Alam Takambang Jadi Guru

Mari berguru pada alam yang terhampar…

GELOMBANG YANG MENERJANG

3 Komentar

(Catatan Perjalanan)Satu

Sabang, 26 Desember 2004

Ombak menerjang

meluluhlantakkan tepian

aku terseret lautan erangan

jerit panik, lolong kesakitan

luka raga kami, luka jiwa

gelombang apakah yang menerpa

ataukah Tuhan murka?

Dua

Pelabuhan Balohan Sabang – Pelabuhan Krueng Raya Banda Aceh

29 Desember

Laut tenang

seolah tak pernah

menelan manusia, benda-benda

tak peduli tangis mereka yang kehilangan

Mendekati pelabuhan

samudera ternoda

bangkai-bangkai rumah, hewan

dan orang

mimpikah aku di siang terang?

Tiga

Krueng Raya – Darussalam

Duka tersangkut

pada puing-puing hanyut

kekuatan apakah ini

yang memporak-porandakan negeri?

Serasa jantung berhenti berdenyut

mumang* kepala

gamang jiwa

Aku tersentak

Aku terhenyak

di puncak ketakjuban pada KehendakNYa

pada ketakutan akan murkaNya

ternyata kita bukan apa-apa!

Mungkinkah aku tersesat di neraka?

tubuh-tubuh merana dimana-mana

suarapun tersekat di tenggorokan

tak hendak berkata apa, hanya menggigit tangis

menelan isak. sesak

sesak aku Tuhan!

hanya luka, luka nestapa

lara aku, Tuhan!

Tubuh-tubuh itu,

begitu mengiba, luluh, melepuh

desa-desa rata. kota rata

mati. dan sunyi. dan perih

anginpun tak sudi berhembus

mentari semakin terik menciutkan nyali

Di desa-desa mati antara Krueng Raya – Darussalam

begitu banyak yang terjadi, teralami

batin menolak, hati berontak

kenyatan menyentak

Hadapi saja

ini kehendakNya.

Apalah artinya rumah yang terseret arus ke samudera

dibanding nyawa anak-anak kita

dan senyum tawa mereka

(sebab mereka belum mengerti apa yang terjadi)

Namun apakah kita mengerti?

Empat

Doa (untuk Acehku)

Tuhan aku tak mengerti

Tuhan aku tak bermimpi

ini nyata yang dera, dalam dan luka

tak terperi

Mengapa mesti Acehku lagi?

Membaca KasihMu

pada bangkai-bangkai kapal, truk tronton, beton-beton

kucoba-kucoba lagi Ya Rahim!

membaca sayangMu, Ya Rahman,

pada tubuh-tubuh terlemparkan

makna apa yang hendak kau sampaikan

lewat cintaMu?

sebab cintaMu dalam kadang tak terselam

cintaMu suci tak terpahami

leburkanlah, leburkanlah

jiwa-jiwa saudaraku yang diterbangkan gelombang

ke rumahMu

lebur bersama cintaMu.

Meiy, Medan 1-15 January 2005

Iklan

3 thoughts on “GELOMBANG YANG MENERJANG

  1. tulisanyo keren

    Jejak
    biarkan aku merindu ” jejak ”
    goresan tapak tapak kata di hamparan pasir yang terpijak

    masihkah seindah dulu?
    ketika kaki belum tertusuk duri duri perjalanan
    ketika belum ada luka yang teteskan kedukaan
    ketika belum ada jeruji yang halangi langkah kaki..

    kini
    biarkan kurindu jejak
    meski dengan hati yang tlah terlalu lama retak…….

  2. makasih ur puisinya. rancak bana 🙂

  3. Ping-balik: Terkoyak « Alam Takambang Jadi Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s