pada malam merangkak pekat
gadis kecil berpita kuning
memandangku lekat
bersiap ngenjrang genjreng
gitar mainan
suara cempreng melantunkan nyanyian
malam begini
bocah masih berkeliaran
menghirup racun timbal
polusi kendaraan
berbaur aneka kehidupan malamĀ jalanan
perempuan muda berbedak tebal
bersiap menjual cinta
matanya liar, mencari lelaki nakal
gelisah di pinggir aspal
gadis kecil berkaos kuning
sedikit dekil
memainkan gitar di tangan
genjang genjreng suara serak
parau tak enak di dengar
namun murni senyumnya
mengiris hati
bening hati bocah
menjeritkan nasib
di roman mukanya
kulihat sketsa negeri
anak-anak kurus kurang gizi
terlantar bertelanjang kaki
berlari mengejar mimpi.
Antara Madani dan Ayahanda, 25 May 2010
Foto: Sebagian Kota Medan–nyuri punya adikku si Kitting (Ron pinjam yo!)




miris ya jika melihat semua itu di jalanan.. bukan hanya di kota-kota besar saja tapi di kota kecil juga sudah banyak sekali anak kecil mengamen di perempatan2 jalan, ibu2 mengemis sembari menggendong bayi. dan mereka bagian dqari Indonesia yang gemah ripah loh jinawi..
bagus mbak tulisannya, humanis..
salam
Makasih komen yg rancak Ne, salam kenal ya…begitulah negeri kita sikonnya sekarang ya sis, miris, tp aku optimis kok, kita bisa lakukan hal kecil dulu, hal besar kalau mampu, berbuat buat Ibu pertiwi
nyanyian jalanan terdengar sumbang
tapi begitulah kenyataannya
negeri yang meLimpah ruah dengan kekayaan tapi tak bisa dinimati oleh anak negeri
miris…