Satu;
Hari ini
catatan cinta kueja tadi malam, bunda
ketika terdampar pada resah
tanahku
seolah jerit bumi berteriak
minta tolong pada penghuninya
yang tak peduli
tetap tergesa-gesa
kesana kemari memperkosa dirimu yang semakin tua
meratakan hutan jadi tanah kering
menuangkan banjir, menyisakan kerontang bergantian
asap kebakaran racun timbal tak cukup mencemari
bertambah intensitas hari ke hari
mereka menodai lautmu, sungaimu dengan racun kimia
membotaki gunung-gunung
melobangi tubuhmu seperti bopeng-bopeng bulan
mengerikan!
(sungguh aku tak ingin jadi mereka!)
mereka
memperebutkan apa saja dengan loba
tamak menginjak-injak yang kalah
si miskin, si melarat,
sengsara
mengais-ngais sisa remah
disudut-sudut kota yang sesak
berhimpitan berbagi ruang sempit
di desa petani-petani kehilangan sawah
menangis kalah
ada anak yang mati kelaparan, kata media
“hanya sebuah kabar, tak perlulah dibesar-besarkan,”
kata orang itu, entah siapa
datang dalam mimpiku menjijikkan
melubangi lumbung pertiwi tercabik-cabik menyeramkan
aku terpelanting
pada realita
pening
kuheningkan hati mencari jawab
belum bisa banyak berbuat
masih terbatas mencoba
berbagi yang tak berlimpah,
dan harapan, Tuhan pasti cukupkan untuk mereka
tak sanggup kusaksikan bening mata bocah menangis
berkaca-kaca menahan lapar.
Dua;
Dulu
menelusuri jejak cinta padamu pertiwi
apakah cinta mesti menuangkan darahku dalam perang?
aku hanya punya perang melawan diri
sejak dini
walau hanya bertahan tak menyontek waktu ujian kala remaja
biarlah nilaiku jeblok
tapi aku tak goblok, bunda
kubaca jejakku pada cinta:
dimana cinta diuji?
ketika kau mampu menolak amplop tebal dihadapanmu
mencoba membeli kejujuran
padahal kebutuhanmu menderu-deru
kapan kesetiaan terbukti?
ketika nafsu memburu-buru
ingin memiliki yang bukan milikmu
kau memilih siksa.
ketika perawan rela menukar cinta demi sekedar bedak lipstik
menjual cinta pada bandot tua demi materi
kau memilih menderita.
kubaca lagi jejak dimana cinta pernah tertoreh
di Aceh, di Aceh!
kutahankan cinta di tengah ledakan bom, hujan peluru menderu-deru
ketakutan, darah dan trauma,
takkan kutinggalkan bunda pertiwi
mendesah di tiap doa, janganlah negeriku terpecah-pecah
damai-damailah, jangan hanya dalam mimpi
sampai aku lelah
kehilangan kata. doa terhenti
dalam hening mengeja cintaNya
lalu ombak yang menghempas, mencipta neraka di hadapanku
terpana membaca kehendakNya
kucoba lagi menghayati cinta
tetap kucinta kau
sebab kurasakan tangismu bunda
perih, perih menyayat hati
dikhianati anak-anak sendiri
kekasih jiwa.
Tiga;
Di hati, sekarang
meski terbatas di pikir dan zikir
kueja namamu dalam kasihNya
semoga tetap bertahan
dari perpecahan oleh tangan-tangan
gergasi, siluman, manusia
yang ingin membelah negeri
yang ingin kau tak ada lagi
menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
semoga kau bertahan
sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
meski pahit menggigit hati
Ruang Biru, 24 April 2008




perih dan lirih meiy. membacanya jadi merinding plus marah bercampur aduk. semoga ada kesadaran bagi mereka yg suka berbuat aniaya dan kerusakan
mikirin negeri emang bikin perih yo uda
beehh.. dalam sekali.. seakan2 saya yang merasa teraniaya di ujung indonesia sana…. hrrrr
teraniaya mas anang hehe, berarti anang rakyat yah
aku juga cinta indonesia. eh ini ngomongin itu bukan?
iya. aku juga cinta venus
bener banget ukthi, cinta kita hanya untuk pertiwi , maksudnya tanah air
jadi ingat ma postingan terbaru saya
tanah air tercinta yg merana
Yeah … Pahit mengigit hati
hiks..hiks…
Hmm..
*keren*
bukan kere hehe
Hiks.
Meiy, aku meracuni negerin ini dengan kantong plastik…
semua pasti punya ‘dosa’ yo wie, hanya gimana kita menguranginya sebelum berhenti
dosaku: sering mandi ngabisin aer
Bulan Mei bulan perjuangan. May Day, Hardiknas, Harkitnas, Reformasi. Entah apakah semua itu masih ada artinya …
Mahasiswa masih bertanya-tanya, siapa yang pantas jadi musuh bersama agar gerakan ‘66 dan ‘98 terulang.
DPR masih panik. Mereka dikerjain KPK.
Pemerintah? Beberapa waktu lalu kayaknya pres dan wapres jalan-jalan keliling Indonesia.
—
Ni Meiy. Waktu SMA pernah guru PPKn nanya “apakah kalian bangga dengan Indonesia?”
Trus awak mikir. Presidennya aja setengah buta dan setengah sinting (G** D**). Emasnya disedot Freeport, minyaknya disasok Caltex. Apa yang mau dibanggakan? “Saya tidak bangga, bu …” jawab awak saat itu. Si ibu guru tak bisa menjawab ketika awak kemukakan alasannya.
Sampai kini berat untuk bilang bangga.
Ah … Tapi tetap setuju sama ini:
meski terbatas di pikir dan zikir
kueja namamu dalam kasihNya
semoga tetap bertahan
dari perpecahan oleh tangan-tangan
gergasi, siluman, manusia
yang ingin membelah negeri
yang ingin kau tak ada lagi
menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
semoga kau bertahan
sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
meski pahit menggigit hati
bagi uni bangga tak bangga bukan intinya, yg jelas kita lahir dan hidup ditanah ini, bumi yg dititipkan Allah pd bangsa yg kini bernama Indonesia. ke depannya entahlah…
kalau kita tidak bangga, mestinya ada pertanyaan seperti ed tadi. akan kembali menikam diri sendiri, mengapa? mengapa, bukankah kita juga bagian dari hal memalukan tadi, kalau tak ingin, jalan satu2nya bagi uni adalah merubah cara pandang, usaha berbuat yg positif, melihat dari sisi baik saja. Bumi sendiri/alam tak pernah bersalah….
ck ck ck ck,..mantap uni,….kereeennnn,…saya mendukung,..klu bukan kita siapa lagi
yess! iyo bana avar…