Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Rumahku

1 Komentar

Mau pindahan blog malah mikir tentang rumah, orang-orang sibuk nulis tentang ipdn sialan itu, aku mendukung aja deh, bubarkan! Soalnya mikirin itu otakku jadi mendidih, hati jadi perih. Aku ikut petisi aja, dan berdoa atau ada yg lain yg bisa dilakukan just tell me…

Setelah dua kali pindah dari rumah sewaan, keluargaku menempati rumah yang dibangun ortuku pelan-pelan, ditempati sebelum rampung sepenuhnya. Inilah yang kuanggap rumahku yang pertama — tempat kebahagiaan bersama keluarga kecilku, Ibu, Papa dan dua adikku, tempat pulang yang takkan pernah kulupa di kota kecil kami, di kaki gunung Merapi-Singgalang, kota kecil sejuk nan indah, Padang Panjang tercinta. Rumah penuh cinta dan halaman penuh bunga. Walaupun aku suka jalan-jalan, namun aku juga betah di rumah, karena ortu, alhamdulillah, berhasil menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan damai. Dulu aku selalu betah berjam-jam di kamar kalau tak ada tugas rumah atau sekolah yang mesti di kerjakan, tak ada teman yang ngajak jalan (ato bolos), sendirian dengar musik, bermimpi (bahasa kerennya mikir loh), menulis, atau melukis…atau duduk saja di pinggir jendela kamar, memandangi bunga-bunga liar di bawah kamarku (lantai 2), di seberang kali kecil jernih, duh rindu indahnya…atau malam-malam begadang mendengar tetanggaku mahasiswa Akademi Seni Karawitan pada bermusik-ria, duh nikmatnya…saluang, bansi pitunang, rebab, juga musik modern, gitar, biola dsb. Suara mereka banyak yang bagus bagus merdu deh.

Lalu rumah berikutnya adalah rumah yang sekarang ditempati ortuku, di Kota Padang yang panas, yang pada awalnya tidak aku sukai, juga kedua adikku…Begitulah kalau orang gunung turun, pasti nggak betah di daerah panas, dari sinilah hobiku mandi dimulai, aku bisa mandi 2-5 kali sehari, benar-benar nggak tahan panas. Lalu, kemudian aku mengenal laut lebih dekat, sering jalan-jalan ke desa nelayan, melihat biru laut, ombak. Langit bewarna warni kala senja, camar putih, dan aku jatuh cinta! Aku mencintai laut sama dengan aku mencintai gunung. Lalu aku sering ke laut sendirian, apalagi kalau lagi bete, bersepeda (rumahku hanya 1 km dari laut), atau sekedar ngobrol dengan nelayan, rasanya senang banget. Kadang bikin sketsa (sok pinter melukis, padahal lukisannya sama saja dengan lukisan anak2 kali :D). Di Padang aku pernah ‘punya’ rumah sendiri, yang diberikan, katakanlah saudara yang perhatian padaku, eh kami, namun yang aku dan keluarga tak percayai sepenuhnya bahwa itu memang diberikan, karena kami tahu betul sifat sodara ini, kalau beliau sudah tak mood lagi, pasti rumahnya diambil. Namun aku sempat tinggal di rumah ini beberapa tahun (sering sendirian) dan menghabiskan waktu berjam-jam menulis, atau dengar musik, asyik sendirian dan tentunya senang karena bisa bebas mo ngapain aja (nah lho!), nggak ding, aku sering kumpul-kumpul di rumahku ini dengan teman2 se-gang, ketawa ketiwi, sampai kemudian setelah beberapa tahun kutinggalkan dan tak ada yang menempati, lalu benar-benar di ambil oleh yang punya, emang sih waktu itu dia udah ‘ga mood’ pada kami.

Sempat mengkredit rumah sendiri yang akhirnya dijual lagi sebab hidupku yg nomaden saat bekerja dan menikah. Aku pindah-pindah kota setidaknya sekali dua tahun, di sekitaran Sumbar dan Jakarta yang akhirnya kutinggalkan berdua suami karena tidak betah, sekali orang kampung tetap kampung kali ya, aku tak tahan dengan sesaknya Jakarta, gaya hidup, pekerjaan yang membuatku dan suami berasa seperti robot, nah untuk bertemu saja susah, apa bahagianya ya? Kapan bercintanya hehehe…Akhirnya kami memutuskan pulang kampuang, namun nasib tak menentukan aku hidup di kampung. Sewaktu sowan ke mertua di Aceh dan mengenal kampung suamiku, suami ditawari kerja di sana, jadilah aku orang Aceh…dan menganggap Aceh sebagai kampung halaman keduaku. Disini aku banyak belajar, dari awalnya aku tak suka, nah akhirnya ‘kualat’ jatuh cinta pada Aceh. Pertama tinggal di rumah mertu, lalu ngontrak, kemudian punya impian tinggal di pondok kecil abang (hubby) di pinggir pantai, dan sementara nabung sampai punya uang untuk renovasi, kami sewa rumah murah di dekat sungai dan pantai, dimana kami bisa menikmati panorama indah kala pagi dan petang, matahari terbit dan terbenam, burung-burung bangau…yang lalu…hanyut di bawa tsunami! Hanyut bersama impian tentang rumah yang indah di pinggir laut, yang bisa dilihat dari serambi depan pondok yang rencananya akan kami tempati bulan Januari 2005. Namun Allah berkehendak lain, sewaktu liburan di Sabang, rumah sewaan dan pondok kami hilang. 26 Desember 2004 yang tak kan pernah terlupakan.

Rumah bagiku kadang berupa keajaiban, ada, lalu tak ada, atau hilang. Dan sekarang, memulai hidup dari nol lagi sejak tsunami di Medan, aku dan suami menempati rumah sewaan yang lumayan besar dan halaman yang luas (walau sudah agak tua), yang membuat orang-orang berpikir aku orang kaya, hahaha….padahal paspas-an saja, sebab untuk mengaku miskin, aku malu pada Tuhan, masih banyak rakyat endonesya (minjem bahasa MT) yang masih melarat, enggak sanggup beli ‘sekedar’ beras, penguasa foya-foya kebanjiran fasilitas. Aku dan suami bersyukur saja pada Allah, Dia dengan Kasihnya selalu memberi kemudah-kemudahan pada kami. Aku hanya perlu menyewa rumah itu sepertiga harga, Ibu yang punya rumah sangat sayang pada abang (Naaah…) Sudah dianggap keluarga sendiri. Dan kami pun membagi rumah itu dengan membebaskan anak-anak tetangga bermain di halaman, kebanyakan anak-anak kota yang telah kehilangan lahan bermain, juga menyediakan fasilitas sederhana untuk Bu Guru Ufi mengajar les anak-anak muridnya yang tidak mampu membayar les diluaran yang mahal. Begitulah, saat ini bagiku rumah adalah tempat pulang, di negeri manapun dia berada, rumah sendiri atau bukan yang penting adalah tempat yang nyaman, bisa membuat rindu untuk cepat-cepat pulang dan bertemu cintaku, sekedar minum teh, atau kopi Aceh yang nikmat bersama di kebun belakang bersama abang dan anak-anakku…sambil menatap bunga-bunga yang mekar, atau matahari yang jatuh di atas daun-daun pohon menanti senja tiba…

Iklan

One thought on “Rumahku

  1. Lho jadi bingung. Blognya rencananya dua-duanya aktif atau pindah jadi ini aja???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s