Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Bu Guru Cahaya Bulan

11 Komentar

Dg fasilitas sederhana, anak2 tetap semangat belajar

Siang itu Bu Guru curhat kepadaku, “Saya sampai nggak bisa tidur mikirin anak-anak lo Mamanya Luthfi, eh anak-anaknya main-main aja. Gimana nggak khawatir, sekarang ujian soalnya sulit-sulit, kalau ada yang nggak lulus atau nilainya rendah sekali rasanya saya gagal.” Aku mendengarkan sambil sesekali menyemangati Bu Guru (cheerleader kalee) :D.

Aku kasihan juga melihat keprihatinan Bu Guru, tapi yang namanya anak-anak ya begitu, pikirannya cuma main aja kali ya. Anakku Ufi juga begitu, susaaah banget disuruh belajar, apalagi bikin PR. Makanya aku senang kalau anak-anak les di rumah, jadi Ufi sudah belajar. Jarang sekali bisa bertemu Bu Guru yang dua tahun ini mengajar les di rumah. Biasanya aku di kantor, syukur hari ini libur. Bu Guru minjam tempat, katanya untuk anak-anak yang tak mampu les di luaran atau privat yang lebih mahal, atau anak-anak yang memang berminat belajar bersamanya. Kebetulan rumahku cukup luas dan tidak banyak peralatan, aku memang minimalis–selain memang nggak suka rumah “semak” oleh peralatan, ya juga minim do-it, jadi tak banyak barang di rumah 😀

Menurutku Bu Guru Cahaya adalah contoh guru teladan, dari pengamatanku dan cerita anak-anak, beliau sangat disenangi murid-murid, kata Ufi karena Bu Guru memperhatikan satu persatu muridnya dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu Bu Guru mendatangi rumah murid kalau si murid bermasalah. Orangnya lembut, namun tak berarti dia tidak tegas. Untuk menjadi seorang guru yang baik tak mesti ditakuti murid toh. Biasanya kalau murid senang dengan gurunya, pelajaran apapun gampang masuk ke pikiran anak. Anak-anak belajar dalam keadaan “otak alpha” (menurut buku yang kubaca) seperti alam bawah sadar yang sangat rileks dan sepertinya dalam keadaan bermain saja. Padahal itulah situasi dan kondisi terbaik untuk belajar, bahkan untuk siapapun. Menurut pengalamanku sendiri sebagai murid, tak ada teori yang paling pas untuk menjadi guru yang baik, selain membuat anak-anak senang, yang otomatis memudahan mereka belajar. Biasanya guru yang ekspresiflah yang banyak disukai.

Guru adalah profesi yang sangat kuhormati, Ibu dan Papaku juga guru. Aku dengar (diacara apa ya semalam?), katanya sungguh tak pantas gaji guru sedikit, kalau dokter hanya mengobati fisik orang sakit, guru juga mengobati, membantu membentuk kepribadian dan membina jiwa dan intelektual anak. Sangat penting. Di negeri ini guru masih dianggap tak penting. Dari dulu tak dianggap oleh penguasa, masih banyak yang nasibnya menyedihkan, bahkan melarat…Dari cerita anakku saja, ada gurunya yang nyambi jadi tukang beca motor/mesin, ada yang jualan untuk menambah penghasilan. Mereka-mereka yang seperti inilah yang patut di tiru, mengapa mesti malu kalau mencari rezeki halal. Mestinya malu kalau korupsi. Mestinya pemerintah yang malu nasib guru di negeri ini mengenaskan. Berapa banyak anak-anak yang bisa disekolahkan gratis andai saja tikus-tikus koruptor tak menggerogoti negeri ini?

Menjadi guru adalah pilihan yang mulia, walau ada juga guru yang brengsek—terus terang saja—guru anakku dulu ada yang suka mengutipi uang denda dari anak-anak yang tidak membuat PR, kadang-kadang kutipan tak jelas lainnya dari uang jajan anak yang hanya sedikit. Waktu aku marah mendengarnya dan mau protes, anakku nangis-nangis agar aku jangan mengadu ke Kepsek, takut dimarahi guru ybs. Satu hari aku pergi juga, gagal menemui Kepsek karena beliau kelamaan datangnya sementara aku mau ngantor. Namun akhirnya masalah ini selesai sewaktu ada wali murid lain yang mengadu dan guru tersebut di tegur. Anakku senang sekali waktu gurunya diganti dengan Bu Cahaya Bulan yang memang bercahaya itu, tak hanya baik, beliau juga cantik lho. Tak hanya anak-anak yang ngefans sama Bu Guru, eh Papanya Ufi dulu sempat ngusulin gini; “Ma, tar anak kita namanya Cahaya Matahari aja, ya! Biar seirama dengan Cahaya Bulan, kaya Bu Guru Ufi!” suami bercanda sebelum Naysa lahir. Nah lho!

