Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Perkenalkan: namaku orangutan…

Tinggalkan komentar

Aku adalah salah satu orang yang nggak bakal tersinggung kalau dipanggil orang utan. Toh kenyataannya aku memang hidup dalam komunitas yang menyukai dunia hijau alias hutan dan upaya penyelamatannya. Dalam sekop yang lebih luas, penyelamatan alam dan lingkungan sekitar. Sepertinya pekerjaan yang mengada-ada ya? Kenyataannya hutan tetap hancur, walaupun para aktivis capek berteriak-teriak, penebangan kayu ilegal tetap terjadi, penjualan satwa liar, pembakaran hutan, pengeksploitasian gunung, perut bumi, laut…Bakal panjang sekali daftar yang membuat orang bisa mencibir, bahwa tak banyak yang telah dilakukan para aktivis untuk menyetop penghancuran itu. Tapi apa yang terjadi jika tak ada yang peduli terhadap penyelamatan lingkungan?

Pendapat seperti di atas sering hadir di benakku dulu, saat masih bekerja di perusahaan profit dengan motivasi apalagi, kalau bukan uang? Aku cukup sinis terhadap orang-orang LSM atau organisasi baik itu konservasi, humanisme, dan sebagainya. Aku sering mengganggap mereka tukang ngomong, dan pandai memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan uang, padahal aku tak pernah tahu detailnya pekerjaan mereka. Namun kemudian, – bukan hendak membela aktivis – setelah bergabung dengan mereka, (dengan catatan aku tak peduli apakah aku termasuk aktivis atau bukan), aku benar-benar menemukan dunia yang menyenangkan. Dunia orang-orang yang penuh idealisme, ketulusan bekerja menurut hati nurani, walau untuk itu mereka sering harus menghadapi resiko ejekan dari orang, dan resiko dari alam sendiri, walau bukan berarti tak semuanya ideal – namanya juga dunia – selalu ada yang jahat, yang curang, yang licik, tapi aku alami sembilan puluhan persen dari teman-teman organisasiku adalah orang-orang idealis, mungkin karena pekerjaan ini mereka pilih karena kepeduliannya. Aku betah di komunitas hijau, dunia orang–orang yang berani tampil apa adanya, orang yang tak menilai orang lain dari penampilannya seperti layaknya istilah yang sedang trend di kota-kota besar; “Metroseksual”.

Di dunia hijau ini aku merasa diterima, tak harus memaksakan diri berkompromi untuk memakai jas atau rok mini seperti dulu bekerja di perusahaan profit, padahal sungguh mati aku tak suka. Tak mesti “jaim” alias jaga image. Aku bisa bebas ngejins ke kantor, walau tetap harus sopan. Entah apa hubungannya pekerjaan kantor semisal Sekretaris dengan pakaian yang harus seksi, rok harus di atas lutut, harus memakai jas atau blazer di udara Indonesiaku yang tropis ini, lalu harus memasang AC…Padahal AC cukup menguras energi listrik dan mengotori ozon. Kalau orang Barat sana memang pantas memakai jas dan dasi karena negeri mereka mayoritas musimnya memang dingin. Namun bukan berarti aku anti AC juga, karena kalau di kota besar yang panas, berpolusi dan sangat berdebu, AC masih bisa dimengerti. Tapi seperti yang telah dimulai orang-orang pencinta alam, mereka memakai produk-produk yang ramah lingkungan atau berpikir bagaimana memanfaatkan ruangan agar bisa dialiri udara bersih, bagi yang beruntung tinggal di lingkungan yang masih asri, bisa membuat jendela yang besar untuk sirkulasi udara, dsb. Impianku dan beberapa teman adalah bisa bekerja di kebun dibawah Gazebo atau pondok sederhana di belakang kantor, sesekali, sekalian untuk menghemat energi, juga untuk menimbulkan perasaan lebih nyaman. Menurutku, di zaman yang semakin modern ini, trend bekerja harus di kantor dengan sikap kaku bukan lagi pilihan favorit, sebab banyak sekali orang–orang yang bekerja mobile yang sangat produktif.

Lalu apa hubungan semua ini dengan hutan dan aku sebagai orangutan ya? Ya harus dihubung-hubungkan…yaitu aku mengajak agar saudara-saudaraku agar lebih perhatian terhadap lingkungan, walau sedikit, tak usah muluk-muluk. Kerjakanlah semaksimal kemampuan kita. Hobi menanam pohon, menyayangi fauna, tapi bukan dengan mengurung atau memamerkan bulu mereka di rumah mewah, namum dengan membiarkan mereka bebas di alam, burung indah bernyanyi di pohon-pohon hutan, bukan di sangkar.

Kita sering menyalahkan pemerintah, namun tak menyadari juga kesalahan sendiri. Misalnya saja soal sampah, kalau setiap individu mempunyai kesadaran untuk tak mengotori lingkungan dengan satu bungkus permen saja, atau satu puntung rokok, berapa bungkus permen/puntung sehari yang bisa diselamatkan dari perusakan lingkungan? Namun tentu saja yang diharapkan lebih dari itu, adalah kesadaran untuk belajar, mencari tahu, serta menikmati aktifitas menyelamatkan alam dan lingkungan. Kita bisa mengajarkan dan membangkitkan penyadartahuan pada masyarakat, terutama anak-anak, dan remaja yang akan mewarisi negeri ini. Dan yang terpenting menghimbau para pembuat keputusan alias yang berkuasa menentukan akan diapakan suatu areal? Anda tahu, nasib seekor kumbang di hutanpun ditentukan oleh kekuasaan.

Bersambung ke: Menikmati aktifitas penyelamatan alam dan lingkungan

Medan, 4 September 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s