Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

Suatu senja di ujung Sumatera.

Tinggalkan komentar

Terapi Alam, terapi senyum

Pelajaran hidup kadang membuat kita lelah, menderita, ingin marah, resah, gundah gulana…Sore ini aku membawa bermacam rasa itu pada senja, mencoba mengadu pada laut, buih, ombak, keluasan samudera, pada matahari yang hampir terbenam, pada langit biru tak berbatas, burung-burung laut yang beterbangan. Hal yang selalu aku lakukan kalau samsara melanda jiwa, selalu sejak aku remaja sampai sekarang. Aku selalu mengadu pada alam, pada laut, pada danau, kadang berbincang pada ngarai…hijau pepohonan di bukit, bahkan pada kupu-kupu dan semut-semut.

Senja ini, kubiarkan sensasi hangat pasir merambati tubuh saat rebah di pantai, berbaring menatap langit biru, awan putih yang berarak, angin yang lembut menerpa wajah. Hanyut aku dalam ‘semadi’, menari bersama keindahan disekelilingku. Lama-lama aku “alpha”, mungkin “tetha”…melebur bersama matahari, komposisi warna langit yang berubah setiap detik. Merah jingga, biru, abu-abu, ungu. Hanyut aku dalam warna-warna…Ya Tuhan…yang indah itu sebenarnya Engkau…warna itu sebenarnya Engkau…bukankah Engkau yang ada di balik keindahan? Engkaulah sesungguhnya warna, Engkau sesungguhnya elok, Engkau cahaya yang menyinari jiwa semesta. Lalu mengapa marah pada cobaMu, sesungguhnya karena cinta kau coba makhlukMu bukan? Ya Tuhan, serasa menyegar seluruh selku, darahku mengalir lagi dengan kegairahan menyadari rahmatMu, bahkan saat kupejamkan mata, keindahan ini tetap nampak, mengaliriku utuh di jiwa dan raga. Menyembuhkan jiwa yang terluka. Laluku coba lebih mendekatiNya lagi, saat matahari telah turun keperaduan, aku berwudhu di air laut, shalat di pantai, mencari lebih dalam cintaNYa. Terima kasih Allah…

Aku ingin berbagi pengalamanku senja kemaren karena aku betul-betul bahagia bisa melepaskan sesak dada karena kehidupan, setelah mengadu pada alam, yang sesungguhnya padaNya juga. Lalu mengapa tak kubagi ‘terapi’ ini kepada siapa yang mau membaca dan merasa setuju.

Dalam menghadapi ‘kepenatan’ menghadapi proses kehidupan, adakalanya kita merasa resah, gundah gulana, tidak bahagia, dsb. Dari pengalamanku selalu kutemui alam adalah obat yang mujarab untuk semuanya. Lalu mengapa alam? Sebab alam begitu indah, begitu mempesona dan menenangkan batin. Memang ada kalanya alam ‘murka’, tapi sebenarnya alam tak pernah murka, semua terjadi karena sunatullah, dan bila kita melanggar sunatullah, akibatnya adalah hukum Allah sendiri, misalnya nih, jika hutan habis ditebang karena keserakahan manusia…ya sudah pastilah akan mendatangkan bencana, banjir, kekeringan, tanah longsor, dsb. Juga, kala kita ingin menantang alam, dengan sok gagah-gagah mendaki gunung, atau berarung –jeram tanpa perhitungan dan latihan yang matang terlebih dahulu…bisakah kita menyalahkan alam yang ganas kalau terjadi kecelakaan? Memang ada yang namanya takdir sih, tapi itu diluar kuasa manusia. Apalagi kalau melakukan semua itu tanpa tahu maknanya untuk apa, hanya sekedar gagah-gagahan, lihatlah aku ini pencinta alam! Sementara, kelakuan kita tak mencerminkan sedikitpun tentang cinta alam, bahkan dari hal kecil-kecil, membuang sampah sembarangan, mengurung hewan langka demi gengsi dan prestise atau kesenangan. Aku pernah melihat seekor cerpelai yang dikurung dikandang yang berputar, jadi setiap dia bergerak dia akan berputar-putar. Aku nggak habis fikir kenapa orang bisa tertawa-tawa melihat binatang yang merana itu. Walaupun cerpelai itu dianggap hama dan bukan hewan langka, dia tetap makhluk Tuhan bukan? Benar-benar gak berperi kebinatangan? (apalagi perikemanusiaan ya!). Aku marah, kesal ingin melakukan sesuatu, sayangnya waktu itu aku sedang dalam perjalanan, jadi mobilnya hanya berhenti sesaat, di waktu lain pernah juga sih aku nekat memarahi atau menceramahi atau dengan lebih halus mencoba ‘merayu’ orang-orang yang kejam terhadap hewan, walau kebanyakan mereka nggak peduli. Setidaknya aku berusaha bukan?

Lalu bagaimana kalau bagi saudaraku yang jauh dari alam, bisa melakukan terapi alam, hidup susah ditengah-tengah ganasnya metropolitan seperti Jakarta, mau piknik ke luar kota nggak punya uang. Jawabanku sederhana, cobalah mencintai apa yang kita miliki, mensyukuri walau sekecil apapun. Satu pot bunga mawarpun bisa membuat bahagia, jika kau tanam, sirami, sayangi, lalu saat dia mekar, kau pandangilah. Kau akan merasakan indahnya mawar, wanginya, dan lebih bagus lagi jika kau bisa mendalami lebih jauh, merasakan makna apa dibalik tanaman, merasakan cinta penciptaNya, penciptamu juga. Lalu kalau untuk memelihara pohonpun kau tidak punya uang apalagi waktu, karena kau harus mencari sesuap nasi, bagaimana kau bisa bahagia? Tenang teman, kau masih punya senyum. Senyumlah kepada orang lain, jangan cepat berprasangka buruk, karena tekanan hidup di kota besar kadang-kadang bikin orang cepat stress dan emosian. So just smile. Senyum adalah terapi yang hebat untuk hatimu. Cobalah. Ngomong memang gampang ya, tapi setidaknya, kita bisa mencoba bukan?

Ujong Batee-Banda Aceh, 26-27 Sepember ’04..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s