Pernah dulu aku juga berniat jadi guru, tapi bukan guru SD, SMP, atawa SMA, aku ikut tes jadi dosen dan tidak lulus! Lha niatnya aja udah nggak bagus, aku mau jadi dosen karena gajinya lumayan daripada guru yang kusebutkan tadi. Semestinya sebelum memutuskan untuk bekerja pada lahan yang melibatkan kepentingan orang lain seperti guru, dokter, pelayan masyarakat, dll, setiap orang berpikir, resikonya adalah dunia akhirat kalau tak sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, apalagi hanya mikirin uang saja. Namun ada banyak latar belakang mengapa orang bekerja pada lahan tertentu meskipun terpaksa, apalagi di negeri ini untuk makan sajapun susah, gimana rakyat bisa mikir ya?

**Selamat ujian untuk anak-anakku tersayang, semoga lulus dengan nilai yang baik semuanya!**

Iklan

11 thoughts on “Bu Guru Cahaya Bulan

  1. gak bisa nahan air mata melihat semangat mereka. itu dimana, meiy ?

    beda banget sama anaknya suamiku. untuk ke sekolah aja harus diantar, pdhl jaraknya dekat. untuk bikin PR harus dihadiahi macam2x, untuk dapat nilai bagus, minta mobil.

    kalo aku bunuh, berdosa gak ya ? grrrr

  2. weh, salam buat ibu guru Cahaya. tetap semangat meski dalam keterbatasan;

    anak2 memang punya alam imajinasinya sendiri, yg harus pintar2 disiasati untuk kita bisa masuk menjadi bagian keseharian mereka, dan lalu lebih mudah untuk memberi masukan.

    maju terus anak negri.

  3. Begitulah…, alasan mengapa guru itu dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa. Isn’t it, Ni?

  4. guru itu emang pahlawan tp cepat dilupakan

  5. beginilah dunia di sekitar kita ya meiy….profesi ini, sejalan dengan perkembangan jaman dan manusianya, sudah bukan lagi profesi yang bisa diandalkan kualitasnya, baik secara keilmuan ataupun mentalitasnya….semua sama saja jadinya…

  6. moga sukses ujiannya… dan lulus dengan nilai yang baik… amin….

    btw meiy.. gimana dengan nasib airmata guru,….?

  7. Oh, mbak Meiy…sama juga deh, aku anak guru juga makanya engga pernah ada niat jadi guru *nasibnya melas*….jadinya dulu pengamen malah hehehe…..
    Buat Bu Guru Cahaya, salut!!!

  8. kalau dokter hanya mengobati fisik orang sakit, guru juga mengobati, membantu membentuk kepribadian dan membina jiwa dan intelektual anak.

    dunia memang bukan tempat di mana keadilan selalu tegak ya…

    doa dan hormat untuk seluruh guru di nusantara…

  9. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.

    Perjuangan ibu Guru, memang benar2 tinggi… salam hormat utk beliau

  10. Rasanya udah gak perlu dikomentari lg Guru spt itu. Semoga selalu semangat dan ikhlas. Eh semoga dilapangkan jalan mengatasi keterbatasannya.

  11. *dian: gimana kalo km bunuh saja dg cintamu?

    *sori mas aroeng slmnya belum disampaikan lom sempet ketemu 🙂

    *iyo max iyo, wartawan kaya rohana kudus juga ya, max nyusul

    *biarlah dilupakan asal ikhlas ya Bu Guru Gita

    *perlu mikir dulu nih utk menganalisa komenmu ndang :)yes ur always ‘deep’

    *doakan saja ya mata, agar komunitas ini berhasil perjuangannya utk kebaikan guru

    *Lae Toga: guru is the best ya tiwi

    *Kata2 ini bukan kata2ku sendiri…”kalau dokter hanya…dst” denger dari acara di TV.
    Maksudnya agar pemerintah memperhatikan kesejhateraan guru sama dg profesional lainnya tanpa mengecilkan arti dokter yg juga profesi mulia…:) Takut aku jd menyakiti hati sdr2ku yg dr (oh no I lap u all 🙂

    *kiko murid teladan nih

    *Thank you doanya put…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s