Aku tersentak
terdiam
Mendengar ranah terkoyak
bumi Minang retak
Hatiku teriris
seperti ribuan saudara yang terluka, menangis
menderita dan trauma
Berdetak jantung
limbung
Tapi diam tak mampu berkata
serupa setiap musibah melanda
Tepekur
tafakur
Menghentikan isak segera
sebab lebih berguna jika berupaya dan berdoa
Ya Rahim, kasihi saudara ku yang tersiksa, yang terluka dan belum diselamatkan
terima mereka yang telah pergi dalam kasihMu
***Aku selalu tak mampu menulis spontan ketika musibah melanda, [...]
Arsip untuk ‘Elegi (sajak)’ Kategori
Terkoyak
Diposkan dalam Elegi (sajak) pada Oktober 2, 2009 | 17 Komentar »
Kutukar
Diposkan dalam Elegi (sajak) pada Juni 17, 2009 | 4 Komentar »
Apa yang kau tahu tentang sesakku
retak hati
luka jiwa
hanya terbelenggu dendam?
Kutukar setiap jerit
sakit menjejak jiwa
dengan namaNya
Pada malam
hening membenam
Semoga bertemu beningNya
Semoga lumat segala debu
berlalu segala sendu
merapal siksa menjadi doa, kalian segala cinta
tak kubiarkan hati membatu
Kiralah aku mendendam pilu
tak dia berarti bagiku hanya debu
hanya karenamu
biar kutukar dera
dengan doa
Kubaca
Diposkan dalam Elegi (sajak) pada Juni 15, 2009 | 3 Komentar »
masih terasa sisa sabak mata
semalam
jejak rasa
menjadi kutukan
biarlah kuredam
belajar tertawa pada lara
dan cinta yang kau makna menjadi dusta
Juni
Diposkan dalam Elegi (sajak) pada Juni 15, 2009 | 2 Komentar »
1.
Padamu melati pernah mekar
kini terbakar sangsi
matahari
Melati
pernah semi
lalu gugur
ke bumi
2.
Tertawalah
pada sakit
pada jerit batin
memilin
bahagialah
bukankah ini kebodohanku
pilihan
sendiri
tertawakan
tetes perih
kisah yang
sudah.
RumahCinta, 14 Juni 2009–11.35 pm
Pelacur kata
Diposkan dalam Catatan bete, Elegi (sajak) pada Mei 26, 2009 | 7 Komentar »
kau keluarkan mantera
oh hanya tebar pesona
kata-kata bermakna
perempuan terjerat cinta
ah biasa….
aku kan telaga, katamu
pelepas dahaga wanita!
janda, remaja tak beda
aku penyelamat manusia,
pengembara


