Diposkan dalam Puisi cinta, Soliloqui pada September 1, 2009 | 16 Komentar »
Dahaga aku ya Rahim
dalam kembara
mendamba telaga
penyejuk jiwa
Semakin mendekat
rindu bertambah lekat
Hausku ya ‘Aliim
akan segala ingin tahu
Belum terpuaskan
Mungkin takkan berakhir
kelana
mencari cahaya
sampai waktunya
Dekaplah seluruhku
ruh jiwa
raga logika
nafsu menderu.
RuangBiru, 1 September 2009
[...]
Untuk mentranslate bahasa
Diposkan dalam Soliloqui pada Maret 6, 2009 | 10 Komentar »
ketika udara riuh bertuba
ketika gemuruh jiwa menerpa
meski hati luruh
ku pilih menjauh
tak guna mengeluh
semua kata t’lah hampa
tak bermakna
Untuk mentranslate bahasa
Diposkan dalam Soliloqui pada Februari 12, 2009 | 17 Komentar »
Aku boleh tergeer-geer ketika ditanya seorang Ibu-ibu baru-baru ini: “Mau kemana dik? mau camping ya? kuliah dimana?” waktu melihat aku bawa ransel, nunggu teman mau bareng ke lapangan di terminal Pinang Baris.
Hihi aku senyum- senyum aja, kegeeran dikira masih kuliah, soalnya sudah jarang yang menyangka begitu, kalau disangka belum menikah cukup sering sih. Mungkin dia [...]
Untuk mentranslate bahasa
Diposkan dalam Elegi (sajak), Soliloqui pada Desember 15, 2008 | 22 Komentar »
Satu
seribu selamat tinggal telah kuucap, terperangkap hampa. aku dikalahkan waktu. pada bayang-bayang gelap, kau menetap.
aku meradang, mencoba membuang kenang!
kini aku sampai pada batas. merenung. mengapa meragu, mengapa tak tinggalkan saja segala dusta. mengapa tak kejar cahaya, dan suci cinta digenggaman
waktu telah berkata tentang segala. batin teriak, jiwa menjerit tak bersuara. takkan bergema ke [...]
Untuk mentranslate bahasa
Diposkan dalam Soliloqui pada November 5, 2008 | 9 Komentar »
Kabut memagut pucuk daun
kelabu
serupa sketsa di sabak mata
memilu
lengang di kebun siang ini
kuikuti tari ilalang berdesau
dicumbu angin
dingin.
kupu-kupu putih
sendiri
menyepi.
tak mengapa
aku telah terbiasa
pada tak ada
mungkin bisa memakna ada.
Nov. 4, 2008
Keboenku
Untuk mentranslate bahasa