasinya tetap sama.

  4. Ternyata, masih sering yaa listriknya padam.

    Ide berkemah di halaman depan, bagus jugaa…. maaauuu ikutan πŸ˜€

  5. beli sleeping bag aja, bu! πŸ™‚

  6. ..setidaknya,aku masih bisa menikmati langit.
    yap..setuju… langit..hhhmm…

  7. …and even though i know how very far apart we are, it helps to think we might be wishing on the same bright star…

    remember that song?

  8. wah…..senang nya bisa memanfaatkan moment mati lampu…..

    pasti bahagia bgt meiy…..

  9. bahagia sekali keluarga ini, ya 4jJ berikan contoh kepada keluarga lain agar bisa seperti uni ini!!!!

    rame, riuh, lengkap banget dehhh

  10. Kalau ikhlas sekaligus jeli, selalu saja ada hikmah dan terang, bahkan di tengah kesulitan dan kegelapan.
    Tapi takananyo, Ni nan baiak… yg mengenaskan kalilah nasib kita yg di kota ini… Hamparan langit pun menjadi sesuatu yang begitu langka dan berharga.
    Padahal dulu di kampung, maaf ya, buang air besar di kali pun aku ditemani oleh hamparan bintang gemilang…
    Nyos bleg… nyos bleg… dia pun berlalu tanpa terasa, seperti dedaunan yang ikut mengalir jernih ke ujung sungai… Aku tak perlu malu, walau di atasku rembulan mengintip di sela awan.
    Huehehehehe…. Siapa bilang, proses buang hajat tak bisa jadi sesuatu yang puitik!

  11. saya ngga gitu suka dengan langit biru… kenapa ya meiy… ???

  12. meiy, apa di langit malam itu bisa kulihat wajah seorang kakak yang hilang? aku tahu jawabannya, tp kok ya kutanyakan juga….

  13. langik kito samo, nasib indak yo nyuk

    gue pulkam kapatangko, suo jo ‘inyo’, masih keren (indak nyuik) πŸ˜€
    urs
    Meme

  14. kemping Meiy, asiik banged secara aku terakhir kemping waktu masih kuliah dulu, kali 10-15 thn yg lalu, jadi pengen kemping lageeeee

  15. cara yg pintar dan indah jeng… saya juga merindukan saat2 bisa memandang langit di malam hari yg terang, tanpa nyala lampu listrik, tanpa kompi, tanpa tv…

  16. wah….bagus jg tuh ide nya bundo….^_^ ikutan aah…. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s